Ada tiga faktor utama yang membuat kuartal ini begitu istimewa:
1. Ledakan Permintaan AI di Pusat Data. Pendapatan royalti dari pusat data lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun lalu. Raksasa cloud seperti AWS, Google, Microsoft, dan NVIDIA semakin masif menggunakan chip berbasis desain Arm . CEO Rene Haas menegaskan, "transisi infrastruktur AI ke platform Arm terus berakselerasi" .
2. CPU AGI (Artificial General Intelligence) Laris Manis. Permintaan untuk CPU AGI buatan Arm melampaui ekspektasi awal. Nilai kumulatif proyek desain (design pipeline) untuk CPU ini kini sudah menembus $2 miliar untuk FY2027 dan FY2028. Angka ini dua kali lipat lebih besar dari peluang $1 miliar yang disebutkan Arm di kuartal sebelumnya .
3. Transisi ke Arsitektur Armv9. Chip-chip yang menggunakan arsitektur Armv9 yang lebih baru dan canggih memiliki tarif royalti yang lebih tinggi. Semakin banyak pelanggan yang beralih ke Armv9, sehingga pendapatan royalti per perangkat pun ikut naik . Saat ini, chip berbasis Armv9 sudah menyumbang sekitar 25% dari total pendapatan royalti Arm .
Fenomena "pendapatan bagus, saham turun" ini sebenarnya klasik di pasar saham. Masalah utamanya bukan pada bisnis Arm, melainkan pada valuasi sahamnya. Sebelum laporan ini keluar, saham ARM sudah diperdagangkan dengan rasio harga terhadap laba (PER) di atas 100 kali . Ini membuat sahamnya sangat rentan terhadap berita negatif sekecil apa pun.
Investor mungkin khawatir dengan kenaikan biaya operasional yang juga ikut naik, atau prospek pertumbuhan yang mungkin tidak secepat yang diharapkan. Akibatnya, aksi ambil untung (profit taking) pun terjadi. Saham ARM sempat turun hingga 8% setelah rilis, dan secara agregat, harga sahamnya tercatat turun sekitar 34% sepanjang Juli 2026 .
Namun, kabar baiknya, saham ini kemudian pulih dan kembali diperdagangkan di kisaran $280 hingga $300 dalam beberapa hari setelahnya . Ini menandakan bahwa investor yang lebih kalem melihat fundamental bisnis Arm masih sangat kuat.
Setelah rilis laporan, para analis Wall Street memberikan reaksi yang beragam :
Laporan ini semakin memperjelas posisi strategis Arm di era kecerdasan buatan. CEO Rene Haas mengatakan bahwa transisi infrastruktur AI ke platform Arm terus berakselerasi . Arsitektur Armv9 menjadi kunci utama karena tarif royaltinya yang lebih tinggi, secara langsung meningkatkan pendapatan Arm dari setiap chip yang terjual .
Arm juga menaikkan target pendapatan jangka panjangnya menjadi $25 miliar, yang didorong oleh ekspansi AI dan penetrasi Armv9 yang lebih dalam . Meskipun demikian, Arm memangkas prospek pertumbuhan royalti tahun penuh menjadi "tinggi belasan persen" (high teens) karena lemahnya pasar ponsel pintar dan tingginya harga memori . Ini sedikit meredam euforia investor yang mungkin sudah berekspektasi terlalu tinggi.
Kesimpulannya: Arm sekarang adalah pemain kunci di ekosistem AI, dan fundamental bisnisnya sangat kuat. Namun, harga sahamnya yang premium membuat pasar bereaksi sangat sensitif. Ke depan, pertumbuhan berkelanjutan dari AI dan adopsi Armv9 akan menjadi kunci untuk membenarkan valuasi saham yang saat ini terbilang mahal.