Peristiwa itu segera memicu respons berlapis: pengerahan militer, penguatan teknologi pertahanan udara, langkah diplomatik terhadap Rusia, serta koordinasi baru di antara negara-negara NATO di kawasan Laut Hitam.
Drone tersebut merupakan bagian dari gelombang serangan yang menargetkan infrastruktur Ukraina di kawasan Danube. Radar Rumania pertama kali mendeteksinya pada pukul 01.46, ketika drone masih berada sekitar 19 kilometer di dalam wilayah udara Ukraina . Beberapa menit kemudian, drone memasuki ruang udara Rumania dan melaju dengan kecepatan hampir 200 kilometer per jam di atas kawasan berpenduduk .
Dua jet tempur F-16 Rumania dan sebuah helikopter militer dikerahkan dari Pangkalan Udara ke-86 di Fetești. Para pilot mendapat izin untuk menembak jatuh target, tetapi Kementerian Pertahanan Rumania menyimpulkan bahwa waktu yang tersedia tidak cukup untuk melakukan intersepsi tanpa meningkatkan risiko bagi warga sipil .
Analisis forensik yang dirilis pada 31 Mei menyatakan bahwa puing-puing di lokasi memiliki kesamaan struktur dan fungsi dengan drone Geran-2 yang ditemukan dalam insiden-insiden sebelumnya. Pemerintah Rumania menyimpulkan bahwa drone itu berasal dari Rusia .
Presiden Rumania Nicușor Dan menyebut insiden tersebut sebagai kejadian paling serius yang berdampak pada wilayah Rumania sejak perang dimulai. Ia kemudian menggelar rapat darurat Dewan Tertinggi Pertahanan Nasional dalam hitungan jam .
Keputusan paling tegas dari rapat itu adalah menutup Konsulat Jenderal Rusia di Constanța dan menyatakan Konsul Jenderal Andrei Kosilin sebagai persona non grata, istilah diplomatik yang berarti pejabat tersebut tidak lagi diterima di negara tuan rumah .
Dan menyatakan Rusia memikul “tanggung jawab penuh” atas insiden tersebut. Ia juga mengecam tokoh-tokoh politik domestik yang berusaha mengecilkan arti serangan itu . Sang presiden kemudian memperingatkan bahwa pelanggaran baru dapat berujung pada pengusiran duta besar Rusia .
Moskva menolak mengakui bahwa drone tersebut adalah milik Rusia. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova hanya mengatakan bahwa Rusia akan mengambil “tindakan balasan” . Posisi Rusia yang selama ini disampaikan adalah bahwa puing drone yang jatuh di Rumania merupakan kecelakaan atau akibat aktivitas pertahanan udara Ukraina.
Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte berbicara dengan Presiden Dan setelah drone menghantam apartemen tersebut dan menyatakan “solidaritas mutlak” kepada Rumania. Dalam pernyataan di X, Rutte mengatakan perilaku Rusia yang sembrono merupakan bahaya bagi semua pihak dan menegaskan bahwa NATO siap mempertahankan setiap jengkal wilayah negara anggota .
Juru bicara NATO Allison Hart mengatakan aliansi akan terus memperkuat pertahanannya terhadap semua ancaman, termasuk drone .
Amerika Serikat juga mengecam insiden itu melalui jalur militer. Kepala pertahanan Rumania berbicara dengan komandan Angkatan Darat AS untuk Eropa dan Afrika, serta meminta percepatan pengiriman kemampuan pertahanan udara dan penangkal drone tambahan ke wilayah Rumania .
Atas permintaan Bukares, Dewan Keamanan PBB menggelar sidang darurat pada 2 Juni. Menteri Luar Negeri Rumania Oana Toiu menyebut pelanggaran tersebut sebagai eskalasi yang tidak dapat diterima dan konsekuensi dari taktik eskalasi Rusia dalam perang melawan Ukraina .
Rumania secara resmi meminta sekutu NATO mengerahkan “kemampuan antidrone tambahan” ke wilayahnya, sesuai arahan Panglima Tertinggi Sekutu Eropa atau SACEUR . Sejumlah negara kemudian menyiapkan dukungan berikut.
NATO mengerahkan pesawat peringatan dini udara E-3A, yang lebih dikenal sebagai AWACS, untuk meningkatkan pemantauan wilayah udara setelah pelanggaran tersebut . Rumania juga memperkuat patroli F-16 dan mempererat pertukaran data radar dengan sistem aliansi .
Fokusnya adalah mendeteksi drone yang terbang rendah lebih cepat. Dalam kasus Galați, jarak antara deteksi dan hantaman hanya beberapa menit, sementara drone bergerak hampir 200 kilometer per jam di atas kawasan berpenduduk .
NASAMS yang dikirim Spanyol akan menambah perlindungan pertahanan udara jarak menengah. NATO juga menilai kemungkinan kontribusi berupa meriam antidrone jarak pendek, pengacak sinyal melalui peperangan elektronik, dan tim pertahanan udara bergerak.
