Turnamen World Championship, atau yang sering disebut Worlds, merupakan kompetisi tahunan paling bergengsi di League of Legends. Juara turnamen ini dianggap sebagai tim terbaik di dunia pada tahun tersebut .
Beberapa laporan pada akhir 2025 menyebut bahwa T1 mengalahkan KT Rolster di final Worlds 2025, yang berarti Faker meraih gelar dunia keenam sekaligus menjadikan T1 juara tiga tahun berturut‑turut . Namun, tidak semua basis data sejarah telah diperbarui dengan angka ini, sehingga jumlah gelar yang disebutkan bisa berbeda tergantung sumber.
Karier esports biasanya hanya berada di puncak selama beberapa tahun. Faker menjadi pengecualian.
Ia memulai karier profesional pada 2013, langsung memenangkan liga Korea dan World Championship pada tahun debutnya . Lebih dari sepuluh tahun kemudian, ia masih bersaing di level tertinggi dan bahkan meraih penghargaan individu seperti Player of the Year di scene profesional Korea
.
Ketahanan seperti ini jarang terjadi dalam esports karena meta permainan, patch, dan gaya bermain kompetitif terus berubah dari waktu ke waktu.
Faker juga mencatat banyak tonggak sejarah di turnamen global. Salah satu contohnya terjadi pada MSI 2025, ketika ia mencapai 200 kemenangan internasional setelah T1 mengalahkan Bilibili Gaming .
Angka tersebut menunjukkan konsistensinya melawan tim‑tim terbaik dari berbagai region dunia selama bertahun‑tahun.
Pada tahun 2024, Riot Games memperkenalkan program penghargaan baru bernama Hall of Legends, semacam hall of fame untuk pemain yang memberi dampak terbesar pada League of Legends dan ekosistem esports‑nya.
Menurut Riot Games, penghargaan ini diberikan karena:
Menjadi inductee pertama dianggap sebagai pengakuan resmi atas status historisnya dalam game tersebut.
Warisan Faker tidak hanya diukur dari trofi. Ia juga berperan besar membentuk budaya kompetitif League of Legends.
Beberapa aspek pengaruhnya meliputi:
Bagi banyak penggemar, nama Faker hampir identik dengan sejarah kompetitif League of Legends itu sendiri.
Dalam perdebatan GOAT, biasanya ada empat faktor utama: performa puncak, jumlah trofi, konsistensi, dan pengaruh terhadap olahraga tersebut. Faker menonjol di semua kategori ini.
Sangat sedikit pemain esports yang mampu menggabungkan semua pencapaian tersebut dalam satu karier.
Meskipun debat tentang pemain terbaik selalu terbuka, Lee “Faker” Sang‑hyeok tetap menjadi kandidat yang paling luas diterima sebagai GOAT League of Legends.
Dengan kombinasi gelar dunia, karier panjang, rekor internasional, serta pengaruh besar terhadap industri esports, Faker bukan hanya legenda T1—tetapi juga salah satu atlet esports paling berpengaruh sepanjang sejarah.
Comments
0 comments