Mao Zedong (1893–1976) memimpin revolusi komunis Tiongkok dan memproklamasikan berdirinya Republik Rakyat Tiongkok pada 1949.
Perang Tiongkok–Jepang Pertama (1894–1895) berakhir dengan kekalahan Dinasti Qing dan penyerahan Taiwan kepada Jepang.
Dinasti Yuan berawal dari penaklukan Mongol yang berlangsung selama beberapa dekade.
Pemberontakan Taiping adalah perang saudara melawan Dinasti Qing yang berlangsung dari 1850 hingga 1864.
Pemberontakan Boxer tumbuh dari sejumlah tekanan yang saling berkaitan, bukan satu penyebab tunggal: kemarahan terhadap pengaruh asing, kesulitan ekonomi, bencana alam, dan konflik lokal.
Perang Candu terdiri atas dua konflik: Inggris melawan Qing Tiongkok pada 1839–1842, lalu Inggris dan Prancis melawan Qing pada 1856–1860.
Pengikatan kaki mulai dikenal sekitar abad ke 10. Kaki kecil dikaitkan dengan kecantikan dan status sosial, sementara penelitian juga menghubungkan praktik ini dengan pekerjaan kerajinan rumah tangga.
Jalur Sutra merupakan jaringan rute darat dan laut yang mempertemukan Tiongkok dengan masyarakat lain lewat perdagangan, diplomasi, dan pertukaran budaya.[1][4]
Pasukan Terakota dibuat untuk kompleks pemakaman Qin Shi Huang, bukan sebagai pasukan yang akan bertempur di dunia nyata.
Ajaran Konfusianisme menjadikan perilaku bermoral, pendidikan, dan keteraturan hubungan sosial sebagai cita cita penting di Tiongkok kekaisaran.
Empat penemuan besar Tiongkok kuno adalah pembuatan kertas, percetakan, bubuk mesiu, dan kompas.
Mandat Langit ( tianming ) menyatakan bahwa hak penguasa untuk memerintah bergantung pada perilakunya.