Permintaan Rumania kepada sekutu mencakup penambahan kemampuan pemantauan dan pertahanan yang sudah dimiliki negara itu, dengan koordinasi operasional di bawah arahan SACEUR .
Penguatan ini tidak hanya berupa perangkat keras. Spanyol dan Italia juga mengirim personel untuk melatih unit Rumania dalam operasi menghadapi drone . Sementara itu, detasemen Typhoon Inggris memberikan kemampuan patroli udara tempur yang sudah tersedia dan dapat diperluas bila diperlukan .
Insiden Galați berlangsung ketika NATO dan negara-negara Eropa menghadapi beberapa tekanan strategis sekaligus.
Pertama, sejumlah negara anggota Uni Eropa semakin khawatir terhadap serangan jarak jauh Ukraina ke wilayah Rusia. Mereka takut aksi saling balas akan meningkatkan eskalasi dan menyeret NATO lebih langsung ke dalam perang. Kekhawatiran itu membuat sekutu harus menyeimbangkan dukungan terhadap pertahanan Ukraina dengan upaya mencegah konflik meluas.
Kedua, laporan mengenai rencana pengurangan sekitar 10.000 personel militer Amerika Serikat di Jerman pada masa pemerintahan Biden membuat negara-negara di garis depan Eropa Timur gelisah. Bagi Rumania dan negara-negara timur lainnya, pengurangan tersebut dipandang berpotensi melemahkan daya tangkal konvensional di sayap timur NATO.
Ketiga, Rumania mengisyaratkan kemungkinan menggunakan Pasal 4 Traktat Atlantik Utara. Pasal ini memungkinkan negara anggota meminta konsultasi resmi ketika integritas wilayah, kemerdekaan politik, atau keamanannya dinilai terancam .
Pasal 4 tidak otomatis memicu aksi militer. Namun, konsultasi tersebut dapat membawa krisis ke agenda Dewan Atlantik Utara dan membuka jalan bagi keputusan sekutu yang lebih terkoordinasi—termasuk pengerahan pertahanan udara yang lebih permanen, bukan sekadar rangkaian misi bilateral yang dipercepat .
Insiden yang bermula dari satu drone yang melintasi Donau kini menjadi ujian bagi refleks pertahanan kolektif NATO. Jet tempur, pesawat radar, sistem permukaan-ke-udara, teknologi antidrone, dan langkah diplomatik yang menyertainya menunjukkan bahwa aliansi tersebut berusaha memastikan pelanggaran di perbatasan timurnya tidak dianggap sebagai insiden biasa.
Peristiwa itu segera memicu respons berlapis: pengerahan militer, penguatan teknologi pertahanan udara, langkah diplomatik terhadap Rusia, serta koordinasi baru di antara negara-negara NATO di kawasan Laut Hitam.
Drone tersebut merupakan bagian dari gelombang serangan yang menargetkan infrastruktur Ukraina di kawasan Danube. Radar Rumania pertama kali mendeteksinya pada pukul 01.46, ketika drone masih berada sekitar 19 kilometer di dalam wilayah udara Ukraina . Beberapa menit kemudian, drone memasuki ruang udara Rumania dan melaju dengan kecepatan hampir 200 kilometer per jam di atas kawasan berpenduduk .
Dua jet tempur F-16 Rumania dan sebuah helikopter militer dikerahkan dari Pangkalan Udara ke-86 di Fetești. Para pilot mendapat izin untuk menembak jatuh target, tetapi Kementerian Pertahanan Rumania menyimpulkan bahwa waktu yang tersedia tidak cukup untuk melakukan intersepsi tanpa meningkatkan risiko bagi warga sipil .
Analisis forensik yang dirilis pada 31 Mei menyatakan bahwa puing-puing di lokasi memiliki kesamaan struktur dan fungsi dengan drone Geran-2 yang ditemukan dalam insiden-insiden sebelumnya. Pemerintah Rumania menyimpulkan bahwa drone itu berasal dari Rusia .
Presiden Rumania Nicușor Dan menyebut insiden tersebut sebagai kejadian paling serius yang berdampak pada wilayah Rumania sejak perang dimulai. Ia kemudian menggelar rapat darurat Dewan Tertinggi Pertahanan Nasional dalam hitungan jam .
Keputusan paling tegas dari rapat itu adalah menutup Konsulat Jenderal Rusia di Constanța dan menyatakan Konsul Jenderal Andrei Kosilin sebagai persona non grata, istilah diplomatik yang berarti pejabat tersebut tidak lagi diterima di negara tuan rumah .
Dan menyatakan Rusia memikul “tanggung jawab penuh” atas insiden tersebut. Ia juga mengecam tokoh-tokoh politik domestik yang berusaha mengecilkan arti serangan itu . Sang presiden kemudian memperingatkan bahwa pelanggaran baru dapat berujung pada pengusiran duta besar Rusia .
Moskva menolak mengakui bahwa drone tersebut adalah milik Rusia. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova hanya mengatakan bahwa Rusia akan mengambil “tindakan balasan” . Posisi Rusia yang selama ini disampaikan adalah bahwa puing drone yang jatuh di Rumania merupakan kecelakaan atau akibat aktivitas pertahanan udara Ukraina.
Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte berbicara dengan Presiden Dan setelah drone menghantam apartemen tersebut dan menyatakan “solidaritas mutlak” kepada Rumania. Dalam pernyataan di X, Rutte mengatakan perilaku Rusia yang sembrono merupakan bahaya bagi semua pihak dan menegaskan bahwa NATO siap mempertahankan setiap jengkal wilayah negara anggota .
Juru bicara NATO Allison Hart mengatakan aliansi akan terus memperkuat pertahanannya terhadap semua ancaman, termasuk drone .
Amerika Serikat juga mengecam insiden itu melalui jalur militer. Kepala pertahanan Rumania berbicara dengan komandan Angkatan Darat AS untuk Eropa dan Afrika, serta meminta percepatan pengiriman kemampuan pertahanan udara dan penangkal drone tambahan ke wilayah Rumania .
Atas permintaan Bukares, Dewan Keamanan PBB menggelar sidang darurat pada 2 Juni. Menteri Luar Negeri Rumania Oana Toiu menyebut pelanggaran tersebut sebagai eskalasi yang tidak dapat diterima dan konsekuensi dari taktik eskalasi Rusia dalam perang melawan Ukraina .
Rumania secara resmi meminta sekutu NATO mengerahkan “kemampuan antidrone tambahan” ke wilayahnya, sesuai arahan Panglima Tertinggi Sekutu Eropa atau SACEUR . Sejumlah negara kemudian menyiapkan dukungan berikut.
NATO mengerahkan pesawat peringatan dini udara E-3A, yang lebih dikenal sebagai AWACS, untuk meningkatkan pemantauan wilayah udara setelah pelanggaran tersebut . Rumania juga memperkuat patroli F-16 dan mempererat pertukaran data radar dengan sistem aliansi .
Fokusnya adalah mendeteksi drone yang terbang rendah lebih cepat. Dalam kasus Galați, jarak antara deteksi dan hantaman hanya beberapa menit, sementara drone bergerak hampir 200 kilometer per jam di atas kawasan berpenduduk .
NASAMS yang dikirim Spanyol akan menambah perlindungan pertahanan udara jarak menengah. NATO juga menilai kemungkinan kontribusi berupa meriam antidrone jarak pendek, pengacak sinyal melalui peperangan elektronik, dan tim pertahanan udara bergerak.
Permintaan Rumania kepada sekutu mencakup penambahan kemampuan pemantauan dan pertahanan yang sudah dimiliki negara itu, dengan koordinasi operasional di bawah arahan SACEUR .
Penguatan ini tidak hanya berupa perangkat keras. Spanyol dan Italia juga mengirim personel untuk melatih unit Rumania dalam operasi menghadapi drone . Sementara itu, detasemen Typhoon Inggris memberikan kemampuan patroli udara tempur yang sudah tersedia dan dapat diperluas bila diperlukan .
Insiden Galați berlangsung ketika NATO dan negara-negara Eropa menghadapi beberapa tekanan strategis sekaligus.
Pertama, sejumlah negara anggota Uni Eropa semakin khawatir terhadap serangan jarak jauh Ukraina ke wilayah Rusia. Mereka takut aksi saling balas akan meningkatkan eskalasi dan menyeret NATO lebih langsung ke dalam perang. Kekhawatiran itu membuat sekutu harus menyeimbangkan dukungan terhadap pertahanan Ukraina dengan upaya mencegah konflik meluas.
Kedua, laporan mengenai rencana pengurangan sekitar 10.000 personel militer Amerika Serikat di Jerman pada masa pemerintahan Biden membuat negara-negara di garis depan Eropa Timur gelisah. Bagi Rumania dan negara-negara timur lainnya, pengurangan tersebut dipandang berpotensi melemahkan daya tangkal konvensional di sayap timur NATO.
Ketiga, Rumania mengisyaratkan kemungkinan menggunakan Pasal 4 Traktat Atlantik Utara. Pasal ini memungkinkan negara anggota meminta konsultasi resmi ketika integritas wilayah, kemerdekaan politik, atau keamanannya dinilai terancam .
Pasal 4 tidak otomatis memicu aksi militer. Namun, konsultasi tersebut dapat membawa krisis ke agenda Dewan Atlantik Utara dan membuka jalan bagi keputusan sekutu yang lebih terkoordinasi—termasuk pengerahan pertahanan udara yang lebih permanen, bukan sekadar rangkaian misi bilateral yang dipercepat .
Insiden yang bermula dari satu drone yang melintasi Donau kini menjadi ujian bagi refleks pertahanan kolektif NATO. Jet tempur, pesawat radar, sistem permukaan-ke-udara, teknologi antidrone, dan langkah diplomatik yang menyertainya menunjukkan bahwa aliansi tersebut berusaha memastikan pelanggaran di perbatasan timurnya tidak dianggap sebagai insiden biasa.