Laporan lain menggambarkan guncangan yang lebih besar di Iraq. Ekspor minyak mentah Iraq dilaporkan turun 75 persen pada Agustus, sementara analisis lain menyebut penurunannya melampaui 80 persen. Pendapatan minyak bulanan juga disebut merosot dari sekitar US$7 miliar menjadi kira-kira US$1 miliar pada April. Angkanya berbeda menurut bulan dan sumber, tetapi persoalan utamanya sama: gangguan pelayaran memangkas pemasukan minyak yang menjadi tumpuan keuangan pemerintah.
Bagi negara yang sangat bergantung pada pendapatan ekspor minyak mentah, memulihkan akses ke pasar menjadi prioritas fiskal. Karena itu, respons kabinet berfokus pada fleksibilitas—memungkinkan penggunaan mitra dagang dan rute yang berbeda, alih-alih menunggu satu jalur pelayaran di Teluk kembali normal.
Berdasarkan keputusan kabinet, Iraq dapat menandatangani kontrak berdurasi tiga bulan mulai 1 September dengan perusahaan lokal dan internasional yang memiliki keahlian khusus. Perusahaan-perusahaan tersebut akan membantu memasarkan dan mengekspor minyak mentah Iraq melalui beberapa titik ekspor.
Baghdad belum mengumumkan perusahaan yang akan terlibat, volume yang dialokasikan kepada masing-masing perusahaan, maupun rute spesifik yang akan digunakan. Dengan demikian, keputusan ini merupakan kerangka yang memungkinkan pengaturan ekspor, bukan jadwal ekspor operasional yang sudah dipublikasikan secara lengkap.
Kerangka tersebut memberi pemerintah ruang untuk mengatur penjualan dan logistik dengan cepat saat kondisi berubah. Namun, laporan yang tersedia belum menunjukkan berapa banyak minyak yang benar-benar dapat dipindahkan melalui mekanisme ini.
Perbedaan ini penting. Persetujuan atas suatu pengaturan pemasaran atau rute tidak otomatis menciptakan kapasitas pipa dan tidak menjamin kapal tanker dapat memuat serta berlayar. Dampak jangka pendeknya akan bergantung pada titik ekspor yang beroperasi, kapasitas penanganannya, serta kesediaan pembeli dan perusahaan pelayaran menggunakan jalur tersebut.
Pilihan penghindaran Selat Hormuz yang paling konkret bagi Iraq adalah jalur utara melalui Turki. Baghdad dan Ankara menandatangani kesepakatan satu tahun untuk mempertahankan penggunaan pipa minyak mentah Iraq–Turki yang menuju pelabuhan Ceyhan di pesisir Mediterania Turki. Kesepakatan itu menetapkan aliran minimum 750.000 barel per hari.
Koridor ini memberi minyak Iraq akses ke Laut Mediterania tanpa harus melewati Selat Hormuz. Rencana sebelumnya menargetkan peningkatan aliran melalui jaringan Kirkuk–Ceyhan dari sekitar 220.000 barel per hari menjadi kira-kira 770.000 barel per hari dalam waktu dua setengah bulan.
Jalur tersebut bukan pengganti penuh bagi sistem ekspor tradisional Iraq di selatan. Fungsinya lebih tepat dipahami sebagai outlet tambahan yang penting—mampu memulihkan sebagian kapasitas ekspor yang hilang dan mengurangi risiko seluruh minyak Iraq harus dikirim melalui jalur laut yang sama-sama rentan.
Baghdad juga mengejar proyek infrastruktur yang dapat membuat diversifikasi ekspor lebih permanen. Rencana yang sedang dibahas mencakup:
Kedua proyek ini tidak boleh disamakan dengan kapasitas ekspor yang sudah tersedia saat ini. Rute Iraq–Suriah masih berada pada tahap awal. Sumber yang dikutip Reuters menyebut pembangunan jalur tersebut dapat memerlukan sekitar empat tahun dan biaya sedikitnya US$15 miliar.
Begitu pula, studi kelayakan untuk rute strategis alternatif masih bersifat pendahuluan. Studi tersebut belum menjadi komitmen komersial atau finansial final.
Mekanisme sementara ini terutama mengubah di mana dan bagaimana minyak mentah Iraq dipasarkan serta diangkut. Keputusan itu tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa Iraq akan meningkatkan produksi nasional.
Pembedaan tersebut penting karena ekspor Iraq dilaporkan rata-rata sekitar 2 juta barel per hari pada Agustus, sementara pemerintah terus mendorong pembukaan koridor ekspor baru. Jika pengiriman pulih, peningkatan itu dapat mencerminkan pemulihan atau pengalihan minyak yang sudah diproduksi, bukan tambahan produksi dari ladang-ladang Iraq.
Dalam praktiknya, Baghdad sedang menangani dua persoalan berbeda:
Mekanisme yang dimulai pada September menangani persoalan pertama dengan cepat, tetapi hanya sementara. Kesepakatan dengan Turki menyediakan koridor jangka dekat yang lebih jelas, sedangkan proyek Fishkhabur dan Baniyas merupakan upaya jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan Iraq pada pelayaran melalui Teluk.
Pada saat yang sama, komitmen Baghdad untuk mematuhi batas produksi OPEC+ membedakan pemulihan ekspor dari peningkatan produksi. Artinya, sasaran utamanya adalah mengembalikan atau mengalihkan barel yang diizinkan untuk dijual melalui rute lain, bukan menaikkan produksi di luar batas yang berlaku.
