Namun, seruan itu muncul pada waktu yang sulit diabaikan. Tiga hari sebelumnya, pada 1 Juni, Anthropic mengajukan rancangan dokumen S-1 secara rahasia kepada Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat (SEC) sebagai langkah awal menuju penawaran saham perdana atau IPO . Sekitar sepekan sebelumnya, perusahaan menutup putaran pendanaan Series H senilai US$65 miliar dengan valuasi pascapendanaan US$965 miliar—menjadikannya perusahaan rintisan AI paling bernilai di dunia, sekaligus melampaui OpenAI .
Pendapatan tahunannya jika disetahunkan juga disebut telah mencapai US$47 miliar, naik dari US$30 miliar hanya dalam waktu enam pekan .
Di sinilah paradoks Anthropic menjadi sorotan: perusahaan yang tampil sebagai pengingat keselamatan AI juga sedang bergerak sangat agresif untuk memperbesar kapasitas komputasi, menjual lebih banyak produk, dan memasuki pasar saham publik.
Tulisan 4 Juni itu ditulis bersama oleh pimpinan lembaga riset internal Anthropic dan kepala kebijakannya . Isinya mengungkap bahwa kemampuan model-model paling maju perusahaan meningkat dengan cepat. Anthropic memperingatkan bahwa tren tersebut tampak menuju “recursive self-improvement”, ambang yang oleh sebagian kalangan di dunia AI dipandang berpotensi memicu bahaya dan guncangan sosial berskala besar .
Anthropic tidak mengusulkan perjanjian internasional tertentu, lembaga pengawas baru, atau mekanisme regulasi yang rinci. Perusahaan menyerukan kesepakatan terkoordinasi secara global di antara laboratorium AI untuk menghentikan sementara—atau setidaknya memperlambat—pengembangan model frontier .
Seruan ini langsung memunculkan tafsir skeptis. Sebagian pelaku pasar menilainya sebagai strategi pemasaran atau bentuk regulatory capture: perusahaan yang sudah memiliki posisi kuat meminta para pesaing berhenti berlari, sehingga keunggulannya lebih mudah dipertahankan . Bukti yang tersedia belum cukup untuk memastikan apakah tafsir itu benar, tetapi kecurigaan tersebut muncul karena seruan jeda berdekatan dengan langkah-langkah komersial terbesar Anthropic.
Rangkaian peristiwa pada 2026 memperlihatkan ketegangan tersebut secara gamblang:
Dilema utamanya sederhana: Anthropic membutuhkan modal yang sangat besar untuk membeli daya komputasi, mengembangkan model, dan memperluas bisnisnya. Pada saat yang sama, perusahaan berpendapat bahwa laju pengembangan teknologi tersebut mungkin justru perlu dibatasi.
Pada April 2026, Anthropic mengambil langkah yang tampak menempatkan keselamatan di atas kepentingan komersial. Pada 7 April, perusahaan menyatakan tidak akan merilis Claude Mythos—model paling canggih yang pernah dilatihnya—kepada publik setelah pengujian menunjukkan bahwa model tersebut mampu menemukan kerentanan berisiko tinggi pada sistem operasi dan peramban utama .
Dalam pengujian internal, Mythos disebut menemukan ribuan kerentanan zero-day yang sebelumnya tidak diketahui. Di antaranya adalah bug berusia 27 tahun pada OpenBSD dan kelemahan berusia 16 tahun pada FFmpeg. Perangkat pengujian otomatis sebelumnya tidak menemukan kelemahan FFmpeg tersebut meski baris kode yang terdampak telah dijalankan lima juta kali .
Anthropic kemudian membatasi akses Mythos kepada sekitar 11 mitra melalui program terbatas bernama “Project Glasswing” .
Keputusan ini merupakan pengorbanan komersial yang nyata. Anthropic tidak langsung menjual model terbaiknya kepada seluruh pelanggan berbayar, sementara para pesaing tetap merilis model frontier mereka secara lebih luas . Dengan kata lain, perusahaan memang pernah memilih membatasi potensi pendapatan demi mengurangi risiko penyalahgunaan.
Akan tetapi, pada Februari 2026, Anthropic diam-diam menghapus komitmen yang sebelumnya menjadi fondasi citranya sebagai laboratorium AI yang mengutamakan keselamatan. Kebijakan Responsible Scaling Policy perusahaan pernah memuat janji untuk menghentikan pengembangan apabila AI miliknya menjadi terlalu berbahaya . Komitmen tersebut kemudian dihapus sepenuhnya .
Kelompok advokasi Stop the AI Race mendokumentasikan perubahan itu. Kelompok tersebut menyatakan bahwa Holden Karnofsky, mantan CEO Open Philanthropy yang kini bekerja di Anthropic, mengakui adanya “tekanan yang sangat besar” untuk mengecilkan risiko karena memicu jeda pengembangan akan merugikan perusahaan . Solusi yang diambil, menurut kelompok itu, adalah menghapus komitmennya .
