Sebelum laga di Roma, Sinner sudah menyamai catatan Djokovic dengan 31 kemenangan. Hasil straight‑set tersebut membuatnya melampaui legenda Serbia itu dan memperpanjang rangkaian kemenangan yang dimulai pada akhir musim 2025.
Turnamen Masters 1000 merupakan level kompetisi tertinggi di ATP Tour setelah empat Grand Slam, biasanya diikuti hampir semua pemain terbaik dunia. Konsistensi di level ini sering dianggap sebagai ukuran dominasi seorang pemain sepanjang musim.
Perempat final di Roma menunjukkan mengapa Sinner begitu sulit dikalahkan selama beberapa bulan terakhir.
Ia mengendalikan pertandingan sejak awal dan menutup laga dalam waktu sekitar 1 jam 32 menit dengan skor 6‑2, 6‑4.
Beberapa statistik kunci pertandingan:
Sinner bahkan mematahkan servis lawan di gim pertama untuk pertandingan ketiga berturut‑turut di Roma dan kemudian menjaga kendali dengan reli agresif serta pukulan mendekati garis.
Dominasi Sinner di Roma hanyalah bagian dari rangkaian performa luar biasa sepanjang 2026.
Rentetan kemenangan di Masters mencakup lima gelar Masters 1000 berturut‑turut yang diraih di dua musim berbeda:
Dengan rangkaian ini, Sinner menjadi pemain pertama dalam sejarah yang memenangi lima turnamen ATP Masters 1000 secara beruntun.
Selama periode tersebut, ia juga mencatat berbagai statistik impresif, termasuk kemenangan beruntun tanpa kehilangan set di beberapa turnamen besar awal musim.
Setelah mengalahkan Rublev, Sinner tinggal dua kemenangan lagi untuk meraih gelar Italian Open pertamanya. Jika berhasil, ia akan menjadi petenis putra Italia pertama yang memenangi turnamen ini dalam sekitar setengah abad.
Ada beberapa alasan mengapa banyak pengamat menilai dia sebagai favorit:
Selain itu, performanya menunjukkan bahwa ia mampu mendominasi di berbagai permukaan, termasuk lapangan tanah liat (clay) yang biasanya paling menuntut secara fisik di ATP Tour.
French Open di Roland Garros dimulai tidak lama setelah Italian Open, sehingga turnamen Roma sering dianggap sebagai ujian terakhir bagi para pemain sebelum Grand Slam tanah liat tersebut.
Dengan momentum yang dimilikinya, banyak analis menempatkan Sinner sebagai salah satu kandidat terkuat untuk juara di Paris.
Beberapa aspek permainannya yang sangat efektif di clay antara lain:
Meski begitu, sejarah tenis menunjukkan bahwa dominasi di Masters tidak selalu otomatis berujung gelar Grand Slam. Format best‑of‑five set, undian pertandingan, serta faktor fisik selama dua minggu kompetisi bisa mengubah segalanya.
Namun dengan 32 kemenangan beruntun di Masters 1000 dan rangkaian gelar sejak akhir 2025 hingga 2026, Sinner memasuki French Open dalam salah satu posisi paling dominan yang pernah dimiliki pemain mana pun dalam beberapa tahun terakhir.
Comments
0 comments