Prancis kemudian memanggil kuasa usaha Iran pada 21 Juli untuk menyampaikan protes dan memperingatkan bahwa insiden itu akan menimbulkan konsekuensi. Laporan juga menyebut salah satu pejabat tersebut mengalami luka yang terlihat setelah kejadian.
Paris memandang pengusiran ini sebagai tindakan balasan diplomatik—bukan sebagai temuan pidana bahwa dua diplomat Iran yang diusir secara pribadi melakukan penahanan atau kekerasan tersebut. Barrot mengumumkan bahwa dua perwakilan Iran di Prancis akan diusir, dan secara langsung mengaitkan keputusan itu dengan insiden di Teheran serta keputusan Iran untuk melarang dua pejabat Prancis kembali ke negara tersebut.
Iran menuduh staf Prancis tersebut mencampuri urusan dalam negerinya. Teheran kemudian menetapkan kedua pegawai kedutaan Prancis sebagai persona non grata, istilah diplomatik yang berarti mereka tidak lagi diizinkan kembali ke Iran. Otoritas Iran menyatakan bahwa keduanya terlibat dalam aktivitas yang berkaitan dengan dugaan campur tangan asing. Prancis menolak tuduhan itu dan menyoroti perlakuan yang mereka terima saat berada dalam tahanan.
Dengan demikian, keputusan Paris merupakan eskalasi timbal balik: Iran melarang dua staf Prancis kembali ke Teheran, sementara Prancis merespons dengan mengusir dua diplomat Iran dari wilayahnya.
Langkah tersebut paling tepat dipahami sebagai aksi saling balas dalam hubungan diplomatik. Namun, ini bukan berarti Prancis menyatakan bahwa diplomat Iran yang diusir adalah orang yang menahan atau menganiaya staf Prancis.
Pemerintah dapat menetapkan diplomat asing sebagai persona non grata tanpa menuduh secara terbuka bahwa individu tersebut melakukan tindakan yang memicu perselisihan. Pengumuman yang tersedia hanya menyebut jumlah diplomat Iran yang akan diusir, tanpa mengungkap nama atau jabatan mereka. Laporan yang dikutip juga tidak menjelaskan apakah keduanya dipilih karena memiliki peran tertentu dalam insiden 19 Juli.
Karena itu, alasan spesifik di balik pemilihan dua diplomat tersebut belum diketahui publik. Yang dapat dipastikan dari pengumuman resmi adalah bahwa pengusiran itu digunakan sebagai instrumen tekanan dan respons diplomatik, bukan sebagai proses hukum terhadap individu yang telah disebutkan namanya.
Pengusiran ini menambah ketegangan dalam hubungan Paris–Teheran, yang sudah diwarnai perselisihan mengenai akses diplomatik, dugaan campur tangan, dan hubungan kebudayaan. Penahanan staf Prancis tersebut dikaitkan dengan pertemuan yang melibatkan tokoh kebudayaan Iran. Kasus ini juga dilaporkan sebagai bagian dari pengetatan kontrol Iran terhadap pertukaran kebudayaan dengan Prancis.
Barrot berusaha membedakan antara pemerintah Iran dan masyarakat Iran. Ia menyatakan bahwa Prancis tetap dapat mendukung seniman, ilmuwan, dan peneliti Iran, sembari mengambil tindakan terhadap kebijakan yang dikaitkan dengan otoritas Iran.
Untuk saat ini, pesan diplomatik Paris cukup jelas: Prancis ingin membebankan biaya politik kepada Iran atas perlakuan terhadap staf kedutaannya. Di sisi lain, Iran menggunakan keputusan persona non grata untuk mempertahankan tuduhannya mengenai campur tangan asing. Identitas dan jabatan dua diplomat Iran yang akan diusir masih belum diungkap dalam laporan publik yang tersedia.
Prancis kemudian memanggil kuasa usaha Iran pada 21 Juli untuk menyampaikan protes dan memperingatkan bahwa insiden itu akan menimbulkan konsekuensi. Laporan juga menyebut salah satu pejabat tersebut mengalami luka yang terlihat setelah kejadian.
Paris memandang pengusiran ini sebagai tindakan balasan diplomatik—bukan sebagai temuan pidana bahwa dua diplomat Iran yang diusir secara pribadi melakukan penahanan atau kekerasan tersebut. Barrot mengumumkan bahwa dua perwakilan Iran di Prancis akan diusir, dan secara langsung mengaitkan keputusan itu dengan insiden di Teheran serta keputusan Iran untuk melarang dua pejabat Prancis kembali ke negara tersebut.
Iran menuduh staf Prancis tersebut mencampuri urusan dalam negerinya. Teheran kemudian menetapkan kedua pegawai kedutaan Prancis sebagai persona non grata, istilah diplomatik yang berarti mereka tidak lagi diizinkan kembali ke Iran. Otoritas Iran menyatakan bahwa keduanya terlibat dalam aktivitas yang berkaitan dengan dugaan campur tangan asing. Prancis menolak tuduhan itu dan menyoroti perlakuan yang mereka terima saat berada dalam tahanan.
Dengan demikian, keputusan Paris merupakan eskalasi timbal balik: Iran melarang dua staf Prancis kembali ke Teheran, sementara Prancis merespons dengan mengusir dua diplomat Iran dari wilayahnya.
Langkah tersebut paling tepat dipahami sebagai aksi saling balas dalam hubungan diplomatik. Namun, ini bukan berarti Prancis menyatakan bahwa diplomat Iran yang diusir adalah orang yang menahan atau menganiaya staf Prancis.
Pemerintah dapat menetapkan diplomat asing sebagai persona non grata tanpa menuduh secara terbuka bahwa individu tersebut melakukan tindakan yang memicu perselisihan. Pengumuman yang tersedia hanya menyebut jumlah diplomat Iran yang akan diusir, tanpa mengungkap nama atau jabatan mereka. Laporan yang dikutip juga tidak menjelaskan apakah keduanya dipilih karena memiliki peran tertentu dalam insiden 19 Juli.
Karena itu, alasan spesifik di balik pemilihan dua diplomat tersebut belum diketahui publik. Yang dapat dipastikan dari pengumuman resmi adalah bahwa pengusiran itu digunakan sebagai instrumen tekanan dan respons diplomatik, bukan sebagai proses hukum terhadap individu yang telah disebutkan namanya.
Pengusiran ini menambah ketegangan dalam hubungan Paris–Teheran, yang sudah diwarnai perselisihan mengenai akses diplomatik, dugaan campur tangan, dan hubungan kebudayaan. Penahanan staf Prancis tersebut dikaitkan dengan pertemuan yang melibatkan tokoh kebudayaan Iran. Kasus ini juga dilaporkan sebagai bagian dari pengetatan kontrol Iran terhadap pertukaran kebudayaan dengan Prancis.
Barrot berusaha membedakan antara pemerintah Iran dan masyarakat Iran. Ia menyatakan bahwa Prancis tetap dapat mendukung seniman, ilmuwan, dan peneliti Iran, sembari mengambil tindakan terhadap kebijakan yang dikaitkan dengan otoritas Iran.
Untuk saat ini, pesan diplomatik Paris cukup jelas: Prancis ingin membebankan biaya politik kepada Iran atas perlakuan terhadap staf kedutaannya. Di sisi lain, Iran menggunakan keputusan persona non grata untuk mempertahankan tuduhannya mengenai campur tangan asing. Identitas dan jabatan dua diplomat Iran yang akan diusir masih belum diungkap dalam laporan publik yang tersedia.