Urutannya menimbulkan pertanyaan serius: apakah keselamatan tetap menjadi batas operasional, atau hanya menjadi prinsip yang berlaku selama tidak terlalu mengganggu ekspansi bisnis? Fakta bahwa janji tersebut dicabut beberapa bulan sebelum pengajuan IPO membuat pertanyaan itu semakin relevan, meski hubungan sebab-akibatnya belum dapat dipastikan dari informasi yang tersedia.
Jika disusun secara berurutan, langkah Anthropic tampak seperti ini:
Para pengkritik melihat pola bahwa Anthropic menggunakan advokasi keselamatan untuk mengunci keunggulan kompetitifnya . Menurut pandangan ini, perusahaan yang sudah berada di posisi terdepan akan diuntungkan jika seluruh industri mengurangi kecepatan.
Sebaliknya, para pendukung dapat melihatnya sebagai konflik yang sungguh-sungguh: Anthropic berusaha mempertahankan misi pendiriannya sambil bersaing di industri yang membutuhkan modal dan komputasi dalam jumlah luar biasa besar. Jika perusahaan berhenti sendirian, pesaing bisa terus melaju dan mengambil pasar.
Kedua tafsir tersebut masih mungkin. Bukti yang ada belum menyelesaikan ambiguitasnya.
Yang semakin jelas adalah bahwa konflik ini bukan lagi sekadar persoalan komunikasi. Sulit bagi sebuah perusahaan untuk menjadi suara paling keras yang meminta perlambatan global, sembari menjadi salah satu pemain komersial dengan laju pertumbuhan paling agresif dalam perlombaan yang sama, tanpa menghadapi masalah kredibilitas.
Pasar telah memperhatikannya. Kelompok aktivis juga telah menyorotinya . Ketika prospektus IPO Anthropic nantinya dipublikasikan, perusahaan harus menjelaskan hubungan antara risiko AI, kebutuhan modal, strategi pertumbuhan, dan keputusan produk dalam bahasa yang memiliki konsekuensi hukum bagi investor.
Anthropic menunjukkan bahwa advokasi keselamatan dan ambisi bisnis memang dapat hidup berdampingan dalam sebuah pernyataan misi. Namun, ketika diterjemahkan ke dalam keputusan tentang pendanaan, kapasitas komputasi, produk, dan valuasi, keduanya semakin sulit dipertemukan.
Untuk saat ini, Anthropic sekaligus berperan sebagai pengusung rem keselamatan AI dan salah satu pembalap tercepat dalam perlombaan komersial teknologi tersebut. Justru ketegangan itulah yang akan menjadi ujian terbesar bagi kredibilitasnya menjelang IPO.
Namun, seruan itu muncul pada waktu yang sulit diabaikan. Tiga hari sebelumnya, pada 1 Juni, Anthropic mengajukan rancangan dokumen S-1 secara rahasia kepada Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat (SEC) sebagai langkah awal menuju penawaran saham perdana atau IPO . Sekitar sepekan sebelumnya, perusahaan menutup putaran pendanaan Series H senilai US$65 miliar dengan valuasi pascapendanaan US$965 miliar—menjadikannya perusahaan rintisan AI paling bernilai di dunia, sekaligus melampaui OpenAI .
Pendapatan tahunannya jika disetahunkan juga disebut telah mencapai US$47 miliar, naik dari US$30 miliar hanya dalam waktu enam pekan .
Di sinilah paradoks Anthropic menjadi sorotan: perusahaan yang tampil sebagai pengingat keselamatan AI juga sedang bergerak sangat agresif untuk memperbesar kapasitas komputasi, menjual lebih banyak produk, dan memasuki pasar saham publik.
Tulisan 4 Juni itu ditulis bersama oleh pimpinan lembaga riset internal Anthropic dan kepala kebijakannya . Isinya mengungkap bahwa kemampuan model-model paling maju perusahaan meningkat dengan cepat. Anthropic memperingatkan bahwa tren tersebut tampak menuju “recursive self-improvement”, ambang yang oleh sebagian kalangan di dunia AI dipandang berpotensi memicu bahaya dan guncangan sosial berskala besar .
Anthropic tidak mengusulkan perjanjian internasional tertentu, lembaga pengawas baru, atau mekanisme regulasi yang rinci. Perusahaan menyerukan kesepakatan terkoordinasi secara global di antara laboratorium AI untuk menghentikan sementara—atau setidaknya memperlambat—pengembangan model frontier .
Seruan ini langsung memunculkan tafsir skeptis. Sebagian pelaku pasar menilainya sebagai strategi pemasaran atau bentuk regulatory capture: perusahaan yang sudah memiliki posisi kuat meminta para pesaing berhenti berlari, sehingga keunggulannya lebih mudah dipertahankan . Bukti yang tersedia belum cukup untuk memastikan apakah tafsir itu benar, tetapi kecurigaan tersebut muncul karena seruan jeda berdekatan dengan langkah-langkah komersial terbesar Anthropic.
Rangkaian peristiwa pada 2026 memperlihatkan ketegangan tersebut secara gamblang:
Dilema utamanya sederhana: Anthropic membutuhkan modal yang sangat besar untuk membeli daya komputasi, mengembangkan model, dan memperluas bisnisnya. Pada saat yang sama, perusahaan berpendapat bahwa laju pengembangan teknologi tersebut mungkin justru perlu dibatasi.
