Zhongji Innolight membuka perdagangan pada HK$971, lebih rendah sekitar 0,9% dari harga penawaran HK$980 per saham . Saham tersebut sempat turun hingga 3% pada awal perdagangan dan ditutup sekitar 1,28% di bawah harga IPO.
Pergerakan itu terjadi ketika indeks Hang Seng relatif tidak berubah, sementara Hang Seng Tech Index melemah sekitar 1% . Dengan demikian, ukuran IPO yang sangat besar tidak otomatis menghasilkan lonjakan harga pada hari pertama.
Zhongji menjual 54,5 juta saham H dengan harga HK$980 per saham. Harga final tersebut berada di bawah batas atas indikatif HK$1.010, tetapi tetap menghasilkan dana HK$53,41 miliar atau sekitar US$6,81 miliar .
Nilai tersebut menjadikan IPO Zhongji sebagai pencatatan saham terbesar di Hong Kong sejak pencatatan sekunder Alibaba senilai US$12,9 miliar pada 2019 . IPO ini juga menjadi yang terbesar kedua di Asia pada 2026, setelah pencatatan perusahaan chip memori China CXMT senilai US$8,6 miliar di Shanghai .
Jika opsi greenshoe atau penjatahan tambahan sebesar 15% digunakan sepenuhnya, nilai transaksi Zhongji berpotensi meningkat menjadi sekitar US$8,1 miliar .
Beberapa hari sebelum sahamnya mulai diperdagangkan di Hong Kong, ketua Zhongji mengumumkan rencana pembelian kembali saham A perusahaan yang tercatat di Shenzhen hingga 8 miliar yuan, setara sekitar US$1,1 miliar .
Langkah tersebut secara eksplisit ditujukan untuk membantu menstabilkan harga saham dan mendukung sentimen pasar menjelang pencatatan di Hong Kong. Rencana buyback itu juga memberi sinyal bahwa manajemen berupaya menunjukkan kepercayaan diri ketika saham teknologi dan AI sedang bergejolak.
Saham Zhongji di Shenzhen sempat menguat setelah pengumuman tersebut, membantu meredakan tekanan setelah aksi jual yang lebih luas di sektor komunikasi optik China . Namun, buyback tidak menghapus risiko bisnis yang menjadi perhatian investor.
Di balik debut yang lesu, permintaan dari investor institusional sebenarnya sangat kuat. Sebanyak 33 investor utama atau cornerstone investors berkomitmen membeli saham senilai sekitar US$3,45 miliar. Jumlah itu setara sekitar 49,1% dari nilai penawaran dasar pada harga maksimum .
Kelompok investor tersebut mencakup:
Menurut prospektus, porsi institusional mengalami kelebihan permintaan lebih dari 13 kali . Porsi ritel Hong Kong dipesan sekitar 16,8 kali dari saham yang tersedia, sedangkan porsi internasional mengalami kelebihan permintaan 9,7 kali .
Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa minat terhadap infrastruktur AI masih besar, meskipun investor mulai lebih selektif terhadap valuasi dan prospek saham-saham terkait AI.
Zhongji menyatakan dana hasil IPO akan diarahkan terutama untuk :
Penggunaan dana ini mencerminkan upaya Zhongji untuk memenuhi permintaan perangkat jaringan berkecepatan tinggi yang dibutuhkan pusat data AI, sekaligus memperluas kapasitas di luar China.
Debut Zhongji berlangsung ketika kepercayaan investor terhadap saham AI global mulai menurun. Aksi jual di sektor AI turut membebani penerimaan pasar terhadap IPO tersebut .
The Wall Street Journal melaporkan bahwa investor mulai menilai kembali keyakinan mereka terhadap saham kecerdasan buatan . South China Morning Post juga menggambarkan IPO Zhongji berlangsung di tengah melemahnya kepercayaan investor terhadap saham-saham terkait AI .
Meski demikian, besarnya dana yang berhasil dihimpun dan tingginya tingkat pemesanan memperlihatkan bahwa investor masih melihat kebutuhan jangka panjang terhadap infrastruktur AI. Tantangannya, investor kini tampak lebih fokus pada harga, konsentrasi pelanggan, dan risiko regulasi.
Prospektus Zhongji menyoroti sejumlah risiko penting yang dapat memengaruhi kinerja perusahaan.
Sebanyak 61,7% pendapatan Zhongji pada kuartal pertama 2026 berasal dari Amerika Serikat, naik dari 57,3% untuk keseluruhan 2025 . Perusahaan juga bergantung pada pelanggan pusat data berskala besar di AS, termasuk Nvidia dan Meta .
Ketergantungan ini menguntungkan ketika belanja pusat data AI terus meningkat. Namun, posisi tersebut juga membuat pendapatan Zhongji rentan terhadap perubahan belanja modal pelanggan, kebijakan perdagangan, dan pembatasan ekspor.
Pada 8 Juni 2026, Departemen Pertahanan AS menambahkan Zhongji ke daftar “perusahaan militer China” . Zhongji menyatakan bahwa pencantuman tersebut, dengan sendirinya, tidak melarang kegiatan usaha dengan pelanggan AS atau perdagangan saham perusahaan.
Meski begitu, status tersebut tetap menimbulkan risiko regulasi dan reputasi. Dampaknya dapat meningkat jika pemerintah AS memberlakukan pembatasan tambahan atau jika pelanggan meninjau ulang hubungan bisnisnya dengan perusahaan China .
Lima pelanggan terbesar Zhongji menyumbang 81,9% pendapatan perusahaan pada kuartal pertama 2026 . Artinya, perubahan keputusan pengadaan dari sejumlah kecil pelanggan dapat berdampak besar terhadap pertumbuhan pendapatan dan laba.
Eskalasi ketegangan dagang AS-China, perluasan kontrol ekspor, atau sanksi baru dapat menghambat kemampuan Zhongji memasok pelanggan utamanya . Harga IPO HK$980—sekitar 11% lebih rendah dibandingkan saham Zhongji yang tercatat di Shenzhen—dipandang mencerminkan premi risiko terkait ketergantungan pada pendapatan AS .
IPO Zhongji memperlihatkan dua hal sekaligus: investor masih bersedia menanamkan dana besar pada infrastruktur AI, tetapi mereka tidak lagi mengabaikan risiko di balik pertumbuhan tersebut.
Tingginya kelebihan permintaan dan dukungan dari investor institusional besar menunjukkan kuatnya daya tarik bisnis transceiver optik. Namun, debut di bawah harga penawaran mengingatkan bahwa skala transaksi dan daftar investor ternama tidak menjamin kenaikan saham.
Bagi Zhongji, tantangan berikutnya bukan hanya meningkatkan kapasitas produksi dan mempertahankan pertumbuhan AI, melainkan juga mengurangi konsentrasi pelanggan serta mengelola paparan terhadap kebijakan AS-China.