SAIC, mitra dari pabrikan mobil Wuling yang familier di Indonesia, bergerak agresif dengan menggandeng QingTao Energy.
Changan berambisi tidak hanya untuk mobil, tetapi juga untuk robot.
Grup otomotif yang membawahi Volvo, Polestar, dan Lotus ini memiliki peta jalan yang jelas.
GAC menjadi salah satu yang terdepan dalam hal fasilitas produksi.
Pabrikan mobil tertua di China ini tidak mau ketinggalan melalui merek premiumnya, Hongqi.
Di atas kertas, lompatan dari baterai lithium-ion konvensional ke baterai solid-state sangat menggiurkan. Kepadatan energi yang bisa dua kali lipat berarti mobil bisa melaju 1.000 km tanpa perlu mengisi daya, atau tetap ringan dengan jarak tempuh standar. Pengisian daya super cepat dan risiko kebakaran yang jauh lebih rendah berkat tidak adanya elektrolit cair yang mudah terbakar adalah nilai jual utamanya.
Namun, membawa teknologi ini dari laboratorium ke garasi rumah kita bukanlah perkara mudah. Pakar energi baru terkemuka China, Ouyang Minggao, memperingatkan bahwa meskipun kendaraan uji coba akan muncul di jalanan China dari akhir 2026 hingga 2027, produksi massal yang sesungguhnya masih setidaknya 3 hingga 5 tahun lagi . Ia merinci peta jalan yang lebih realistis:
Apa saja rintangan yang membuat baterai ajaib ini belum bisa diproduksi massal dengan harga terjangkau?
Melihat potensi besar ini, pemerintah China tidak tinggal diam. Beijing secara aktif membangun fondasi regulasi dan keuangan untuk mempercepat komersialisasi.
Dengan kombinasi ambisi industri yang membara dan dukungan regulasi yang semakin jelas, China memosisikan diri sebagai pusat gravitasi dalam perlombaan baterai solid-state global. Namun, bagi konsumen di Indonesia dan seluruh dunia, mobil listrik dengan baterai ajaib ini tampaknya baru akan benar-benar terjangkau dan tersedia secara luas di jalanan menjelang akhir dekade ini.
Comments
0 comments