| Operasi terminal, browsing, dan penggunaan tool jangka panjang | GPT-5.5 | LLM Stats menempatkan GPT-5.5 lebih kuat pada Terminal-Bench 2.0, BrowseComp, OSWorld-Verified, dan CyberGym. |
| Open-weight dengan fokus kecepatan dan rasio harga-kinerja | Kimi K2.6 | Artificial Analysis mencatat Kimi K2.6 dengan Intelligence 54, konteks 256k, kolom Price $1,7, dan 112 tokens/s. |
Untuk dua model tertutup kelas atas ini, pemenangnya berganti-ganti tergantung benchmark. Dalam angka yang dilaporkan Mashable, Claude Opus 4.7 unggul di SWE-Bench Pro dan GPQA Diamond, sementara GPT-5.5 unggul di Terminal-Bench 2.0, Humanity’s Last Exam, BrowseComp, dan ARC-AGI-1 Verified.
| Benchmark | GPT-5.5 | Claude Opus 4.7 | Unggul menurut tabel Mashable |
|---|---|---|---|
| SWE-Bench Pro | 58,6% | 64,3% | Claude Opus 4.7 |
| Terminal-Bench 2.0 | 82,7% | 69,4% | GPT-5.5 |
| Humanity’s Last Exam | 40,6% | 31,2% | GPT-5.5 |
| Humanity’s Last Exam with tools | 52,2% | 54,7% | Claude Opus 4.7 |
| BrowseComp | 84,4% | 79,3% | GPT-5.5 |
| GPQA Diamond | 93,6% | 94,2% | Claude Opus 4.7 |
| ARC-AGI-1 Verified | 94,5% | 92,0% | GPT-5.5 |
LLM Stats membaca pola ini sebagai pembagian kerja, bukan kemenangan absolut: Claude Opus 4.7 lebih kuat pada tugas reasoning dan review-grade, sedangkan GPT-5.5 lebih kuat pada penggunaan tool yang panjang, seperti terminal, browsing, OSWorld-Verified, dan CyberGym.
Catatan penting: LLM Stats juga menekankan bahwa skor tersebut merupakan laporan dari masing-masing penyedia pada tier reasoning tinggi. Artinya, bentuk perbandingannya bisa dibaca, tetapi metodologinya belum tentu identik. Karena itu, angka seperti Humanity’s Last Exam juga dapat terlihat berbeda tergantung sumber dan setelan evaluasinya.
Kimi K2.6 dan DeepSeek V4 Pro lebih enak dibaca sebagai kandidat open-weight—model dengan bobot yang tersedia—bukan sebagai pengganti langsung model tertutup frontier untuk semua tugas. Jika kebutuhan Anda adalah eksperimen, deployment yang lebih fleksibel, atau optimasi biaya, keduanya layak masuk daftar uji.
| Indikator | Kimi K2.6 | DeepSeek V4 Pro |
|---|---|---|
| Artificial Analysis Intelligence | 54 | 52 |
| Context window | 256k | 1,00M |
| Kolom Price | $1,7 | $2,2 |
| Output speed | 112 tokens/s | 36 tokens/s |
Dari tabel Artificial Analysis saja, Kimi K2.6 terlihat lebih menarik untuk kecepatan dan skor Intelligence, sedangkan DeepSeek V4 Pro lebih menarik untuk konteks sangat panjang. The Decoder juga melaporkan klaim Moonshot AI bahwa Kimi K2.6 mencatat HLE with Tools 54,0, SWE-Bench Pro 58,6, dan BrowseComp 83,2.
Namun, hasil Kimi K2.6 tidak boleh dibaca sebagai adu langsung yang sepenuhnya setara dengan GPT-5.5 dan Claude Opus 4.7. Model card Hugging Face menyebut Kimi K2.6 diuji dengan thinking mode, temperature 1,0, top-p 1,0, dan konteks 262.144 token; pembanding utamanya juga Claude Opus 4.6, GPT-5.4, dan Gemini 3.1 Pro, bukan GPT-5.5 dan Claude Opus 4.7.
