Reaksi awal pasar memperlihatkan mekanisme tersebut. Imbal hasil Treasury 30 tahun turun hampir 10 basis poin menjadi 5,188% sebelum kembali mendekati 5,208%, menurut Reuters.
Imbal hasil jangka panjang yang lebih rendah dapat mengurangi potensi keuntungan dari memegang aset pendapatan tetap berdenominasi dolar. Ketika keunggulan itu menyempit, investor memiliki alasan yang lebih kecil untuk mempertahankan kepemilikan dolar—terutama jika mereka menilai penurunan imbal hasil tersebut hanya bersifat sementara.
Inilah jalur langsung melalui suku bunga yang menjelaskan pelemahan dolar. Setelah pengumuman Treasury, dolar turun ke level terendah dalam lebih dari tiga bulan seiring merosotnya imbal hasil obligasi AS.
Buyback memberi kelegaan jangka pendek, tetapi pada saat yang sama menyoroti masalah yang hendak diatasi Treasury: kenaikan tajam biaya pinjaman jangka panjang dan likuiditas yang lebih lemah di bagian pasar obligasi dengan tenor panjang.
Dari satu sisi, permintaan Treasury yang lebih kuat dapat menstabilkan harga dan mengurangi gangguan pasar. Namun dari sisi lain, kebutuhan akan intervensi yang tidak biasa dan dibatasi waktu memberi sinyal bahwa permintaan swasta terhadap utang jangka panjang belum cukup kuat untuk menahan kenaikan imbal hasil secara mandiri.
Masa berlaku program yang hanya mencakup sisa kuartal refunding juga membatasi kredibilitasnya sebagai sumber permintaan yang permanen.
Perbedaan ini penting bagi pasar valuta asing. Jika peningkatan permintaan Treasury dinilai tahan lama, kebijakan tersebut dapat memperkuat dolar karena meningkatkan kepercayaan terhadap pasar keuangan AS. Namun jika buyback dipandang sebagai upaya sementara untuk menekan imbal hasil, dolar justru dapat melemah segera, sementara persoalan fiskal dan risiko tenor panjang belum terselesaikan.
Reaksi pertama pasar menguntungkan obligasi bertenor panjang. Imbal hasil turun tajam dari level yang mendekati titik tertinggi dalam beberapa tahun. Reuters melaporkan bahwa imbal hasil Treasury 30 tahun turun dari sekitar level tertinggi dalam 19 tahun setelah pengumuman Treasury.
Pesan pasar kemudian terbagi menjadi dua:
Dengan kata lain, buyback berhasil menjadi bantalan bagi pasar obligasi, tetapi belum menjadi solusi permanen untuk tekanan pada utang jangka panjang AS.
Euro diuntungkan oleh pelemahan dolar secara luas. Kurs referensi Bank Sentral Eropa (ECB) pada 20 Agustus menunjukkan bahwa satu euro setara dengan US$1,1681.
Euro juga mendapat dorongan tersendiri dari perkembangan kebijakan moneter. Inflasi kawasan euro naik menjadi 2,9% pada Juli dari 2,8% pada Juni. Reuters menyebut perkembangan ini memperkuat alasan bagi ECB untuk kembali menaikkan suku bunga.
Inflasi yang lebih kuat dapat mendukung mata uang jika mendorong ekspektasi bahwa bank sentral akan mempertahankan atau menaikkan suku bunga. Jadi, penguatan euro bukan semata-mata akibat buyback Treasury. Pergerakan tersebut mencerminkan kombinasi antara berkurangnya dukungan suku bunga AS dan prospek kebijakan Eropa yang berpotensi lebih ketat.
Pound sterling juga terbantu oleh pelemahan dolar secara umum. Namun, bukti yang tersedia tidak menunjukkan bahwa pengumuman Treasury sendirian menyebabkan kenaikan pound. Ketika dolar melemah, mata uang utama lain secara mekanis dapat menguat jika nilai tukarnya dikutip terhadap dolar.
Emas memiliki alasan yang lebih jelas terkait suku bunga. Imbal hasil nominal yang lebih rendah mengurangi biaya peluang memegang aset yang tidak memberikan bunga. Dolar yang melemah juga membuat emas relatif lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang selain dolar. Kondisi ini dapat mendukung permintaan emas, meski buyback tidak boleh dianggap sebagai satu-satunya penyebab pergerakan harganya.
Kenaikan Bitcoin sejalan dengan narasi yang lebih luas tentang imbal hasil yang menurun, ekspektasi likuiditas yang lebih longgar, dan permintaan terhadap aset yang oleh sebagian investor dipandang sebagai alternatif dari eksposur pada aset negara. Namun Bitcoin jauh lebih volatil dibandingkan mata uang utama atau obligasi pemerintah. Karena itu, kinerja mingguannya tidak dapat dikaitkan hanya dengan buyback Treasury.
Keputusan Treasury pada dasarnya merupakan dukungan untuk pasar obligasi, tetapi berubah menjadi faktor negatif bagi dolar karena cara investor menafsirkan dampak dan keterbatasannya. Pembelian yang lebih besar meningkatkan permintaan terhadap Treasury bertenor panjang, menekan imbal hasil, dan mengurangi keunggulan suku bunga dolar.
Pada saat yang sama, skala program yang terbatas serta tanggal berakhir yang sudah ditentukan menunjukkan bahwa kebijakan tersebut lebih merupakan bantuan sementara daripada penyelesaian permanen atas tekanan pasar obligasi jangka panjang.
Singkatnya, investor melihat buyback sebagai bantalan sekaligus peringatan. Program itu segera menopang harga Treasury, tetapi kebutuhan untuk melakukan intervensi justru menggarisbawahi tekanan yang telah melemahkan permintaan terhadap utang bertenor panjang. Kombinasi inilah yang menjelaskan mengapa dolar turun ketika obligasi Treasury menguat.