Bagi pembaca di Indonesia, anggap contoh-contoh ini sebagai kerangka berpikir, bukan pengganti aturan sekolah, kampus, dosen, atau guru Anda. Dalam praktiknya, batas aman tetap ditentukan oleh instruksi tugas dan kebijakan lembaga masing-masing.
Sebelum membuka alat AI untuk tugas sekolah atau kuliah, jawab dulu empat pertanyaan ini.
Apakah tugas ini secara jelas mengizinkan AI?
Cek silabus, instruksi tugas, kontrak kuliah, atau pedoman integritas akademik. UM System menekankan perlunya merujuk pada kebijakan kampus masing-masing, sementara UNC Charlotte menempatkan penggunaan AI bersama kebijakan silabus dan aturan tentang kecurangan serta plagiarisme.
AI membantu Anda belajar, atau menggantikan hasil yang seharusnya dinilai?
Memakai AI untuk memahami konsep, membuat latihan, atau menyusun ide awal berbeda risikonya dengan menyerahkan jawaban akhir yang dibuat AI.
Apakah penggunaan AI harus dicantumkan?
Jika guru, dosen, silabus, atau instruksi tugas meminta Anda menjelaskan penggunaan AI, cantumkan alat yang dipakai, tahap penggunaannya, dan bagian mana yang Anda kerjakan sendiri.
Bisakah Anda mempertanggungjawabkan hasil akhir?
Apa pun bantuan AI, Anda tetap harus mampu menjelaskan argumen, sumber, kutipan, pilihan data, dan revisi yang Anda buat. Pedoman UM System juga menempatkan AI dalam konteks penggunaan yang bertanggung jawab dan etis.
Jika salah satu jawabannya belum jelas, jalan paling aman adalah tidak memakai AI untuk bagian inti tugas sampai Anda bertanya kepada guru atau dosen.
Jika kelas memang mengizinkan penggunaan AI, posisikan AI sebagai asisten belajar, bukan penulis pengganti. Contoh penggunaan yang lebih mudah dipertanggungjawabkan antara lain:
Yang perlu ekstra hati-hati adalah meminta AI menulis ulang paragraf panjang, membuat jawaban final, menyusun kode, atau merangkum sumber untuk langsung diserahkan. Meminta AI menunjukkan masalah lalu Anda memperbaikinya sendiri berbeda dengan meminta AI menyelesaikan pekerjaan inti. Jika aturan kelas tidak jelas, tanyakan dulu.
Definisi resmi selalu bergantung pada sekolah, kampus, mata kuliah, dan tugas. UM System secara eksplisit meminta pengguna merujuk pada kebijakan kampus masing-masing. Namun, dalam praktik akademik, beberapa situasi berikut biasanya berisiko tinggi.
Aturan melarang AI, tetapi Anda tetap memakainya.
Jika silabus, instruksi tugas, atau kebijakan lembaga melarang AI, penggunaan AI dapat melanggar aturan kelas atau integritas akademik.
Diminta mencantumkan penggunaan AI, tetapi tidak dilakukan.
Jika aturan meminta Anda menyebut nama alat, tahap penggunaan, atau jenis bantuan AI, ikuti format yang diminta.
Hasil AI diserahkan seolah-olah karya asli Anda.
Risiko meningkat jika Anda langsung menyerahkan paragraf, jawaban, laporan, atau kode yang dibuat AI, terutama ketika kelas tidak mengizinkan cara itu.
AI dipakai dalam ujian, kuis, atau tugas terbatas tanpa izin.
Jika tugas dirancang untuk menilai kemampuan langsung atau pemahaman pribadi, bantuan AI yang tidak diizinkan lebih mudah dianggap bantuan tidak sah.
Isi dan kutipan dari AI tidak dicek.
Walaupun AI diizinkan sebagai alat bantu, siswa atau mahasiswa tetap bertanggung jawab atas akurasi, kutipan, dan orisinalitas hasil akhir. Pedoman UM System menempatkan AI dalam kerangka integritas akademik dan penggunaan bertanggung jawab.