Pada April 2026, Anthropic mengambil langkah yang tampak menempatkan keselamatan di atas kepentingan komersial. Pada 7 April, perusahaan menyatakan tidak akan merilis Claude Mythos—model paling canggih yang pernah dilatihnya—kepada publik setelah pengujian menunjukkan bahwa model tersebut mampu menemukan kerentanan berisiko tinggi pada sistem operasi dan peramban utama .
Dalam pengujian internal, Mythos disebut menemukan ribuan kerentanan zero-day yang sebelumnya tidak diketahui. Di antaranya adalah bug berusia 27 tahun pada OpenBSD dan kelemahan berusia 16 tahun pada FFmpeg. Perangkat pengujian otomatis sebelumnya tidak menemukan kelemahan FFmpeg tersebut meski baris kode yang terdampak telah dijalankan lima juta kali .
Anthropic kemudian membatasi akses Mythos kepada sekitar 11 mitra melalui program terbatas bernama “Project Glasswing” .
Keputusan ini merupakan pengorbanan komersial yang nyata. Anthropic tidak langsung menjual model terbaiknya kepada seluruh pelanggan berbayar, sementara para pesaing tetap merilis model frontier mereka secara lebih luas . Dengan kata lain, perusahaan memang pernah memilih membatasi potensi pendapatan demi mengurangi risiko penyalahgunaan.
Akan tetapi, pada Februari 2026, Anthropic diam-diam menghapus komitmen yang sebelumnya menjadi fondasi citranya sebagai laboratorium AI yang mengutamakan keselamatan. Kebijakan Responsible Scaling Policy perusahaan pernah memuat janji untuk menghentikan pengembangan apabila AI miliknya menjadi terlalu berbahaya . Komitmen tersebut kemudian dihapus sepenuhnya .
Kelompok advokasi Stop the AI Race mendokumentasikan perubahan itu. Kelompok tersebut menyatakan bahwa Holden Karnofsky, mantan CEO Open Philanthropy yang kini bekerja di Anthropic, mengakui adanya “tekanan yang sangat besar” untuk mengecilkan risiko karena memicu jeda pengembangan akan merugikan perusahaan . Solusi yang diambil, menurut kelompok itu, adalah menghapus komitmennya .
Urutannya menimbulkan pertanyaan serius: apakah keselamatan tetap menjadi batas operasional, atau hanya menjadi prinsip yang berlaku selama tidak terlalu mengganggu ekspansi bisnis? Fakta bahwa janji tersebut dicabut beberapa bulan sebelum pengajuan IPO membuat pertanyaan itu semakin relevan, meski hubungan sebab-akibatnya belum dapat dipastikan dari informasi yang tersedia.
Jika disusun secara berurutan, langkah Anthropic tampak seperti ini:
Para pengkritik melihat pola bahwa Anthropic menggunakan advokasi keselamatan untuk mengunci keunggulan kompetitifnya . Menurut pandangan ini, perusahaan yang sudah berada di posisi terdepan akan diuntungkan jika seluruh industri mengurangi kecepatan.
Sebaliknya, para pendukung dapat melihatnya sebagai konflik yang sungguh-sungguh: Anthropic berusaha mempertahankan misi pendiriannya sambil bersaing di industri yang membutuhkan modal dan komputasi dalam jumlah luar biasa besar. Jika perusahaan berhenti sendirian, pesaing bisa terus melaju dan mengambil pasar.
Kedua tafsir tersebut masih mungkin. Bukti yang ada belum menyelesaikan ambiguitasnya.
Yang semakin jelas adalah bahwa konflik ini bukan lagi sekadar persoalan komunikasi. Sulit bagi sebuah perusahaan untuk menjadi suara paling keras yang meminta perlambatan global, sembari menjadi salah satu pemain komersial dengan laju pertumbuhan paling agresif dalam perlombaan yang sama, tanpa menghadapi masalah kredibilitas.
Pasar telah memperhatikannya. Kelompok aktivis juga telah menyorotinya . Ketika prospektus IPO Anthropic nantinya dipublikasikan, perusahaan harus menjelaskan hubungan antara risiko AI, kebutuhan modal, strategi pertumbuhan, dan keputusan produk dalam bahasa yang memiliki konsekuensi hukum bagi investor.
Anthropic menunjukkan bahwa advokasi keselamatan dan ambisi bisnis memang dapat hidup berdampingan dalam sebuah pernyataan misi. Namun, ketika diterjemahkan ke dalam keputusan tentang pendanaan, kapasitas komputasi, produk, dan valuasi, keduanya semakin sulit dipertemukan.
Untuk saat ini, Anthropic sekaligus berperan sebagai pengusung rem keselamatan AI dan salah satu pembalap tercepat dalam perlombaan komersial teknologi tersebut. Justru ketegangan itulah yang akan menjadi ujian terbesar bagi kredibilitasnya menjelang IPO.