L'Oréal akan mengintegrasikan halaman detail untuk ribuan produknya di Amerika Serikat ke dalam ChatGPT. Dengan begitu, pengguna dapat menemukan dan mengeksplorasi produk melalui percakapan, bukan hanya lewat pencarian katalog biasa .
Sejumlah merek yang disebut termasuk Lancôme dan Kérastase . Untuk saat ini, cakupan yang diumumkan berfokus pada pasar Amerika Serikat, sehingga belum berarti seluruh fitur tersebut langsung tersedia bagi pengguna di Indonesia.
Maybelline akan membawa teknologi ModiFace, layanan virtual try-on milik L'Oréal, langsung ke ChatGPT. Pengguna nantinya dapat mencoba berbagai tampilan riasan secara virtual dalam alur percakapan .
Fitur Makeup Virtual Try-On ini ditargetkan meluncur pada musim panas 2026 . Teknologi tersebut berpotensi membantu pengguna membayangkan warna atau gaya makeup sebelum memutuskan untuk membeli, meski hasil virtual tetap tidak dapat sepenuhnya menggantikan pengalaman mencoba produk secara langsung.
Di bidang riset, L'Oréal akan memanfaatkan GPT-Rosalind, model AI khusus ilmu hayati yang dikembangkan OpenAI, untuk menganalisis mikrobioma kulit—kumpulan mikroorganisme yang hidup di permukaan kulit .
Tahap awal riset akan berfokus pada La Roche-Posay. Tujuannya adalah mengidentifikasi bakteri yang bermanfaat dan mempercepat pengembangan produk perawatan kulit generasi berikutnya yang berasal dari bahan alami serta memiliki performa tinggi .
Penerapan ini menunjukkan bahwa AI mulai digunakan bukan hanya untuk rekomendasi atau promosi produk, tetapi juga untuk membantu memahami dasar biologis di balik formulasi skincare.
Model-model terbaru OpenAI akan menjadi penggerak bagi CreAItech, sistem produksi pemasaran L'Oréal yang dirancang untuk mempercepat pembuatan konten kecantikan dalam skala besar .
Menurut informasi yang disampaikan, lebih dari 73.000 karyawan L'Oréal telah mendapat pelatihan AI generatif . Angka ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya menguji AI pada satu atau dua kampanye, tetapi berupaya membangun kemampuan tersebut di berbagai fungsi organisasi.
Pengumuman kerja sama dengan OpenAI datang bersamaan dengan semakin kuatnya fokus L'Oréal pada merek kecantikan Korea . Portofolio tersebut memberi grup asal Prancis ini dua jalur utama di pasar K-beauty.
3CE (3 Concept Eyes): L'Oréal mengakuisisi merek makeup ini pada 2018. Berbasis di Seoul, 3CE mempertahankan identitasnya sambil memperluas jangkauan melalui jaringan distribusi dan pemasaran global L'Oréal. Strateginya kini berfokus pada kategori inti seperti produk bibir, blush, dan eyeshadow. Merek ini telah beroperasi di sembilan negara .
Dr.G: L'Oréal mengakuisisi Gowoonsesang Cosmetics—perusahaan induk merek skincare Korea Dr.G—dari grup ritel Swiss Migros. Kesepakatan tersebut diumumkan pada Desember 2024 dan Dr.G diposisikan untuk masuk ke divisi Consumer Products L'Oréal serta dikembangkan secara internasional . Pada April 2026, L'Oréal menunjuk general manager baru untuk memimpin ekspansi global Dr.G .
L'Oréal juga menyederhanakan operasi Gowoonsesang untuk berfokus pada Dr.G. Merek sekunder Vividraw dan Heals akan dihentikan secara bertahap, dengan dukungan untuk stok dan promosi yang sudah ada selama masa transisi .
Dengan demikian, 3CE menjadi pilar L'Oréal di kosmetik warna, sedangkan Dr.G mengisi posisi di perawatan kulit dermatologis. Langkah ini menempatkan Korea sebagai salah satu sumber inovasi dan mesin pertumbuhan global bagi grup tersebut .
Kolaborasi L'Oréal dan OpenAI memperlihatkan bagaimana platform AI percakapan dapat berkembang menjadi antarmuka belanja. Alih-alih membuka banyak situs untuk membandingkan produk, konsumen dapat memulai dari pertanyaan natural seperti kebutuhan kulit, hasil makeup yang diinginkan, atau kategori produk tertentu—setidaknya di pasar dan fitur yang telah diumumkan.
Integrasi virtual try-on juga membuat batas antara inspirasi, konsultasi, dan transaksi semakin tipis. Sementara itu, penggunaan GPT-Rosalind menandakan bahwa AI mulai masuk ke jantung sains kecantikan, termasuk penelitian mikrobioma dan pengembangan formulasi.
Namun, kolaborasi ini tetap berada pada tahap penerapan dan pengembangan. Ketersediaan fitur, wilayah peluncuran, akurasi rekomendasi, serta cara data pengguna diproses akan menjadi faktor penting sebelum pengalaman belanja kecantikan berbasis AI benar-benar menjadi kebiasaan umum.
