Otak rencana serangan teror ISIS yang menggagalkan konser Taylor Swift di Wina pada 2024, Beran A., dijatuhi vonis 15 tahun penjara oleh pengadilan Austria pada 28 Mei 2026. Rencana serangan melibatkan kombinasi penabrakan kendaraan, pisau, dan bahan peledak buatan sendiri, yang secara spesifik menargetkan kerumunan...

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: What were the key details of the foiled Taylor Swift concert attack plot in Vienna, including the perpetrator, the sentence, the planned met. Article summary: On May 28, 2026, an Austrian court convicted and sentenced the main perpetrator of the foiled 2024 Taylor Swift concert attack plot to **15 years in prison**. Here are the key details:. Topic tags: general, education, general web, user generated. Reference image context from search candidates: Reference image 1: visual subject "FILE PHOTO: Fans of the singer Taylor Swift gather following the cancellation of three Taylor Swift concerts at Ernst Happ... BERLIN (AP) — The suspects in the foiled plot to attac" source context "Plan to attack Taylor Swift's Vienna shows intended to kill thousands, CIA official claims | PBS News" Reference image 2: visual subject "FIL
Hampir dua tahun setelah rencana teror memaksa pembatalan tiga konser Taylor Swift di Wina di menit-menit terakhir, pengadilan Austria akhirnya menjatuhkan vonisnya. Pada 28 Mei 2026, pelaku utama, seorang pria lokal berusia 21 tahun, dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman 15 tahun penjara atas perannya dalam merencanakan serangan bom bunuh diri yang terinspirasi ISIS .
Otak utama dari rencana ini adalah Beran A., warga negara Austria keturunan Makedonia (etnis Albania) . Ia berusia 19 tahun saat penangkapannya pada Agustus 2024. Pengadilan mengungkap bahwa Beran A. telah bersumpah setia kepada ISIS dan sepenuhnya berniat untuk mati dalam serangan yang ia rencanakan sebagai misi bunuh diri
. Ia mengaku bersalah atas sebagian besar dakwaan terkait konser tersebut di awal persidangannya pada April 2026
.
Rencana yang berhasil digagalkan ini memiliki detail yang mengerikan. Beran A. dan rekan konspiratornya tidak berencana masuk ke dalam stadion, melainkan menciptakan kekacauan maksimal di antara ribuan penggemar yang berkumpul di luar Stadion Ernst Happel .
Rencana mereka adalah serangan multi-tahap yang terinspirasi oleh serangan Jihadis sebelumnya. Serangan ini menggabungkan penabrakan kendaraan dengan pisau dan alat peledak buatan sendiri . Jaksa menyatakan bahwa Beran A. berencana mengendarai mobil—yang diidentifikasi sebagai VW Beetle milik orang tuanya—ke tengah kerumunan di luar stadion untuk membunuh sebanyak mungkin orang
. Setelah itu, ia bermaksud menyerang korban selamat dengan pisau dan meledakkan bahan peledak
.
Untuk membuat bom, ia memperoleh instruksi secara online dan mengamankan bahan kimia prekursor yang diperlukan untuk bahan peledak triacetone triperoxide (TATP) , bahan yang sering digunakan ISIS karena ketidakstabilan dan daya hancurnya . Ia juga telah beberapa kali mencoba membeli senjata secara ilegal dari luar Austria
.
Rencana konser Wina ini bukanlah pekerjaan satu orang. Otoritas Austria menangkap dua kaki tangan yang lebih muda, berusia 17 dan 18 tahun, pada Agustus 2024 . Remaja 17 tahun itu sebelumnya bekerja di sebuah fasilitas yang menyediakan layanan di Stadion Ernst Happel, memberinya akses untuk melakukan pengintaian
. Seorang remaja Suriah juga kemudian didakwa di Jerman karena memberikan dukungan kepada sel tersebut
.
Beran A. diadili bersama pria 21 tahun lainnya, Arda K., yang divonis 12 tahun penjara atas keterlibatannya . Rekan ketiga, Hasan E., tetap dalam tahanan pra-sidang pada saat putusan dijatuhkan
.
Investigasi mengungkapkan bahwa ambisi kelompok ini melampaui satu konser. Beran A. dan dua teman sekolahnya sebelumnya telah merencanakan serangkaian serangan solo secara serentak di kota-kota Timur Tengah yang berbeda pada awal 2024. Di persidangan terungkap bahwa ia dan Arda K. telah bepergian ke Dubai dan Istanbul dengan tujuan melancarkan serangan, namun tidak jadi melakukannya . Sel yang lebih luas ini diduga telah mendiskusikan kampanye serangan terkoordinasi di Arab Saudi, Turki, dan Uni Emirat Arab selama Ramadan 2024
. Beran A. juga mengakui pelanggaran terkait terorisme lainnya, termasuk keterlibatan dalam serangan yang direncanakan di Mekkah
.
Persidangan berlangsung di pengadilan negeri Wiener Neustadt, Austria. Beran A. menghadapi hukuman maksimal 20 tahun penjara atas dakwaan termasuk pelanggaran teroris dan keanggotaan dalam organisasi teroris . Sementara pengacaranya menyatakan bahwa ia mengaku bersalah, ia membantah dakwaan sebagai kaki tangan pembunuhan berencana, mengingat perbedaan hukuman yang sangat signifikan bergantung pada dakwaan ini
. Pada hari terakhir persidangan, ia menyampaikan permintaan maaf kepada pengadilan
.
Juri bermusyawarah selama berjam-jam sebelum memutuskan ia bersalah atas semua dakwaan. Hakim kemudian menjatuhkan hukuman 15 tahun penjara .
Rencana ini terbongkar pada Agustus 2024 berkat intelijen yang dibagikan oleh mitra internasional, yang mengarah pada penggagalan cepat oleh otoritas Austria hanya beberapa hari sebelum pertunjukan . Meskipun rencana telah digagalkan, keputusan diambil untuk membatalkan ketiga penampilan Taylor Swift yang dijadwalkan di Stadion Ernst Happel pada 8, 9, dan 10 Agustus 2024 demi menjamin keselamatan publik. Pembatalan ini membuat sekitar 195.000 penggemar hancur hati tetapi selamat, sebuah pengingat nyata mengapa penggagalan rencana ini dipandang sebagai keberhasilan kontra-terorisme yang besar.
Studio Global AI
Use this topic as a starting point for a fresh source-backed answer, then compare citations before you share it.
Otak rencana serangan teror ISIS yang menggagalkan konser Taylor Swift di Wina pada 2024, Beran A., dijatuhi vonis 15 tahun penjara oleh pengadilan Austria pada 28 Mei 2026.
Otak rencana serangan teror ISIS yang menggagalkan konser Taylor Swift di Wina pada 2024, Beran A., dijatuhi vonis 15 tahun penjara oleh pengadilan Austria pada 28 Mei 2026. Rencana serangan melibatkan kombinasi penabrakan kendaraan, pisau, dan bahan peledak buatan sendiri, yang secara spesifik menargetkan kerumunan di luar Stadion Ernst Happel, serupa dengan bom Manchester Arena 2017.