Penurunan harga emas tampak ganjil jika hanya dilihat dari satu sisi: ketegangan geopolitik. Biasanya, kabar buruk dari kawasan strategis seperti Selat Hormuz bisa mendorong minat terhadap emas sebagai aset aman. Namun dalam kasus ini, ketegangan yang sama juga mendorong pasar ke skenario yang kurang bersahabat bagi emas: minyak lebih mahal, inflasi lebih lengket, suku bunga berpotensi bertahan tinggi, dan dolar AS menguat.
Reuters melaporkan pada 13 April 2026 bahwa emas spot turun 0,4% ke US$4.730,75 per troy ounce setelah menyentuh level terendah sejak 7 April. Pada saat yang sama, harga minyak kembali naik ke atas US$100 per barel dan pelaku pasar memangkas ekspektasi pemangkasan suku bunga Federal Reserve, bank sentral AS, untuk tahun tersebut [6].
Jawaban singkatnya
Emas tidak turun karena geopolitik mendadak tidak penting. Emas turun karena risiko Selat Hormuz diterjemahkan pasar lewat jalur minyak, inflasi, kebijakan The Fed, dan dolar AS.
Sumber yang tersedia menggambarkan tarik-menarik yang sudah sering terjadi di pasar emas: risiko geopolitik dan inflasi biasanya dapat meningkatkan daya tarik emas sebagai aset aman, tetapi suku bunga yang tinggi bisa menekan emas karena logam ini tidak memberi bunga atau kupon [2]. Ketika minyak melonjak dan kekhawatiran inflasi naik, pelaku pasar dapat memperkirakan The Fed akan lebih sulit menurunkan suku bunga. Itu menjadi latar yang berat bagi emas, apalagi ketika dolar AS ikut menguat [
6].
Rantai tekanan terhadap emas
Pergerakan ini bisa dibaca dalam empat langkah:
- Ketegangan Selat Hormuz mengangkat harga minyak. Reuters melaporkan harga minyak kembali berada di atas US$100 per barel saat ketegangan terkait blokade meningkat [
6].
- Minyak yang lebih mahal menghidupkan lagi kekhawatiran inflasi. Laporan yang sama menyebut lonjakan minyak memicu kekhawatiran inflasi [
6].
- Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dipangkas. Menurut Reuters, pelaku pasar mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga Federal Reserve tahun ini [
6].
- Dolar AS menguat. Reuters juga menyebut dolar AS yang lebih kuat sebagai salah satu tekanan bagi emas [
6].
Bagi emas, poin ketiga dan keempat sangat penting. Suku bunga yang lebih rendah biasanya membuat emas relatif lebih menarik, sedangkan suku bunga tinggi dapat menekan logam yang tidak memberikan imbal hasil [2]. Jadi, jika guncangan Selat Hormuz membuat pasar memperkirakan inflasi lebih sulit turun dan pemangkasan suku bunga makin jauh, dorongan aset aman bisa kalah oleh tekanan dari suku bunga dan dolar.
Mengapa permintaan aset aman tidak cukup
Emas memang sering mendapat dukungan saat investor cemas. Namun tidak semua krisis dihargai pasar dengan cara yang sama. Guncangan geopolitik yang mengancam pasokan minyak dapat menciptakan masalah makro lapis kedua: biaya energi lebih tinggi, kekhawatiran inflasi meningkat, dan ruang bank sentral untuk memangkas suku bunga menjadi lebih sempit.
Karena itu, penurunan emas dalam situasi ini tidak harus dibaca sebagai kontradiksi. Sumber yang ada tidak menunjukkan pasar mengabaikan risiko Timur Tengah. Yang terlihat adalah pasar menerjemahkan risiko itu menjadi minyak lebih mahal, dolar lebih kuat, dan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed yang lebih lemah [2][
6]. Dalam kombinasi seperti ini, emas bisa turun sekalipun tajuk geopolitik memburuk.
Apa yang bisa mengubah arah pasar
Variabel yang perlu diperhatikan adalah minyak, ekspektasi terhadap The Fed, dan dolar AS.
Contoh perubahannya terlihat dalam pembaruan berikutnya. TradingPedia melaporkan pada 27 April bahwa XAU/USD, kode pasar untuk harga emas terhadap dolar AS, rebound lebih dari US$50 dari area US$4.672, meski pembelian lanjutan masih terbatas [4]. Laporan yang sama menyebut ekspektasi setidaknya satu pemangkasan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada 2026, harga minyak yang lebih lunak, dan dolar AS yang melemah turut mendukung emas [
4].
Dengan kata lain, skenario yang lebih bersih untuk kenaikan emas adalah: tekanan minyak mereda, kecemasan inflasi menurun, dolar AS melemah, dan ekspektasi pemangkasan suku bunga kembali lebih kredibel. Sebaliknya, jika minyak tetap tinggi dan pasar terus mendorong jadwal pemangkasan suku bunga lebih jauh, hambatan yang dijelaskan Reuters masih bisa menekan emas [6].
Catatan soal klaim ‘terendah dua bulan’
Sumber yang diberikan tidak secara jelas memverifikasi klaim bahwa emas berada di level terendah dua bulan. Reuters melalui Fidelity menyebut emas menyentuh level terendah sejak 7 April, sementara Emirates247 memakai bingkai yang sama, yakni terendah sejak 7 April [2][
6].
Catatan ini penting untuk presisi. Namun, inti penjelasan pasarnya tetap sama: ketegangan Selat Hormuz pada saat itu lebih kuat dibaca sebagai guncangan minyak, inflasi, The Fed, dan dolar, bukan semata-mata sebagai dorongan aset aman bagi emas [6].
Intinya
Emas bisa turun saat ketegangan geopolitik meningkat jika konsekuensi makronya justru negatif bagi bullion. Dalam kasus ini, tekanan minyak terkait Selat Hormuz menaikkan kekhawatiran inflasi, mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed, memperkuat dolar AS, dan menutupi dukungan yang biasanya datang dari permintaan aset aman [2][
6].




