Pendekatan seperti ini juga didukung oleh penelitian lain tentang cara anak membaca gambar. Dalam satu studi, anak-anak tampak mengamati warna, garis, bentuk, dan gerak tubuh tokoh dalam buku bergambar tanpa teks, lalu memberi penafsiran yang beragam sesuai alur cerita. Jadi, bahan semacam ini bukan hanya “buku tanpa tulisan”, melainkan alat untuk melihat bagaimana anak menghubungkan pemahaman visual dengan narasi lisan.
Pertanyaan utama studi 2019 tersebut adalah: bagaimana indikator bahasa dasar dalam cerita anak usia 3–5 tahun berubah seiring usia, dan apakah indikator-indikator itu saling berhubungan?
Untuk menjawabnya, peneliti mengikuti kelompok anak yang sama, bukan hanya membandingkan anak berbeda usia pada satu waktu. Setiap sesi menghasilkan rekaman cerita anak berdasarkan buku bergambar tanpa teks; rekaman itu kemudian ditranskripsi ke format CHAT untuk dianalisis. Desain seperti ini memungkinkan peneliti melihat perubahan pada anak yang sama dari waktu ke waktu, selama rentang usia tiga sampai lima tahun.
Studi tersebut menganalisis enam ukuran dasar: rata-rata jumlah kata per giliran tutur, rata-rata panjang ujaran, jumlah total kata, jumlah kata berbeda, rasio kemunculan kata berbeda yang dikoreksi, dan keragaman kosakata.
| Sisi yang diamati | Indikator | Cara membacanya |
|---|---|---|
| Jumlah produksi bahasa | Rata-rata jumlah kata per giliran tutur; jumlah total kata | Seberapa banyak bahasa yang dihasilkan anak saat bercerita |
| Panjang ujaran | Rata-rata panjang ujaran | Seberapa panjang ujaran anak secara rata-rata |
| Variasi kosakata | Jumlah kata berbeda; rasio kata berbeda yang dikoreksi; keragaman kosakata | Seberapa beragam kata yang dipakai anak dalam cerita |
Nilai penting dari indikator ini adalah membuat kegiatan yang tampak sangat kualitatif—anak melihat gambar lalu bercerita—menjadi data yang bisa dibandingkan antarwaktu.
Secara umum, enam indikator dasar bahasa dalam cerita anak menunjukkan kecenderungan meningkat seiring usia. Ini berarti, pada rentang 3–5 tahun, produksi bahasa, panjang ujaran, dan penggunaan kosakata anak dalam narasi buku bergambar tanpa teks cenderung makin matang.
Namun studi yang sama juga mengingatkan bahwa perkembangan narasi anak tidak selalu berbentuk garis naik yang rapi. Rata-rata panjang ujaran, rasio kata berbeda yang dikoreksi, dan keragaman kosakata menunjukkan penyesuaian menurun pada sebagian tahap usia. Karena itu, temuan ini sebaiknya dibaca sebagai pola perkembangan yang bertahap dan bisa berfluktuasi, bukan sebagai daftar kemampuan yang pasti meningkat setiap saat.
Penelitian itu juga menemukan bahwa setelah faktor usia dikendalikan, rata-rata panjang ujaran, jumlah total kata, jumlah kata berbeda, dan keragaman kosakata memiliki korelasi positif yang signifikan. Artinya, dalam sampel penelitian ini, anak yang menunjukkan ujaran lebih panjang juga cenderung berkaitan dengan jumlah kata, variasi kata, dan keragaman kosakata yang lebih tinggi—tetapi hubungan ini tetap bersifat korelasional, bukan sebab-akibat.
Studi lain pada anak usia 3, 5, dan 6 tahun, dengan total 90 peserta, juga memakai buku bergambar tanpa teks untuk mengumpulkan sampel cerita lisan anak. Penelitian itu menganalisis jenis kata, kata berfrekuensi tinggi, dan penggunaan kata baru; hasilnya menunjukkan bahwa selain kata bilangan dan partikel, sebagian besar kelas kata meningkat seiring usia, dengan peningkatan paling besar pada nomina, verba, dan adverbia.
Jika dibaca bersama, studi tersebut dan studi longitudinal 2019 menunjukkan bahwa cerita dari buku bergambar tanpa teks dapat dipakai untuk menangkap perubahan bahasa anak, terutama pada sisi kosakata dan performa narasi.
Perkembangan bahasa anak tidak hanya soal banyaknya kata yang diucapkan. Rujukan perkembangan bahasa anak menekankan bahwa bahasa perlu dilihat dari beberapa unsur besar: bentuk, isi, dan penggunaan; pengamatan juga mencakup komunikasi/pragmatik, bunyi ujaran/fonologi, makna/morfologi, serta tata bahasa/narasi.
Karena itu, enam indikator dalam studi buku bergambar tanpa teks sebaiknya dipahami sebagai potongan kuantitatif dari kemampuan narasi anak. Indikator tersebut membantu peneliti atau pendidik membandingkan jumlah produksi bahasa, panjang ujaran, dan variasi kosakata, tetapi tidak menggantikan pengamatan perkembangan bahasa anak secara menyeluruh.
Pertama, hasil dari 28 anak dalam studi ini tidak boleh langsung dianggap sebagai kurva perkembangan tetap untuk semua anak.
Kedua, temuan ini tidak bisa disederhanakan menjadi “semua indikator pasti naik terus”. Penelitian tersebut secara jelas melaporkan adanya penyesuaian menurun pada sebagian indikator di tahap usia tertentu.
Ketiga, studi ini meneliti perkembangan usia dan hubungan antarindikator, bukan menguji intervensi pembelajaran. Karena itu, temuan tersebut tidak membuktikan bahwa buku bergambar tanpa teks sendirinya menyebabkan kemampuan bahasa anak meningkat.
Kesimpulan yang lebih hati-hati adalah: pada usia 3–5 tahun, sebagian besar indikator bahasa dasar dalam cerita berbasis buku bergambar tanpa teks cenderung meningkat, tetapi kematangan narasi anak melibatkan banyak sisi—jumlah ujaran, panjang ujaran, dan keragaman kosakata—yang tidak selalu berkembang serempak atau secara linear.