Pertarungan paling sengit terjadi di Pasal 5 yang mengatur alokasi hak pajak yang adil. Celah utara-selatan melebar .
Di hari ke-9, para delegasi berdebat soal protokol sengketa pajak, termasuk bagaimana menangani sengketa di negara yang tidak memiliki perjanjian pajak dan mekanisme mana yang wajib diadopsi . Soal arbitrase wajib ini menjadi batu sandungan abadi: negara maju cenderung mendukung arbitrase yang mengikat demi kepastian, sementara negara berkembang sering melihatnya sebagai pembatasan kedaulatan pajak mereka.
Para negosiator juga memperdebatkan apakah kecerdasan buatan (AI) harus masuk dalam cakupan Protokol 1 tentang layanan lintas batas . Mereka membahas ambang batas (nexus) untuk biaya jasa di era ekonomi digital. Beberapa negara khawatir akan muncul klaim tumpang tindih atas hak pajak negara sumber di bawah aturan nexus yang diusulkan
.
Sebuah studi bersama Tax Justice Network dan Public Services International yang dirilis bertepatan dengan sidang menemukan bahwa memajaki perusahaan multinasional berdasarkan tempat aktivitas ekonomi riil (dikenal sebagai unitary taxation) bisa menghasilkan tambahan penerimaan pajak perusahaan antara US$ 300 miliar hingga lebih dari US$ 500 miliar per tahun, tanpa menaikkan tarif pajak . Angka US$ 500 miliar menjadi sorotan utama
.
Argumen inti laporan itu: gantikan sistem berusia seabad yang memungkinkan perusahaan multinasional "bayar di mana Anda bilang" (pay where you say) — yaitu mendeklarasikan laba di mana pun mereka suka, seringkali di yurisdiksi pajak rendah — dengan model "bayar di mana Anda bermain" (pay where you play) yang memajaki mereka di tempat mereka benar-benar beroperasi . Sebagai gambaran, US$ 500 miliar hampir 40% dari target pendanaan iklim tahunan sebesar US$ 1,3 triliun yang disepakati negara-negara untuk dimobilisasi pada 2035
.
Beberapa isu kritis masih menggantung menjelang sidang berikutnya:
Isu-isu ini akan menentukan apakah konvensi benar-benar bisa mewujudkan sistem pajak global yang lebih adil dan efektif.
Sidang negosiasi keenam dijadwalkan di Nairobi, Kenya, dari 30 November hingga 11 Desember 2026 . INC dijadwalkan bertemu tiga kali setahun hingga 2027, saat naskah akhir konvensi dan kedua protokol harus diserahkan ke Majelis Umum PBB
. Sidang di Nairobi akan menjadi ujian kritis: apakah momentum dari New York bisa diterjemahkan menjadi kompromi nyata di isu-isu paling memecah belah.
Proses yang dimulai oleh Kelompok Afrika pada 2023 ini merupakan upaya paling ambisius dalam seabad terakhir untuk menulis ulang aturan perpajakan internasional . Hasilnya akan menentukan apakah pemerintah di seluruh dunia bisa menangkap ratusan miliar dolar pendapatan yang kini hilang akibat pengalihan laba — dan apakah pendapatan itu akan mengalir ke negara tempat aktivitas ekonomi riil terjadi.