Komisi Tembaga Chile (Cochilco) kini memperkirakan harga tembaga rata‑rata mencapai $5,55 per pon pada 2026 karena permintaan global kuat dan pasokan terbatas. Proyeksi tersebut terus direvisi naik selama setahun terakhir, dari sekitar $4,25 per pon menjadi $5,55 per pon.

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: Why has Chile’s copper commission (Cochilco) sharply raised its 2026 copper price forecast to $5.55 per pound, what key demand drivers like. Article summary: Cochilco sharply raised its 2026 copper price forecast because it sees firm global demand colliding with tight supply, while Chile’s own production outlook has weakened. The commission now forecasts an average 2026 price. Topic tags: general, general web. Reference image context from search candidates: Reference image 1: visual subject "Chile’s state copper commission Cochilco is very confident about the copper market – at least as far as the price level is concerned. In its latest forecast, the authority has rais" source context "Copper with Continuous Turbo: Chile’s Copper Commission Announces Price Rally until 2030 | GOLDINVEST" Reference image 2: visual subj
Chile melalui Komisi Tembaga Nasional (Cochilco) secara tajam menaikkan proyeksi harga tembaga untuk tahun 2026 menjadi $5,55 per pon, salah satu perkiraan resmi paling optimistis dalam beberapa tahun terakhir. Revisi ini mencerminkan kombinasi kuat antara lonjakan permintaan global dan pertumbuhan pasokan yang terbatas, terutama dari Chile yang merupakan produsen tembaga terbesar di dunia.
Cochilco juga memperkirakan harga tetap tinggi setelahnya, dengan rata‑rata $5,10 per pon pada 2027, menunjukkan bahwa kondisi pasar yang ketat dipandang sebagai tren struktural, bukan sekadar lonjakan sementara.
Menurut Cochilco, faktor utama di balik revisi ini adalah permintaan tembaga global yang meningkat lebih cepat daripada kemampuan produksi untuk mengejar. Lembaga tersebut menyebut adanya "permintaan global yang kuat" di tengah pasar yang secara struktural tetap ketat.
Beberapa sektor besar secara bersamaan meningkatkan konsumsi tembaga.
Peralihan dunia menuju energi yang lebih bersih membutuhkan banyak tembaga untuk pembangkit energi terbarukan, jaringan transmisi listrik, serta modernisasi grid listrik. Instalasi panel surya, sistem penyimpanan energi berbasis baterai, hingga jaringan distribusi listrik semuanya bergantung pada kabel dan komponen listrik berbahan tembaga.
Karena proyek‑proyek ini bersifat jangka panjang dan terjadi secara global, permintaan tembaga diperkirakan terus tumbuh hingga akhir dekade ini.
Kendaraan listrik menggunakan lebih banyak tembaga dibanding mobil berbahan bakar bensin atau diesel. Motor listrik, baterai, inverter, dan sistem pengisian daya membutuhkan komponen listrik yang intensif tembaga. Seiring meningkatnya adopsi EV di berbagai negara, kebutuhan tembaga ikut terdorong naik.
Pertumbuhan pesat kecerdasan buatan juga menjadi sumber permintaan baru. Pusat data berskala besar membutuhkan banyak tembaga untuk sistem distribusi listrik, pendinginan, dan koneksi listrik berkapasitas tinggi.
Gabungan faktor‑faktor ini sering disebut analis sebagai “permintaan struktural”—permintaan jangka panjang yang didorong perubahan teknologi dan energi, bukan sekadar siklus ekonomi sementara.
Perkiraan Cochilco terhadap harga tembaga 2026 mengalami beberapa kali revisi dalam setahun terakhir, seiring pasar semakin ketat:
Kenaikan bertahap ini mencerminkan ekspektasi permintaan yang semakin kuat serta kekhawatiran bahwa pertumbuhan pasokan akan lebih lambat dari perkiraan sebelumnya.
Chile menyumbang sekitar seperempat pasokan tembaga tambang global, sehingga perubahan produksinya sangat memengaruhi pasar dunia.
Cochilco kini memperkirakan produksi tembaga Chile turun sekitar 2% pada 2026 menjadi sekitar 5,3 juta ton, sebagian karena menurunnya kadar bijih dan berbagai kendala operasional di tambang.
Beberapa indikator memperlihatkan tekanan pada produksi:
Kadar bijih yang lebih rendah berarti perusahaan tambang harus memproses lebih banyak batuan untuk menghasilkan jumlah tembaga yang sama, sehingga biaya naik dan pertumbuhan produksi melambat.
Selain Chile, banyak analis memperkirakan pasokan tembaga global akan sulit mengejar pertumbuhan permintaan. Cochilco bahkan memperkirakan defisit tembaga olahan sekitar 124.000 ton pada 2025, sebelum pasar bergerak mendekati keseimbangan.
Di pasar berjangka, harga tembaga sendiri sudah mendekati level historis. Pada awal 2026, kontrak futures sempat diperdagangkan sekitar $6 per pon, mencerminkan ekspektasi permintaan tinggi dan kekhawatiran terhadap pasokan.
Meski Cochilco cukup optimistis, sejumlah bank dan analis memiliki pandangan yang berbeda mengenai arah harga tembaga dalam jangka menengah.
Beberapa memperkirakan pasar tetap ketat, tetapi yang lain memperingatkan bahwa risiko makroekonomi global atau peningkatan produksi di masa depan dapat menekan harga. Misalnya, riset J.P. Morgan menyebut harga bisa melemah jika skenario ekonomi global yang lebih pesimistis terjadi.
Karena itu, prospek tembaga sering digambarkan sebagai bullish tetapi berpotensi volatil.
Revisi tajam Cochilco menjadi $5,55 per pon untuk 2026 mencerminkan pasar yang sedang berubah oleh faktor struktural. Permintaan dari elektrifikasi, kendaraan listrik, dan infrastruktur AI meningkat cepat, sementara pasokan—terutama dari Chile—tertekan oleh penurunan kadar bijih, perawatan tambang, dan produksi yang lebih lemah.
Jika tren ini berlanjut, tembaga berpotensi tetap menjadi salah satu logam paling strategis sekaligus paling ketat pasokannya dalam era transisi energi global.
Studio Global AI
Use this topic as a starting point for a fresh source-backed answer, then compare citations before you share it.
Komisi Tembaga Chile (Cochilco) kini memperkirakan harga tembaga rata‑rata mencapai $5,55 per pon pada 2026 karena permintaan global kuat dan pasokan terbatas.
Komisi Tembaga Chile (Cochilco) kini memperkirakan harga tembaga rata‑rata mencapai $5,55 per pon pada 2026 karena permintaan global kuat dan pasokan terbatas. Proyeksi tersebut terus direvisi naik selama setahun terakhir, dari sekitar $4,25 per pon menjadi $5,55 per pon.
Penurunan kadar bijih, perawatan tambang, dan melemahnya produksi di Chile memperketat pasokan global saat permintaan dari energi bersih, EV, dan AI meningkat.