Peneliti dari UC San Diego dan Oberlin College mempresentasikan serangan 'Bus Driver' pada 13 Agustus 2026: sebuah implan perangkat keras seukuran koin dengan Wi Fi yang dapat membajak autopilot Boeing 737 dalam waktu... Serangan ini mengeksploitasi bus avionik ARINC 429 yang tidak terenkripsi untuk mengubah titik a...
Jawaban penelitian

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: What new Wi-Fi-enabled attack on Boeing 737 autopilots did researchers from UCSD and Oberlin College present at the 35th Usenix Security Sym. Article summary: Here is the answer based on the research findings.. Topic tags: general, general web, user generated, government, education. Style: premium digital editorial illustration, source-backed research mood, clean composition, high detail, modern web publication hero. Use reference image context only for broad subject, composition, and topical grounding; do not copy the exact image. Avoid: logos, brand marks, copyrighted characters, real person likenesses, fake screenshots, UI text, readable text, watermarks, charts with fake numbers, clickbait thumbnails, icons, and tiny thumbnail layouts. Make it useful as an illustrative visual, not as factual evidence.
Pada Simposium Keamanan USENIX ke-35 di Baltimore, 13 Agustus 2026, tim peneliti dari UC San Diego dan Oberlin College mempresentasikan bukti konsep serangan yang mencengangkan terhadap penerbangan komersial. Dinamakan serangan "Bus Driver", eksploitasi ini menggunakan implan perangkat keras seukuran koin yang dapat mengambil alih autopilot dan sistem manajemen penerbangan Boeing 737 Next Generation dan MAX — semuanya dimulai dengan akses fisik kurang dari satu menit ke port eksternal yang tidak aman di pesawat .
Para peneliti — dipimpin oleh mantan mahasiswa Ph.D. UCSD, Sam Crow — merancang, membuat, dan memprogram papan sirkuit kecil yang bertindak sebagai perangkat pihak ketiga berbahaya yang disisipkan di antara dua komputer onboard yang kritis . Berikut cara kerja serangannya:
Perangkat ini, kira-kira seukuran koin (seperti keping Rp500) dan biaya pembuatannya kurang dari Rp1,6 juta (setara $100), dipasang dengan membuka palka eksternal pada badan pesawat yang mengakses ruang Elektronik dan Peralatan (E&E) . Penyerang dapat membuka palka ini dalam waktu sekitar 15 detik tanpa alat khusus, lalu mencolokkan implan ke port Komputer Perawatan Onboard (OMC) yang terbuka
. Seluruh proses memakan waktu kurang dari 60 detik, dan perangkat ini cukup kecil untuk disembunyikan di bawah tutup debu port, sehingga tidak terlihat selama inspeksi rutin
.
Setelah terhubung, implan menyusup ke bus data avionik ARINC 429 yang tidak terenkripsi, sebuah bus serial master-tunggal yang membawa semua komunikasi antara Komputer Manajemen Penerbangan (FMC) dan Unit Tampilan dan Kontrol Multifungsi (MCDU) pilot . ARINC 429 tidak memiliki otentikasi atau enkripsi bawaan. Yang terpenting, desain kelistrikannya menggunakan resistor pencocokan impedansi yang memungkinkan perangkat jahat untuk secara elektrik mengesampingkan sinyal yang sah dengan mengalirkan lebih banyak arus ke jalur bus daripada pemancar yang berwenang
. Para peneliti menyebut teknik penekanan sinyal ini sebagai serangan "Bus Driver"
.
Setelah implan Bus Driver mengesampingkan bus, ia dapat menyuntikkan perintah palsu untuk:
Secara bersamaan, perangkat mengirim data palsu ke layar kokpit sehingga pilot melihat rencana penerbangan asli yang tidak diubah — secara efektif menyembunyikan semua perubahan . Pilot tidak akan melihat peringatan atau perbedaan apa pun di layar MCDU, membuat serangan ini sangat sulit dideteksi dari kokpit
.
Implan ini dilengkapi radio Wi-Fi, memungkinkan penyerang mengirim perintah secara nirkabel secara real-time atau bahkan menyebarkan pembaruan perangkat lunak berbahaya saat pesawat sedang terbang . Ini berarti perangkat dapat dikendalikan secara dinamis sejak dipasang hingga sepanjang durasi penerbangan.
Tim peneliti pertama kali mengungkapkan kerentanan ini kepada Boeing pada tahun 2020, kemudian bekerja sama dengan pabrikan untuk menguji dan memvalidasi serangan di laboratorium Boeing sendiri .
Sebagai tanggapan, Boeing mengeluarkan pernyataan yang meremehkan risiko praktisnya: "Pakar teknis kami yakin bahwa lapisan perlindungan yang ada di pesawat, termasuk dalam desain sistem dan lingkungan operasional, memberikan mitigasi yang memadai untuk secara signifikan membatasi kelayakan dan risiko serangan di dunia nyata" . Boeing juga menyatakan bahwa mereka telah melakukan tinjauan sendiri terhadap desain, pemasangan, dan antarmuka komponen yang relevan sebagai tanggapan atas temuan para peneliti
.
Para peneliti mengusulkan serangkaian mitigasi untuk mengatasi kerentanan tersebut, termasuk :
Para peneliti menekankan bahwa temuan mereka tidak mengharuskan armada pesawat untuk di-ground-kan, melainkan menyerukan perbaikan praktis jangka pendek pada keamanan fisik dan integritas bus avionik .
Studio Global AI
Halaman ini berisi jawaban yang didukung sumber yang dapat Anda lanjutkan di dalam Studio Global.
Peneliti dari UC San Diego dan Oberlin College mempresentasikan serangan 'Bus Driver' pada 13 Agustus 2026: sebuah implan perangkat keras seukuran koin dengan Wi Fi yang dapat membajak autopilot Boeing 737 dalam waktu...
Peneliti dari UC San Diego dan Oberlin College mempresentasikan serangan 'Bus Driver' pada 13 Agustus 2026: sebuah implan perangkat keras seukuran koin dengan Wi Fi yang dapat membajak autopilot Boeing 737 dalam waktu... Serangan ini mengeksploitasi bus avionik ARINC 429 yang tidak terenkripsi untuk mengubah titik arah, berat lepas landas, dan suhu udara luar, sambil menampilkan data palsu yang tampak normal di layar kokpit.
Boeing, yang telah diberi tahu tentang kerentanan ini sejak 2020 dan memvalidasi serangan di laboratorium mereka sendiri, menyatakan bahwa lapisan perlindungan yang ada sudah cukup untuk memitigasi risiko serangan di...