Namun, fungsi tombol ini tidak berhenti pada penyaringan umpan. LinkedIn mengatakan laporan pengguna akan digunakan untuk melatih dan menyempurnakan model pendeteksi AI miliknya . Dengan kata lain, pengguna ikut menjadi sumber data untuk membantu platform memahami seperti apa bentuk “slop” yang terus berubah .
Fitur ini tidak otomatis berarti unggahan akan dihapus dari LinkedIn. Sebelumnya, platform telah menerapkan penurunan jangkauan algoritmik terhadap unggahan dan komentar yang dianggap sebagai konten AI generik. LinkedIn menyebut tingkat akurasi deteksinya mencapai 94%, tetapi konten yang terindikasi biasanya ditekan distribusinya, bukan langsung dihapus .
Dalam langkah yang menjadi pengakuan atas peran platform sendiri, LinkedIn juga menghapus tombol “Enhance with AI” yang sebelumnya dipromosikan pada setiap unggahan .
Fitur tersebut digantikan alat pemeriksaan tulisan yang lebih ringan. Alih-alih menulis ulang seluruh teks, alat baru itu hanya memberikan saran penyuntingan kecil .
LinkedIn juga mengambil tindakan terhadap pola penggunaan yang berpotensi membanjiri platform, termasuk:
LinkedIn tidak menyatakan bahwa semua penggunaan AI dilarang. Fokus kebijakannya adalah konten berupaya rendah yang tidak memiliki pengalaman, keahlian, atau perspektif orisinal—bukan sekadar fakta bahwa AI digunakan dalam proses penyuntingan.
Angkanya menunjukkan mengapa LinkedIn kini mengambil langkah yang lebih agresif.
Studi Pangram Labs pada Juli 2026 menganalisis sekitar 1 juta unggahan di LinkedIn, X, Medium, Reddit, dan Substack selama April hingga Juni 2026. Hasilnya, 41% unggahan panjang di LinkedIn—yang didefinisikan sebagai unggahan lebih dari 250 kata—terdeteksi sepenuhnya dibuat AI, menjadi angka tertinggi di antara platform besar yang diteliti .
LinkedIn hanya menyumbang sekitar sepertiga dari seluruh unggahan yang dipindai, tetapi mencakup 62% dari semua unggahan panjang yang terdeteksi dibuat AI dalam dataset tersebut .
Studi lain dari Originality.ai pada 2025 memperkirakan 53,7% unggahan panjang LinkedIn kemungkinan dibuat dengan AI . Angka dari berbagai studi tidak bisa dibandingkan secara mutlak karena metode, ukuran sampel, dan definisi “dibuat AI” berbeda. Namun, semuanya mengarah pada masalah yang sama: konten generik berbasis AI telah menjadi bagian besar dari percakapan di LinkedIn.
LinkedIn bukan satu-satunya platform yang menghadapi banjir konten sintetis. Beberapa layanan besar memilih pendekatan berupa label, penghapusan, pembatasan jangkauan, atau risiko kehilangan monetisasi.
Masalah ini bahkan melampaui media sosial. Pemindaian Stanford Internet Observatory terhadap 14 miliar halaman terindeks menemukan bahwa 58% konten web yang baru diterbitkan pada 2026 menunjukkan ciri-ciri pembuatan AI .
Kebijakan baru LinkedIn memperlihatkan situasi yang semakin rumit: platform menggunakan AI untuk mendeteksi konten yang dibuat AI, sementara pada saat yang sama tetap menyediakan berbagai alat berbasis AI untuk membantu pengguna menulis dan mengelola konten.
Tantangan utamanya bukan hanya membedakan tulisan manusia dan mesin. AI juga dapat dipakai untuk menyusun draf, memperbaiki tata bahasa, atau merapikan struktur tanpa menghilangkan pengalaman pribadi penulis. Karena itu, ukuran yang dipakai platform semakin bergeser dari “apakah AI digunakan?” menjadi “apakah unggahan ini memiliki nilai, konteks, dan sudut pandang yang nyata?”.
Bagi pengguna LinkedIn, pesan kebijakan ini cukup jelas: memakai AI sebagai alat bantu belum tentu menjadi masalah, tetapi memublikasikan teks generik tanpa pengalaman atau pemikiran sendiri dapat membuat unggahan kehilangan jangkauan—atau mengundang satu klik dari tombol “Seems like AI slop”.