Yang membuat langkah ini menjadi sorotan bukan hanya nilainya, melainkan waktunya. Pembelian tersebut dilakukan tepat setelah Strategy sempat menjual Bitcoin untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun—sebuah langkah kecil secara finansial, tetapi sangat besar secara simbolis bagi pasar kripto.
Pada 1 Juni, Strategy mengajukan laporan 8-K kepada Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat (SEC). Dalam laporan itu, perusahaan mengungkapkan penjualan 32 BTC pada 26–31 Mei dengan harga rata-rata US$77.135 per koin. Transaksi tersebut menghasilkan sekitar US$2,5 juta, yang rencananya digunakan untuk membayar distribusi dividen saham preferen perpetual STRC .
Secara ukuran, penjualan itu nyaris tidak berarti. Jumlah 32 BTC hanya setara sekitar 0,004% dari total kepemilikan Strategy. Namun, perusahaan selama ini dikenal sebagai salah satu pendukung korporasi Bitcoin paling vokal di dunia, sementara Executive Chairman Michael Saylor lekat dengan pendekatan “tidak menjual” Bitcoin .
Pasar pun merespons dengan cepat:
Meski memicu kepanikan, sejumlah analis menilai penjualan tersebut lebih berkaitan dengan kebutuhan operasional daripada perubahan strategi. Strategy membutuhkan dana tunai untuk mempertahankan tingkat dividen 11,5% pada saham preferennya dan menjaga kestabilan harganya. Perusahaan memilih menjual sebagian Bitcoin dalam jumlah sangat kecil, alih-alih menambah dilusi pemegang saham atau mengurangi cadangan kas .
Strategy tidak menunggu pasar sepenuhnya pulih. Pembelian 1.550 BTC berlangsung dalam periode yang sama—1–7 Juni—ketika pasar masih merasakan dampak dari pengumuman penjualan 32 BTC .
Harga pembelian terbaru, US$65.332 per BTC, juga jauh di bawah harga jual sebelumnya sebesar US$77.135 dan di bawah biaya rata-rata akuisisi perusahaan. Akibatnya, biaya rata-rata pembelian Bitcoin Strategy turun menjadi US$75.680 per koin. Ini disebut sebagai kali pertama perusahaan berhasil menurunkan biaya rata-rata keseluruhannya .
Menurut pengungkapan perusahaan, penjualan saham melalui program ATM menghasilkan sekitar US$181 juta dana bersih selama pekan tersebut . Dana itu cukup untuk menutup kewajiban dividen sekitar US$2,5 juta sekaligus membiayai pembelian Bitcoin senilai US$101 juta. Strategy juga meningkatkan cadangan dolar AS sebesar US$100 juta menjadi total US$1 miliar .
Pola ini menunjukkan model pendanaan yang semakin melekat pada identitas perusahaan: Strategy menghimpun modal melalui penerbitan saham dan saham preferen, lalu mengalokasikan sebagian besar dana tersebut untuk membeli Bitcoin. Penjualan BTC digunakan sebagai pilihan terakhir untuk memenuhi kewajiban perusahaan.
Kembalinya Strategy ke pasar mengirimkan pesan yang jelas: target mengumpulkan 1 juta BTC pada akhir 2026 masih menjadi bagian dari rencana perusahaan. Dalam kerangka strategi tersebut, penurunan harga Bitcoin dipandang sebagai peluang membeli dengan harga lebih murah, bukan alasan untuk menghentikan akumulasi.
Sejumlah perhitungan analis menunjukkan bahwa Strategy perlu membeli sekitar 6.158 BTC per minggu untuk mencapai target tersebut . Pembelian 1.550 BTC pada pekan terbaru masih jauh di bawah laju yang dibutuhkan. Namun, perusahaan telah menunjukkan kemampuannya menghimpun dana dalam jumlah besar ketika kondisi pasar mendukung, termasuk lebih dari US$1,8 miliar dalam beberapa putaran penggalangan dana pada 2026 .
Strategy juga memiliki rencana penghimpunan dana melalui program ATM dan saham preferen perpetual dengan nilai hingga US$42 miliar. Pada Maret, perusahaan dilaporkan memegang 761.068 BTC dan telah membeli sekitar 90.000 BTC sepanjang 2026 .
Target tersebut tetap sangat ambisius. Namun, perbandingan antara dua transaksi terbaru memberikan gambaran tentang prioritas Strategy: perusahaan menjual 32 BTC untuk memenuhi kebutuhan dividen, lalu membeli kembali 1.550 BTC—hampir 48 kali jumlah yang dijual—dalam waktu singkat.
Bagi Strategy, episode ini menunjukkan bahwa kewajiban korporasi dan identitas sebagai perusahaan pemegang Bitcoin dapat berjalan berdampingan, setidaknya selama perusahaan masih mampu mengakses pasar modal. Penjualan kecil untuk membayar dividen tidak mengubah arah besarnya. Strategy tetap berusaha memperbesar cadangan Bitcoin, bahkan ketika pasar sedang mengalami tekanan.