DeepSeek V4 Pro, di sisi lain, lebih tepat diposisikan sebagai pilihan near-frontier yang menonjol pada konteks panjang dan biaya. DataCamp menyimpulkan DeepSeek V4 belum mengalahkan GPT-5.5 atau Claude Opus 4.7 dalam kemampuan murni, tetapi menawarkan performa mendekati frontier dengan biaya lebih rendah.
Perbandingan harga AI sering menyesatkan karena orang mencampur beberapa metrik. Minimal ada tiga angka yang perlu dipisahkan.
Pertama, harga API per token. Mashable melaporkan DeepSeek V4 seharga $1,74 per 1 juta input token dan $3,48 per 1 juta output token; GPT-5.5 seharga $5/$30; Claude Opus 4.7 seharga $5/$25.
Kedua, kolom Price di tabel Artificial Analysis. Di sana Kimi K2.6 tercatat $1,7 dan DeepSeek V4 Pro $2,2, tetapi angka ini tidak boleh otomatis dianggap sama dengan harga API per 1 juta token seperti pada laporan Mashable.
Ketiga, biaya menjalankan benchmark. Artificial Analysis melaporkan biaya menjalankan Intelligence Index sebesar $1.071 untuk DeepSeek V4 Pro, $948 untuk Kimi K2.6, dan $4.811 untuk Claude Opus 4.7.
Jadi, klaim “model A lebih murah” harus selalu ditanya ulang: murah untuk harga API mentah, murah untuk benchmark tertentu, atau murah untuk beban kerja nyata yang menghasilkan banyak output token?
Untuk Claude Opus 4.7, Mashable melaporkan klaim Anthropic tentang honesty rate 92% dan kecenderungan sycophancy yang lebih rendah. Dalam pengumuman Anthropic, Claude Opus 4.7 juga disebut menjadi top tie pada internal research-agent benchmark dengan total 0,715 di enam modul, serta naik di modul General Finance dari 0,767 pada Opus 4.6 menjadi 0,813.
Tetapi angka seperti honesty, sycophancy, atau disiplin data bukan metrik yang sama dengan SWE-Bench Pro, GPQA Diamond, atau BrowseComp. Untuk penggunaan produksi, skor kemampuan, biaya, kecepatan, risiko halusinasi, dan kemudahan audit sebaiknya dinilai sebagai sumbu yang berbeda.
Dalam penerapan nyata, memilih satu model untuk semua tugas sering kali bukan strategi paling efisien. MindStudio melaporkan GPT-5.5 memakai 72% lebih sedikit output token daripada Claude Opus 4.7 pada tugas coding yang sama; tetapi untuk codebase besar dan tugas reasoning yang kompleks, ketelitian Opus 4.7 bisa membenarkan biaya tambahannya.
Pola praktisnya: pakai GPT-5.5 untuk generasi standar, revisi, dan pekerjaan berbasis tool; gunakan Claude Opus 4.7 untuk review mendalam dan keputusan teknis yang butuh reasoning kuat; coba Kimi K2.6 untuk eksperimen open-weight berbiaya lebih ringan; dan uji DeepSeek V4 Pro untuk konteks panjang atau pemrosesan volume besar dengan harga API rendah.
Berdasarkan informasi publik saat ini, tidak ada satu pemenang mutlak antara GPT-5.5, Claude Opus 4.7, DeepSeek V4 Pro, dan Kimi K2.6. GPT-5.5 paling kuat sinyalnya untuk performa umum, pekerjaan bernilai ekonomi, dan tool use; Claude Opus 4.7 menonjol pada reasoning dan review; Kimi K2.6 menarik untuk open-weight yang cepat; DeepSeek V4 Pro unggul pada konteks panjang dan biaya API rendah.
Bahkan di dalam Artificial Analysis, pembaca bisa menemukan halaman model GPT-5.5 high dengan Intelligence 59, sementara halaman daftar model menyebut Claude Opus 4.7 Adaptive Reasoning, Max Effort memimpin dengan Intelligence 57. Perbedaan ini menunjukkan bahwa waktu pembaruan, varian model, dan setelan reasoning sangat memengaruhi cara membaca leaderboard.