Laporan lain menggambarkan guncangan yang lebih besar di Iraq. Ekspor minyak mentah Iraq dilaporkan turun 75 persen pada Agustus, sementara analisis lain menyebut penurunannya melampaui 80 persen. Pendapatan minyak bulanan juga disebut merosot dari sekitar US$7 miliar menjadi kira-kira US$1 miliar pada April. Angkanya berbeda menurut bulan dan sumber, tetapi persoalan utamanya sama: gangguan pelayaran memangkas pemasukan minyak yang menjadi tumpuan keuangan pemerintah.
Bagi negara yang sangat bergantung pada pendapatan ekspor minyak mentah, memulihkan akses ke pasar menjadi prioritas fiskal. Karena itu, respons kabinet berfokus pada fleksibilitas—memungkinkan penggunaan mitra dagang dan rute yang berbeda, alih-alih menunggu satu jalur pelayaran di Teluk kembali normal.
Berdasarkan keputusan kabinet, Iraq dapat menandatangani kontrak berdurasi tiga bulan mulai 1 September dengan perusahaan lokal dan internasional yang memiliki keahlian khusus. Perusahaan-perusahaan tersebut akan membantu memasarkan dan mengekspor minyak mentah Iraq melalui beberapa titik ekspor.
Baghdad belum mengumumkan perusahaan yang akan terlibat, volume yang dialokasikan kepada masing-masing perusahaan, maupun rute spesifik yang akan digunakan. Dengan demikian, keputusan ini merupakan kerangka yang memungkinkan pengaturan ekspor, bukan jadwal ekspor operasional yang sudah dipublikasikan secara lengkap.
Kerangka tersebut memberi pemerintah ruang untuk mengatur penjualan dan logistik dengan cepat saat kondisi berubah. Namun, laporan yang tersedia belum menunjukkan berapa banyak minyak yang benar-benar dapat dipindahkan melalui mekanisme ini.
Perbedaan ini penting. Persetujuan atas suatu pengaturan pemasaran atau rute tidak otomatis menciptakan kapasitas pipa dan tidak menjamin kapal tanker dapat memuat serta berlayar. Dampak jangka pendeknya akan bergantung pada titik ekspor yang beroperasi, kapasitas penanganannya, serta kesediaan pembeli dan perusahaan pelayaran menggunakan jalur tersebut.
Pilihan penghindaran Selat Hormuz yang paling konkret bagi Iraq adalah jalur utara melalui Turki. Baghdad dan Ankara menandatangani kesepakatan satu tahun untuk mempertahankan penggunaan pipa minyak mentah Iraq–Turki yang menuju pelabuhan Ceyhan di pesisir Mediterania Turki. Kesepakatan itu menetapkan aliran minimum 750.000 barel per hari.
Koridor ini memberi minyak Iraq akses ke Laut Mediterania tanpa harus melewati Selat Hormuz. Rencana sebelumnya menargetkan peningkatan aliran melalui jaringan Kirkuk–Ceyhan dari sekitar 220.000 barel per hari menjadi kira-kira 770.000 barel per hari dalam waktu dua setengah bulan.
Jalur tersebut bukan pengganti penuh bagi sistem ekspor tradisional Iraq di selatan. Fungsinya lebih tepat dipahami sebagai outlet tambahan yang penting—mampu memulihkan sebagian kapasitas ekspor yang hilang dan mengurangi risiko seluruh minyak Iraq harus dikirim melalui jalur laut yang sama-sama rentan.
Baghdad juga mengejar proyek infrastruktur yang dapat membuat diversifikasi ekspor lebih permanen. Rencana yang sedang dibahas mencakup:
Kedua proyek ini tidak boleh disamakan dengan kapasitas ekspor yang sudah tersedia saat ini. Rute Iraq–Suriah masih berada pada tahap awal. Sumber yang dikutip Reuters menyebut pembangunan jalur tersebut dapat memerlukan sekitar empat tahun dan biaya sedikitnya US$15 miliar.
Begitu pula, studi kelayakan untuk rute strategis alternatif masih bersifat pendahuluan. Studi tersebut belum menjadi komitmen komersial atau finansial final.
Mekanisme sementara ini terutama mengubah di mana dan bagaimana minyak mentah Iraq dipasarkan serta diangkut. Keputusan itu tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa Iraq akan meningkatkan produksi nasional.
Pembedaan tersebut penting karena ekspor Iraq dilaporkan rata-rata sekitar 2 juta barel per hari pada Agustus, sementara pemerintah terus mendorong pembukaan koridor ekspor baru. Jika pengiriman pulih, peningkatan itu dapat mencerminkan pemulihan atau pengalihan minyak yang sudah diproduksi, bukan tambahan produksi dari ladang-ladang Iraq.
Dalam praktiknya, Baghdad sedang menangani dua persoalan berbeda:
Mekanisme yang dimulai pada September menangani persoalan pertama dengan cepat, tetapi hanya sementara. Kesepakatan dengan Turki menyediakan koridor jangka dekat yang lebih jelas, sedangkan proyek Fishkhabur dan Baniyas merupakan upaya jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan Iraq pada pelayaran melalui Teluk.
Pada saat yang sama, komitmen Baghdad untuk mematuhi batas produksi OPEC+ membedakan pemulihan ekspor dari peningkatan produksi. Artinya, sasaran utamanya adalah mengembalikan atau mengalihkan barel yang diizinkan untuk dijual melalui rute lain, bukan menaikkan produksi di luar batas yang berlaku.