Yang membuat langkah ini menjadi sorotan bukan hanya nilainya, melainkan waktunya. Pembelian tersebut dilakukan tepat setelah Strategy sempat menjual Bitcoin untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun—sebuah langkah kecil secara finansial, tetapi sangat besar secara simbolis bagi pasar kripto.
Pada 1 Juni, Strategy mengajukan laporan 8-K kepada Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat (SEC). Dalam laporan itu, perusahaan mengungkapkan penjualan 32 BTC pada 26–31 Mei dengan harga rata-rata US$77.135 per koin. Transaksi tersebut menghasilkan sekitar US$2,5 juta, yang rencananya digunakan untuk membayar distribusi dividen saham preferen perpetual STRC .
Secara ukuran, penjualan itu nyaris tidak berarti. Jumlah 32 BTC hanya setara sekitar 0,004% dari total kepemilikan Strategy. Namun, perusahaan selama ini dikenal sebagai salah satu pendukung korporasi Bitcoin paling vokal di dunia, sementara Executive Chairman Michael Saylor lekat dengan pendekatan “tidak menjual” Bitcoin .
Pasar pun merespons dengan cepat:
Meski memicu kepanikan, sejumlah analis menilai penjualan tersebut lebih berkaitan dengan kebutuhan operasional daripada perubahan strategi. Strategy membutuhkan dana tunai untuk mempertahankan tingkat dividen 11,5% pada saham preferennya dan menjaga kestabilan harganya. Perusahaan memilih menjual sebagian Bitcoin dalam jumlah sangat kecil, alih-alih menambah dilusi pemegang saham atau mengurangi cadangan kas .
Strategy tidak menunggu pasar sepenuhnya pulih. Pembelian 1.550 BTC berlangsung dalam periode yang sama—1–7 Juni—ketika pasar masih merasakan dampak dari pengumuman penjualan 32 BTC .
Harga pembelian terbaru, US$65.332 per BTC, juga jauh di bawah harga jual sebelumnya sebesar US$77.135 dan di bawah biaya rata-rata akuisisi perusahaan. Akibatnya, biaya rata-rata pembelian Bitcoin Strategy turun menjadi US$75.680 per koin. Ini disebut sebagai kali pertama perusahaan berhasil menurunkan biaya rata-rata keseluruhannya .
Menurut pengungkapan perusahaan, penjualan saham melalui program ATM menghasilkan sekitar US$181 juta dana bersih selama pekan tersebut . Dana itu cukup untuk menutup kewajiban dividen sekitar US$2,5 juta sekaligus membiayai pembelian Bitcoin senilai US$101 juta. Strategy juga meningkatkan cadangan dolar AS sebesar US$100 juta menjadi total US$1 miliar .
Pola ini menunjukkan model pendanaan yang semakin melekat pada identitas perusahaan: Strategy menghimpun modal melalui penerbitan saham dan saham preferen, lalu mengalokasikan sebagian besar dana tersebut untuk membeli Bitcoin. Penjualan BTC digunakan sebagai pilihan terakhir untuk memenuhi kewajiban perusahaan.
Kembalinya Strategy ke pasar mengirimkan pesan yang jelas: target mengumpulkan 1 juta BTC pada akhir 2026 masih menjadi bagian dari rencana perusahaan. Dalam kerangka strategi tersebut, penurunan harga Bitcoin dipandang sebagai peluang membeli dengan harga lebih murah, bukan alasan untuk menghentikan akumulasi.
Sejumlah perhitungan analis menunjukkan bahwa Strategy perlu membeli sekitar 6.158 BTC per minggu untuk mencapai target tersebut . Pembelian 1.550 BTC pada pekan terbaru masih jauh di bawah laju yang dibutuhkan. Namun, perusahaan telah menunjukkan kemampuannya menghimpun dana dalam jumlah besar ketika kondisi pasar mendukung, termasuk lebih dari US$1,8 miliar dalam beberapa putaran penggalangan dana pada 2026 .
Strategy juga memiliki rencana penghimpunan dana melalui program ATM dan saham preferen perpetual dengan nilai hingga US$42 miliar. Pada Maret, perusahaan dilaporkan memegang 761.068 BTC dan telah membeli sekitar 90.000 BTC sepanjang 2026 .
Target tersebut tetap sangat ambisius. Namun, perbandingan antara dua transaksi terbaru memberikan gambaran tentang prioritas Strategy: perusahaan menjual 32 BTC untuk memenuhi kebutuhan dividen, lalu membeli kembali 1.550 BTC—hampir 48 kali jumlah yang dijual—dalam waktu singkat.
Bagi Strategy, episode ini menunjukkan bahwa kewajiban korporasi dan identitas sebagai perusahaan pemegang Bitcoin dapat berjalan berdampingan, setidaknya selama perusahaan masih mampu mengakses pasar modal. Penjualan kecil untuk membayar dividen tidak mengubah arah besarnya. Strategy tetap berusaha memperbesar cadangan Bitcoin, bahkan ketika pasar sedang mengalami tekanan.