Seedance 2.5 juga mendukung hingga 50 referensi multimodal dalam satu proses—terdiri atas 30 gambar, 10 video, dan 10 klip audio—serta menghasilkan video native 4K. Model ini dilengkapi fitur perpanjangan multi-putaran untuk membangun rangkaian cerita yang lebih panjang.
Dampaknya paling terasa di industri microdrama China, yaitu serial pendek dengan episode berdurasi singkat yang umumnya dirancang untuk ditonton melalui platform digital. Nilai pasar microdrama China, baik yang dibuat dengan AI maupun secara live-action, diproyeksikan mencapai 40 miliar yuan atau sekitar US$5,9 miliar pada 2026. Jumlah penontonnya telah melampaui 600 juta orang hanya dalam enam bulan pertama tahun tersebut.
AI mendorong perubahan ini dengan memangkas dua hal yang selama ini paling membebani produksi: waktu dan biaya.
Dalam pola produksi live-action tradisional, tahap persiapan, pengambilan gambar, dan pascaproduksi masing-masing dapat memakan waktu sekitar tujuh hari. Pola yang kerap disebut “7+7+7” itu membutuhkan sedikitnya tiga minggu sebelum sebuah drama siap dirilis.
Dengan alur kerja berbasis AI, proses tersebut dipersingkat secara drastis. Tim yang terdiri atas lima orang dan beberapa komputer dapat menyelesaikan drama pendek 60 episode dalam enam hari, dengan biaya kurang dari sepersepuluh produksi live-action.
Sejumlah studio bahkan memproduksi drama AI berdurasi 100 menit setiap tiga hingga tujuh hari dengan biaya di bawah 20.000 yuan. Di Moli OPC AI Comic Drama Base di bagian timur laut Shenzhen, proses yang sebelumnya berlangsung berbulan-bulan kini dapat dipadatkan menjadi “hitungan minggu”.
Biaya produksi berbasis AI kini diperkirakan hanya sekitar 10–20% dari anggaran produksi live-action. Waktu pengerjaan yang sebelumnya dapat mencapai sekitar 90 hari turun menjadi tujuh hingga 10 hari, bahkan kurang dari lima hari dalam sejumlah kasus.
South China Morning Post melaporkan, biaya komputasi untuk menghasilkan drama komik berdurasi 80 menit dapat ditekan hingga sekitar 25.000 yuan atau US$3.694. Sementara itu, produksi live-action yang sebelumnya membutuhkan anggaran rata-rata 300.000–400.000 yuan dan kru sekitar 40 orang mulai disaingi oleh produksi AI dengan biaya di bawah 20.000 yuan serta kurang dari 10 anggota tim.
Pada kuartal pertama 2026, lebih dari 95% dari 128.000 microdrama baru yang dirilis dilaporkan dibuat dengan AI.
Moli OPC AI Comic Drama Base di Shenzhen menjadi contoh paling jelas dari perubahan tersebut. Tempat ini berfungsi sebagai pusat produksi terpadu yang mempertemukan sutradara, produser, prompt engineer, dan distributor dalam satu lokasi.
Genre yang dikembangkan di sana dikenal sebagai AI comic drama: konsep dari komik pendek atau video diubah menjadi microdrama dengan bantuan model generatif. Alih-alih melakukan casting, mencari lokasi, dan merekam seluruh adegan secara fisik, tim memasukkan naskah, referensi gaya, serta arahan visual ke dalam model seperti Seedance.
Dalam ekosistem ini, muncul peran baru yang di China disebut “card drawer”. Mereka pada dasarnya adalah prompt engineer yang menyusun instruksi, memasukkan referensi karakter dan adegan, lalu mengarahkan model agar menghasilkan materi video yang konsisten. Hasilnya kemudian diseleksi, diedit, diberi suara, dan disiapkan untuk distribusi.
BBC melaporkan bahwa lima orang dengan beberapa komputer dapat membawa sebuah drama dari naskah hingga tayang online dalam waktu kurang dari satu minggu.
ByteDance juga meluncurkan agen pembuat short drama di platform AI Xiaoyunque. Agen yang ditenagai Seedance 2.0 itu dapat menghasilkan episode lengkap dari naskah hingga 100.000 karakter bahasa Mandarin, dengan rancangan karakter dan gaya adegan yang konsisten.
Pada Januari 2026, China menghasilkan sekitar 470 judul microdrama berbasis AI setiap hari—setara dengan satu judul baru yang tayang setiap 90 detik.
Sebulan kemudian, sekitar 50.000 episode yang sejak awal dibuat dengan AI diunggah ke Douyin, platform video pendek milik ByteDance. Perkembangan ini menandai pergeseran AI video dari sekadar alat eksperimen menjadi sistem produksi komersial berskala massal.
Segmen drama komik berbasis AI sendiri diperkirakan bernilai 16,8 miliar yuan atau sekitar US$2,44 miliar pada 2025. Menurut platform data industri DataEye, lebih dari 10.000 produksi sejenis telah dirilis setiap bulan sejak awal 2026.
Perusahaan kini mengalokasikan sekitar 30% anggaran produksinya untuk perangkat AI. Dalam sejumlah genre, penonton bahkan disebut semakin sulit membedakan hasil AI dari tayangan live-action.
Perubahan yang sangat cepat ini juga memunculkan konsekuensi besar. ByteDance dilaporkan menghentikan subsidi untuk drama live-action pada Februari 2026, sehingga peralihan industri ke produksi AI semakin cepat.
Di Hengdian—salah satu pusat produksi drama live-action China—pergeseran tersebut memicu kehilangan pekerjaan secara luas. Pada saat yang sama, tingginya jumlah produksi belum otomatis menghasilkan tayangan yang lebih baik. Meski lebih dari 95% microdrama baru pada kuartal pertama dibuat dengan AI, kualitas konten secara umum dilaporkan masih serupa dan hanya sedikit judul yang berhasil menjadi hit besar.
Artinya, Seedance telah mengubah ekonomi dan kecepatan produksi, tetapi belum menghapus kebutuhan akan keputusan kreatif manusia. Naskah, penyutradaraan, pemilihan adegan, penyuntingan, dan pemahaman terhadap selera penonton tetap menentukan apakah sebuah drama akan sekadar tayang—atau benar-benar ditonton.
Untuk saat ini, China menjadi laboratorium terbesar bagi model produksi baru tersebut. Seedance 2.0 dan 2.5 menunjukkan bahwa AI video bukan lagi hanya alat untuk membuat klip viral. Di industri microdrama, AI mulai berfungsi sebagai infrastruktur produksi yang mampu mengubah cara cerita dibuat, biaya dihitung, dan konten didistribusikan.