Garis besarnya begini: pernyataan politik Donald Trump dan perintah operasional militer AS tidak persis sama cakupannya. Trump mengatakan Angkatan Laut AS akan segera memblokade kapal yang masuk atau keluar Selat Hormuz setelah perundingan gencatan senjata AS-Iran di Pakistan berakhir tanpa kesepakatan.[8] Namun Komando Pusat AS, atau CENTCOM, mengumumkan perintah yang lebih spesifik: blokade diterapkan terhadap lalu lintas laut yang masuk atau keluar pelabuhan Iran, sementara kapal yang berlayar antara pelabuhan non-Iran tetap boleh melintasi selat itu.[
8][
32]
Dengan kata lain, ini adalah tekanan serius terhadap pelayaran Iran, terutama jalur ekspor minyaknya. Tetapi ini bukan pernyataan bahwa seluruh Selat Hormuz ditutup untuk semua kapal dagang.[3][
8][
32]
Apa yang sebenarnya dikatakan Trump?
Menurut laporan AP yang dimuat AJC, Trump mengatakan pada hari Minggu bahwa Angkatan Laut AS akan segera mulai memblokade kapal yang masuk atau keluar Selat Hormuz, jalur laut strategis di kawasan Teluk, setelah pembicaraan gencatan senjata AS-Iran di Pakistan gagal menghasilkan kesepakatan.[8]
Dalam pemberitaan berikutnya, Trump juga digambarkan mengatakan bahwa militer AS telah memulai blokade pelabuhan Iran sebagai bagian dari upaya menekan Teheran agar membuka kembali Selat Hormuz dan menerima syarat Washington untuk mengakhiri perang.[5][
12] Jadi, dalam narasi Trump, Angkatan Laut AS bukan sekadar berpatroli. Ia diposisikan sebagai alat tekanan langsung di laut, bagian dari strategi negosiasi yang lebih luas.[
5][
8]
Perintah resmi CENTCOM lebih sempit
Kuncinya ada pada pengumuman CENTCOM pada 12 April 2026. CENTCOM menyatakan pasukan AS akan mulai menerapkan blokade terhadap semua lalu lintas maritim yang masuk dan keluar pelabuhan Iran pada 13 April 2026 pukul 10.00 waktu bagian timur AS, dan aturan itu berlaku bagi kapal dari semua negara.[32]
Namun CENTCOM tidak menyatakan penutupan total Selat Hormuz. AJC/AP mencatat bahwa pengumuman CENTCOM masih mengizinkan kapal yang bergerak antara pelabuhan non-Iran untuk transit melalui selat tersebut. Laporan itu juga menyebut pengumuman CENTCOM sebagai langkah yang lebih terbatas dibanding ancaman awal Trump.[8]
Jadi, cara membaca yang lebih tepat adalah: AS menargetkan kapal yang terkait dengan pelabuhan Iran, bukan semua kapal komersial yang muncul di sekitar Selat Hormuz.[8][
32]
Dua insiden menunjukkan cara blokade dijalankan
Perkembangan setelah pengumuman itu menunjukkan bahwa blokade tidak berhenti pada pernyataan. Pada 19 April, CENTCOM menyebut pasukan AS di Laut Arab menerapkan langkah blokade terhadap kapal kargo berbendera Iran M/V Touska, yang digambarkan berusaha menuju pelabuhan Iran. Kapal perusak USS Spruance menonaktifkan sistem propulsi kapal tersebut setelah peringatan berulang selama beberapa jam tidak dipatuhi.[17]
Pada 28 April, Marinir AS dari 31st Marine Expeditionary Unit menaiki dan memeriksa M/V Blue Star III, kapal dagang yang dicurigai hendak transit ke Iran dan melanggar blokade. Setelah pemeriksaan, pasukan AS melepaskan kapal itu karena memastikan pelayarannya tidak mencakup singgah di pelabuhan Iran.[19]
Dua kasus ini memperjelas pola pelaksanaannya: faktor penentu bukan semata-mata apakah kapal berada dekat Hormuz, melainkan apakah rute kapal itu terkait dengan pelabuhan Iran.[17][
19]
Mengapa ekspor minyak Iran paling terkena tekanan?
Dampak langsungnya ada di pintu keluar-masuk laut Iran. Karena perintah CENTCOM berlaku bagi lalu lintas maritim yang masuk atau keluar pelabuhan Iran, kapal tanker minyak atau kapal pendukung rute ekspor melalui pelabuhan Iran dapat masuk dalam cakupan pemblokiran, pemeriksaan, atau pengalihan rute.[32]
Analisis Modern Diplomacy menggambarkan tujuan praktis blokade ini sebagai upaya membatasi ekspor minyak Iran tanpa menutup Selat Hormuz sepenuhnya.[3] Ini perbedaan penting. Washington dapat meningkatkan tekanan terhadap pendapatan minyak Teheran, sambil tetap mengatakan bahwa kapal yang tidak menuju atau meninggalkan pelabuhan Iran masih memiliki ruang transit.[
8][
32]
Risiko pasar menjadi lebih besar karena Selat Hormuz adalah jalur energi yang sangat sensitif. Euronews melaporkan bahwa penutupan Hormuz selama enam pekan sebelumnya telah mendorong harga minyak global naik; setelah awal gencatan senjata, hanya sekitar 40 kapal yang telah melintas, dibanding lebih dari 100 kapal per hari sebelum perang.[5] Maka, meski blokade ini ditujukan pada pelabuhan Iran, kekhawatiran tentang kelancaran arus minyak di kawasan tetap bisa meningkat.[
3][
5]
Apa yang belum bisa dihitung dengan pasti?
Yang bisa dikatakan dengan cukup aman: ekspor minyak Iran menghadapi tekanan besar dari sisi pengangkutan laut. Iran International menilai blokade itu dapat dengan cepat melumpuhkan ekonomi Iran, memotong sebagian besar perdagangan laut, dan membuat ekspor minyak terhenti.[9]
Namun itu tetap merupakan penilaian tentang risiko dan dampak potensial. Sumber yang tersedia tidak memberikan angka independen tentang berapa barel minyak Iran yang benar-benar gagal diekspor, berapa pendapatan minyak yang hilang, atau berapa persen ekspor aktual yang sudah tertahan. Kesimpulan yang paling hati-hati: blokade ini sangat menekan ekspor minyak Iran, tetapi belum cukup data untuk mengukur kerugiannya secara pasti.
Kesimpulan: peran AL AS besar, tetapi cakupan blokade perlu dibaca tepat
Trump menggambarkan Angkatan Laut AS sebagai kekuatan yang akan langsung menghentikan kapal yang masuk atau keluar Selat Hormuz. Namun dokumen pelaksanaan CENTCOM membatasi fokusnya pada kapal yang menuju atau meninggalkan pelabuhan Iran.[8][
32]
Operasi terhadap M/V Touska dan M/V Blue Star III menunjukkan bahwa pasukan AS telah menjalankan blokade lewat peringatan, pemeriksaan, dan intervensi di laut ketika ada dugaan perjalanan terkait Iran.[17][
19]
Bagi ekspor minyak, titik tekan utamanya adalah jalur pelabuhan Iran. Tetapi jika pertanyaannya berapa besar ekspor minyak Iran sudah turun dalam angka konkret, bukti yang tersedia belum cukup untuk menjawabnya secara meyakinkan.




