Teknologinya dikembangkan oleh Institut Kimia Terapan Changchun (CIAC) melalui riset selama lebih dari enam dekade. Bagi China, proyek ini bukan sekadar penambahan kapasitas produksi karet, melainkan langkah untuk membawa keunggulan riset laboratorium ke skala industri sekaligus memperkuat kendali atas rantai nilai tanah jarang.
Perbedaan utamanya terletak pada katalis. Karet polibutadiena konvensional umumnya dibuat menggunakan katalis berbasis nikel. Dalam teknologi baru ini, nikel digantikan oleh neodimium, salah satu logam tanah jarang.
Pergantian katalis tersebut mengubah struktur mikro polimer. Hasilnya adalah kandungan cis-1,4 yang lebih tinggi serta rantai molekul yang lebih linear dan seragam. Struktur ini membantu meningkatkan sifat mekanis dan termal karet .
Dibandingkan karet polibutadiena berbasis katalis nikel, karet tanah jarang atau Nd-BR memiliki sejumlah keunggulan yang relevan untuk kebutuhan ban modern :
Karena itu, Nd-BR sangat cocok untuk dua segmen yang memiliki tuntutan berbeda. Ban EV membutuhkan hambatan gulir rendah agar efisiensi baterai terjaga, sementara ban kendaraan berat membutuhkan daya tahan, kekuatan, dan kemampuan mengelola panas.
China mulai mengembangkan katalis tanah jarang untuk polimerisasi butadiena pada 1960-an. Saat itu, ilmuwan China menjadi salah satu pelopor dunia dalam memublikasikan penggunaan katalis tersebut untuk menghasilkan karet polibutadiena .
Pabrik Dushanzi menggunakan teknologi industrialisasi generasi kedua dari jalur riset tersebut. Fitur utamanya mencakup :
Menurut laporan terkait proyek tersebut, para peneliti juga mengatasi sejumlah persoalan teknis yang telah lama menghambat produksi skala besar. Tantangan itu mencakup pembuatan katalis homogen dengan satu situs aktif, toleransi katalis terhadap bahan baku, kemampuan menyesuaikan diri dengan variasi bahan baku, serta integrasi percabangan rantai panjang dan fungsionalisasi .
Dushanzi disebut sebagai fasilitas karet tanah jarang skala besar pertama China yang direkayasa sepenuhnya dengan teknologi dan peralatan domestik. Lokalisasi 100 persen ini dapat mengurangi ketergantungan industri ban China terhadap lisensi proses, katalis, atau peralatan dari luar negeri .
Langkah tersebut juga memperdalam pemanfaatan tanah jarang di sektor hilir. China memiliki posisi dominan dalam penambangan dan pengolahan tanah jarang; mengubahnya menjadi material bernilai lebih tinggi seperti karet untuk ban premium berarti memperluas kendali dari bahan mentah hingga produk industri.
Proyek ini melanjutkan beberapa tonggak sebelumnya. Pada 2012, China membangun fasilitas karet isoprena berbasis tanah jarang dengan kapasitas 30.000 ton per tahun. Kemudian pada 2014, inovasi katalis baru dilaporkan memangkas biaya katalis lebih dari 90 persen dan mempersingkat waktu polimerisasi dari tujuh jam menjadi 2,5 jam .
Kapasitas produksi pabrik telah dilaporkan, tetapi dampak langsungnya terhadap permintaan global neodimium dan tanah jarang belum dapat dihitung secara pasti. Hingga kini, belum ada data publik mengenai jumlah katalis yang digunakan maupun tingkat pemulihan katalis dalam proses produksi .
Artinya, kapasitas 100.000 ton karet tidak otomatis berarti kebutuhan tanah jarang dalam jumlah yang sama besarnya. Besarnya konsumsi aktual akan bergantung pada formulasi katalis, dosis penggunaan, efisiensi proses, dan seberapa banyak katalis dapat dipulihkan serta digunakan kembali.
Pabrik Nd-BR berkapasitas 100.000 ton per tahun di Dushanzi menandai perubahan penting: teknologi karet berbasis tanah jarang yang dikembangkan selama puluhan tahun kini telah mencapai produksi industri. Material ini menawarkan kombinasi ketahanan aus, efisiensi energi, kekuatan, dan performa suhu rendah yang sesuai untuk ban EV maupun kendaraan berat .
Bagi China, arti proyek ini melampaui produksi karet. Fasilitas tersebut memperkuat kemampuan domestik dalam mengolah tanah jarang menjadi bahan bernilai tinggi dan mengurangi ketergantungan terhadap teknologi serta peralatan asing. Namun, besarnya konsumsi tanah jarang dan dampak akhirnya terhadap pasar global masih menunggu pengungkapan data operasional yang lebih lengkap.