L'Oréal akan mengintegrasikan halaman detail untuk ribuan produknya di Amerika Serikat ke dalam ChatGPT. Dengan begitu, pengguna dapat menemukan dan mengeksplorasi produk melalui percakapan, bukan hanya lewat pencarian katalog biasa .
Sejumlah merek yang disebut termasuk Lancôme dan Kérastase . Untuk saat ini, cakupan yang diumumkan berfokus pada pasar Amerika Serikat, sehingga belum berarti seluruh fitur tersebut langsung tersedia bagi pengguna di Indonesia.
Maybelline akan membawa teknologi ModiFace, layanan virtual try-on milik L'Oréal, langsung ke ChatGPT. Pengguna nantinya dapat mencoba berbagai tampilan riasan secara virtual dalam alur percakapan .
Fitur Makeup Virtual Try-On ini ditargetkan meluncur pada musim panas 2026 . Teknologi tersebut berpotensi membantu pengguna membayangkan warna atau gaya makeup sebelum memutuskan untuk membeli, meski hasil virtual tetap tidak dapat sepenuhnya menggantikan pengalaman mencoba produk secara langsung.
Di bidang riset, L'Oréal akan memanfaatkan GPT-Rosalind, model AI khusus ilmu hayati yang dikembangkan OpenAI, untuk menganalisis mikrobioma kulit—kumpulan mikroorganisme yang hidup di permukaan kulit .
Tahap awal riset akan berfokus pada La Roche-Posay. Tujuannya adalah mengidentifikasi bakteri yang bermanfaat dan mempercepat pengembangan produk perawatan kulit generasi berikutnya yang berasal dari bahan alami serta memiliki performa tinggi .
Penerapan ini menunjukkan bahwa AI mulai digunakan bukan hanya untuk rekomendasi atau promosi produk, tetapi juga untuk membantu memahami dasar biologis di balik formulasi skincare.
Model-model terbaru OpenAI akan menjadi penggerak bagi CreAItech, sistem produksi pemasaran L'Oréal yang dirancang untuk mempercepat pembuatan konten kecantikan dalam skala besar .
Menurut informasi yang disampaikan, lebih dari 73.000 karyawan L'Oréal telah mendapat pelatihan AI generatif . Angka ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya menguji AI pada satu atau dua kampanye, tetapi berupaya membangun kemampuan tersebut di berbagai fungsi organisasi.
Pengumuman kerja sama dengan OpenAI datang bersamaan dengan semakin kuatnya fokus L'Oréal pada merek kecantikan Korea . Portofolio tersebut memberi grup asal Prancis ini dua jalur utama di pasar K-beauty.
3CE (3 Concept Eyes): L'Oréal mengakuisisi merek makeup ini pada 2018. Berbasis di Seoul, 3CE mempertahankan identitasnya sambil memperluas jangkauan melalui jaringan distribusi dan pemasaran global L'Oréal. Strateginya kini berfokus pada kategori inti seperti produk bibir, blush, dan eyeshadow. Merek ini telah beroperasi di sembilan negara .
Dr.G: L'Oréal mengakuisisi Gowoonsesang Cosmetics—perusahaan induk merek skincare Korea Dr.G—dari grup ritel Swiss Migros. Kesepakatan tersebut diumumkan pada Desember 2024 dan Dr.G diposisikan untuk masuk ke divisi Consumer Products L'Oréal serta dikembangkan secara internasional . Pada April 2026, L'Oréal menunjuk general manager baru untuk memimpin ekspansi global Dr.G .
L'Oréal juga menyederhanakan operasi Gowoonsesang untuk berfokus pada Dr.G. Merek sekunder Vividraw dan Heals akan dihentikan secara bertahap, dengan dukungan untuk stok dan promosi yang sudah ada selama masa transisi .
Dengan demikian, 3CE menjadi pilar L'Oréal di kosmetik warna, sedangkan Dr.G mengisi posisi di perawatan kulit dermatologis. Langkah ini menempatkan Korea sebagai salah satu sumber inovasi dan mesin pertumbuhan global bagi grup tersebut .
Kolaborasi L'Oréal dan OpenAI memperlihatkan bagaimana platform AI percakapan dapat berkembang menjadi antarmuka belanja. Alih-alih membuka banyak situs untuk membandingkan produk, konsumen dapat memulai dari pertanyaan natural seperti kebutuhan kulit, hasil makeup yang diinginkan, atau kategori produk tertentu—setidaknya di pasar dan fitur yang telah diumumkan.
Integrasi virtual try-on juga membuat batas antara inspirasi, konsultasi, dan transaksi semakin tipis. Sementara itu, penggunaan GPT-Rosalind menandakan bahwa AI mulai masuk ke jantung sains kecantikan, termasuk penelitian mikrobioma dan pengembangan formulasi.
Namun, kolaborasi ini tetap berada pada tahap penerapan dan pengembangan. Ketersediaan fitur, wilayah peluncuran, akurasi rekomendasi, serta cara data pengguna diproses akan menjadi faktor penting sebelum pengalaman belanja kecantikan berbasis AI benar-benar menjadi kebiasaan umum.