Laba per saham terdilusi mencapai US$2,02, naik 29% secara tahunan. Kedua angka tersebut melampaui perkiraan analis, tetapi saham Apple justru melemah setelah jam perdagangan karena investor mempertanyakan keberlanjutan keuntungan dari pengembalian tarif, kenaikan biaya memori, dan prospek penjualan yang lebih hati-hati .
Pendapatan Apple sebesar US$109,4 miliar berada di atas konsensus analis sekitar US$108,86 miliar. Laba per saham US$2,02 juga mengungguli perkiraan US$1,89 . Laba bersih perusahaan mencapai US$29,8 miliar pada kuartal tersebut .
Kinerja sejumlah lini utama Apple tetap solid:
Basis perangkat aktif Apple juga melampaui 2,5 miliar unit . Seluruh wilayah tempat Apple menjual produknya membukukan rekor pendapatan untuk kuartal Juni, termasuk India .
Margin kotor perusahaan tercatat 50,1%. Namun, angka tersebut sudah memasukkan dampak positif sekitar 2 poin persentase dari pengembalian tarif . Pengembalian itu juga memberikan tambahan sekitar US$0,11 per saham terhadap laba—setara dengan estimasi sekitar US$2,19 miliar .
Chief financial officer Apple mengatakan, tanpa pengembalian tarif tersebut, margin kotor perusahaan akan berada di titik tengah kisaran panduan yang sebelumnya diberikan . Artinya, keunggulan laba Apple atas perkiraan analis sebenarnya lebih tipis jika faktor satu kali itu dikeluarkan.
Pengembalian tersebut berkaitan dengan putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat pada Februari yang membatalkan rezim tarif global Gedung Putih. Para analis menilai keuntungan serupa kemungkinan tidak berulang dalam skala yang sama .
Di balik laporan keuangan yang gemilang, Apple menghadapi tekanan biaya komponen yang semakin berat. Tim Cook menggambarkan kondisi harga memori sebagai “banjir seratus tahun”, yang dipicu oleh permintaan perangkat keras untuk kecerdasan buatan (AI) .
Kenaikan harga dan kelangkaan chip memori berdampak langsung pada biaya produksi iPhone, Mac, dan iPad. Apple telah menimbun persediaan untuk menghadapi apa yang disebutnya sebagai “kendala pasokan signifikan”. Perusahaan juga menaikkan harga sejumlah produk pada Juni untuk membantu mengimbangi kenaikan biaya memori .
Apple memperkirakan situasi ini masih dapat memburuk. The Wall Street Journal melaporkan bahwa Gedung Putih ikut terseret dalam perselisihan antara Apple dan Micron, pemasok komponen memori terbesar di Amerika Serikat .
Tekanan rantai pasok Apple semakin rumit pada hari yang sama dengan rilis laporan keuangan. Para senator Amerika Serikat meminta Apple menghentikan pengadaan chip memori dari pemasok China YMTC dan CXMT paling lambat 21 Agustus .
Langkah tersebut menambah tekanan bagi Apple untuk mencari sumber alternatif, sekaligus berpotensi menguntungkan Micron sebagai pesaing domestik. Saham Apple sempat turun 0,92% menjadi US$335,07 setelah kabar tersebut beredar .
Reaksi pasar menunjukkan bahwa investor lebih memikirkan prospek beberapa kuartal ke depan daripada sekadar angka historis. Meskipun pendapatan dan laba per saham Apple melampaui perkiraan, sahamnya dilaporkan turun sekitar 6% dalam perdagangan setelah jam bursa karena proyeksi penjualan dinilai kurang memuaskan di tengah kelangkaan pasokan dan kenaikan biaya memori .
Kombinasi keuntungan tarif yang bersifat satu kali, inflasi biaya memori yang diperkirakan berlanjut, dan keterbatasan komponen membuat investor lebih berhati-hati terhadap arah laba Apple dalam waktu dekat.
Panggilan laporan keuangan ini menandai berakhirnya satu era bagi Apple. Cook memimpin panggilan kuartalan ke-90 dan terakhirnya sebagai CEO . Sekitar lima minggu kemudian, pada 1 September 2026, ia dijadwalkan menyerahkan jabatan tersebut kepada John Ternus, yang saat ini menjabat sebagai wakil presiden senior bidang rekayasa perangkat keras .
Selama masa kepemimpinan Cook, Apple berkembang menjadi perusahaan paling bernilai di dunia. Namun, penerusnya akan menghadapi lanskap yang jauh lebih rumit: ketegangan perdagangan, gangguan rantai pasok, tekanan politik mengenai sumber komponen, serta kondisi harga memori yang disebut sebagai salah satu yang terburuk dalam sejarah industri modern.