Pada 28 Agustus, Brent ditutup di US$89,31 per barel dan WTI di US$83,40, memperpanjang penurunan mingguan untuk kali ketiga berturut turut. Pasar menilai peluang gangguan pasokan berkepanjangan melalui Selat Hormuz mulai mengecil setelah muncul kabar koridor pelayaran Iran–Oman, tambahan arus minyak, dan upaya pemb...
Jawaban penelitian

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: Why did crude oil prices fall on Friday, marking a third consecutive weekly decline—with Brent settling at $89.31 a barrel, down 39 cents (0. Article summary: Crude fell because traders priced in a less severe near-term supply disruption at the Strait of Hormuz while also reassessing demand risk from potentially tighter U.S. monetary policy. The declines reflected a reduction . Topic tags: general, news, general web. Style: premium digital editorial illustration, source-backed research mood, clean composition, high detail, modern web publication hero. Use reference image context only for broad subject, composition, and topical grounding; do not copy the exact image. Avoid: logos, brand marks, copyrighted characters, real person likenesses, fake screenshots, UI text, readable text, watermarks, charts with fake numbers
Harga minyak mentah berakhir lebih rendah pada Jumat, 28 Agustus 2026, sekaligus mencatat penurunan mingguan ketiga berturut-turut. Brent turun 39 sen menjadi US$89,31 per barel dan merosot lebih dari 5% sepanjang pekan. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI), acuan minyak Amerika Serikat, turun 13 sen menjadi US$83,40 per barel dan melemah lebih dari 4% dalam sepekan. 27
Penurunan ini bukan berarti krisis pelayaran di Selat Hormuz telah selesai. Penyebab utamanya adalah perubahan ekspektasi pasar: trader mulai menilai peluang gangguan pasokan fisik yang berkepanjangan lebih kecil, sembari memperhitungkan risiko permintaan yang melemah jika kebijakan moneter AS tetap ketat. Reuters menyebut tambahan arus pasokan, rencana koridor pelayaran Iran–Oman, dan klaim operasi pembersihan ranjau oleh AS sebagai faktor yang mengejutkan pasar. 18
Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi pengiriman minyak dari kawasan Teluk. Ketika lalu lintas kapal dibatasi, harga minyak biasanya mendapat tambahan premi risiko geopolitik karena pasar khawatir pasokan global akan terganggu.
Namun, pada Jumat, kabar mengenai perkembangan diplomatik membuka kemungkinan bahwa sebagian arus pelayaran dapat dipulihkan. Iran dan Oman membahas koridor navigasi sementara serta kerja sama pembersihan ranjau. Upaya mediasi terpisah juga mendorong Teheran menyusun sejumlah syarat untuk memulihkan lalu lintas normal. 31
33
35
Perkembangan tersebut belum menjamin Selat Hormuz akan segera dibuka sepenuhnya. Akan tetapi, kemungkinan terjadinya skenario terburuk—yakni terhentinya pasokan dalam waktu lama—mulai dinilai lebih rendah oleh pasar.
Inilah sebabnya harga minyak dapat turun meski konflik dan gangguan pelayaran masih berlangsung. Dalam perdagangan komoditas, harga bergerak berdasarkan perubahan risiko yang diperkirakan, bukan hanya berdasarkan kondisi yang sudah benar-benar pulih.
Risiko di Selat Hormuz tetap besar. Laporan sebelumnya menunjukkan jumlah kapal yang melintas turun menjadi enam, dibandingkan rata-rata sekitar 11 kapal dalam periode 10 hari. Iran juga menyatakan selat tersebut akan tetap ditutup sampai Amerika Serikat mengubah kebijakannya. 5
Karena itu, pembahasan mengenai koridor sementara dan pembersihan ranjau lebih tepat dilihat sebagai kerangka awal, bukan bukti bahwa navigasi normal telah kembali. Lalu lintas kapal masih tidak merata, sementara syarat Iran untuk memulihkan pelayaran normal masih dalam tahap penyusunan. Belum jelas pula apakah kesepakatan apa pun nantinya dapat diterapkan secara konsisten dan bertahan lama. 33
Dengan kata lain, pasar hanya mengurangi sebagian premi risiko—bukan menghapusnya sepenuhnya.
Selain isu pasokan, investor mencermati sinyal mengenai kebijakan inflasi Federal Reserve, bank sentral AS. Peringatan bahwa inflasi masih berada di atas target 2% dan kemungkinan perlunya kenaikan suku bunga membuat pasar mempertimbangkan kondisi keuangan yang lebih ketat.
Suku bunga yang lebih tinggi dapat memperlambat aktivitas ekonomi dan menekan konsumsi energi. Dampaknya terhadap minyak muncul dari sisi permintaan: jika pertumbuhan ekonomi dan kegiatan industri melemah, kebutuhan terhadap bahan bakar dan minyak mentah juga berpotensi turun. 18
Faktor ini memperkuat reaksi bearish pasar. Trader pada saat yang sama menurunkan perkiraan terhadap besarnya gangguan pasokan di Hormuz dan menilai prospek permintaan global mungkin menjadi kurang mendukung.