Selama sesuai aturan kelas dan lembaga, beberapa penggunaan AI berikut biasanya tidak otomatis menjadi kecurangan:
Inilah sebabnya satu tindakan tidak bisa disamaratakan. Cara memakai AI yang boleh dalam satu kelas bisa dilarang di kelas lain. Tulisan University of Florida menyoroti bahwa sikap dan strategi pengajar terhadap AI generatif sangat beragam, sementara UM System menekankan pentingnya mengikuti kebijakan kampus dan kelas masing-masing.
Bagi pengajar, AI dapat membantu mempercepat pekerjaan awal, tetapi hasilnya tetap perlu ditinjau. Beberapa penggunaan yang masuk akal:
Sebelum memakai keluaran AI, pengajar tetap perlu mengecek kesesuaian dengan tujuan pembelajaran, akurasi, bias, kutipan, privasi, dan aturan penanganan data. UNC Charlotte menempatkan kebijakan silabus, aturan integritas akademik, daftar periksa keamanan AI, dan panduan penanganan data dalam satu rangkaian sumber terkait AI; UM System juga menekankan integritas akademik dan penggunaan etis di kelas.
Aturan resmi tetap harus mengikuti kebijakan sekolah atau kampus. UNC Charlotte secara khusus mengaitkan penggunaan AI dengan aturan integritas akademik mahasiswa tentang cheating dan plagiarism. Namun, untuk membaca instruksi tugas, Anda bisa memakai pembedaan praktis ini:
Satu tindakan bisa masuk lebih dari satu kategori. Misalnya, menyerahkan paragraf buatan AI pada tugas esai yang jelas melarang AI dapat sekaligus melanggar aturan tugas dan menimbulkan masalah orisinalitas.
Sebelum menggunakan AI untuk tugas, cek tiga tempat ini:
Jika aturan belum jelas, tanyakan langsung dengan kalimat sederhana:
Apakah tugas ini boleh menggunakan AI? Jika boleh, AI boleh dipakai di tahap mana saja?
Apakah saya perlu mencantumkan alat AI yang digunakan dan menjelaskan cara penggunaannya?
Simpan juga prompt, jawaban AI, draf, dan riwayat revisi. Ini tidak otomatis membebaskan Anda dari tanggung jawab, tetapi dapat membantu menjelaskan proses kerja jika ada pertanyaan.
Jika guru atau dosen meminta penggunaan AI dicantumkan, Anda bisa menyesuaikan contoh berikut:
Dalam tugas ini, saya menggunakan alat AI generatif untuk membantu mencari ide awal, menyusun kerangka, dan memeriksa kejelasan bahasa. Pengecekan fakta, pemilihan argumen, penyusunan kutipan, revisi, dan teks akhir saya kerjakan sendiri.
Jika AI terlibat lebih jauh, misalnya membantu menyusun draf kode, merangkum bahan, atau menulis ulang bagian tertentu, pernyataannya harus lebih spesifik. Intinya: jelaskan apa yang dilakukan AI dan apa yang Anda lakukan sendiri.
Karena berbagai rujukan kampus menempatkan AI dalam kerangka kebijakan kelas, aturan lembaga, dan integritas akademik, pengajar sebaiknya tidak hanya menulis boleh atau tidak boleh. Lebih baik jelaskan batas dan tanggung jawabnya.
Contoh format singkat:
AI di kelas bisa menjadi alat belajar yang berguna, tetapi juga bisa menjadi sumber pelanggaran akademik. Bedanya biasanya bukan pada alatnya, melainkan pada empat hal: apakah diizinkan, apakah sesuai tujuan tugas, apakah penggunaannya dicantumkan, dan apakah siswa benar-benar memahami serta mengerjakan bagian inti yang dinilai.
Jika ragu, jangan gunakan AI untuk menyelesaikan bagian utama tugas. Cek silabus, instruksi tugas, dan aturan integritas akademik, lalu tanyakan langsung kepada guru atau dosen.