Pemulihan ekspor dari kawasan Teluk dan peningkatan arus melalui koridor Iran–Oman menunjukkan bahwa kehilangan pasokan yang benar-benar dapat diakses mungkin lebih kecil daripada kekhawatiran awal. Reuters melaporkan pasar terkejut oleh tambahan arus tersebut, rencana koridor pelayaran Iran–Oman, serta klaim AS mengenai pembersihan ranjau. 18
Persediaan minyak mentah AS yang meningkat juga memberikan sinyal bearish yang lebih konkret dalam jangka pendek. Kenaikan stok tidak secara otomatis menentukan arah pasar global, tetapi dapat menunjukkan bahwa pasokan saat ini melebihi permintaan segera, atau bahwa kondisi kilang dan ekspor tidak sekuat perkiraan. 8
Jika pembukaan kembali Selat Hormuz berlangsung secara berkelanjutan dan dapat diverifikasi, akses terhadap minyak dari kawasan Teluk akan membaik. Premi risiko geopolitik pun dapat berkurang. Apabila lalu lintas kapal kembali normal dan kesepakatan diplomatik bertahan, tambahan pasokan yang tersedia dapat memberi tekanan turun pada harga.
Harga minyak sebelumnya juga melemah ketika pasar semakin yakin bahwa kesepakatan damai antara AS dan Iran akan tercapai. 20
Ekspektasi permintaan AS yang lebih lemah dalam waktu lebih lama akan menambah tekanan tersebut. Kenaikan suku bunga tidak terlalu penting sebagai peristiwa satu hari, tetapi dapat berdampak besar jika menjadi bagian dari perlambatan ekonomi yang lebih luas.
Skenario bearish bergantung pada apakah kemajuan diplomatik benar-benar berubah menjadi pengaturan pelayaran yang berjalan. Negosiasi yang gagal, persyaratan baru dari Iran, serangan terhadap kapal tanker, atau penurunan tajam jumlah kapal yang melintas dapat dengan cepat menghidupkan kembali premi risiko. Harga minyak sebelumnya naik ketika kesepakatan damai diragukan dan ancaman terhadap pelayaran meningkat. 2
5
Sanksi AS terhadap Iran juga menjadi sumber ketidakpastian. Sanksi yang lebih keras dapat membatasi ekspor Iran, mengurangi kemauan Teheran untuk bekerja sama dalam pengaturan navigasi, dan meningkatkan risiko eskalasi.
Di luar Hormuz, serangan Ukraina terhadap kilang Rusia merupakan risiko kenaikan dari sisi produk olahan. Dampaknya mungkin lebih terasa pada harga solar dan bensin dibandingkan harga minyak mentah, kecuali serangan meluas dan mengganggu arus pasokan secara signifikan.
Kemungkinan Venezuela keluar dari OPEC juga dapat menambah ketidakpastian mengenai kebijakan produksi dan kekompakan organisasi tersebut. Jika hal itu mendorong produksi Venezuela lebih tinggi atau mengurangi koordinasi pembatasan pasokan, dampaknya dapat menekan harga. Namun, apabila keluarnya Venezuela berkaitan dengan gangguan politik atau penurunan kapasitas produksi, dampaknya justru dapat mendukung harga. Bukti yang tersedia belum cukup untuk menentukan skenario mana yang lebih mungkin.
Penurunan harga minyak pada Jumat mencerminkan pergeseran moderat ke arah bearish dalam penilaian risiko jangka pendek. Harapan atas normalisasi sebagian di Selat Hormuz, kembalinya sebagian arus minyak Teluk, klaim pembersihan ranjau, dan kenaikan persediaan AS mengalahkan premi risiko geopolitik yang masih tersisa. Kekhawatiran terhadap kebijakan moneter AS yang lebih ketat turut menjadi beban dari sisi permintaan. 18
27
Namun, penurunan tersebut bukan tanda bahwa krisis telah berakhir. Lalu lintas kapal masih tidak stabil, rencana yang dibahas belum sama dengan pembukaan permanen yang dapat ditegakkan, dan sanksi maupun konflik baru dapat membalikkan arah harga dengan cepat.
Untuk saat ini, pasar minyak sedang menimbang dua kemungkinan: peluang gangguan pasokan langsung yang lebih kecil, tetapi risiko bahwa Selat Hormuz tetap menjadi jalur yang tidak dapat diandalkan masih cukup besar.
Studio Global AI
Halaman ini berisi jawaban yang didukung sumber yang dapat Anda lanjutkan di dalam Studio Global.
Pada 28 Agustus, Brent ditutup di US$89,31 per barel dan WTI di US$83,40, memperpanjang penurunan mingguan untuk kali ketiga berturut turut.
Pada 28 Agustus, Brent ditutup di US$89,31 per barel dan WTI di US$83,40, memperpanjang penurunan mingguan untuk kali ketiga berturut turut. Pasar menilai peluang gangguan pasokan berkepanjangan melalui Selat Hormuz mulai mengecil setelah muncul kabar koridor pelayaran Iran–Oman, tambahan arus minyak, dan upaya pembersihan ranjau.
Sinyal kebijakan moneter AS yang lebih ketat serta kenaikan persediaan minyak mentah Amerika Serikat turut menekan prospek permintaan.