Iran memungut biaya selangit hingga $2 juta per kapal—hanya bisa dibayar dengan Bitcoin, USDT, atau yuan Tiongkok—untuk melintasi Selat Hormuz, melumpuhkan jalur air yang memasok seperlima minyak dan gas alam cair dunia. Amerika Serikat mengecam keras pungutan ilegal ini, mengancam sanksi bagi perusahaan pelayaran y...

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: What legal and geopolitical arguments has Iran made to justify charging ships for passage through the Strait of Hormuz, how has the U.S. res. Article summary: Here is a comprehensive answer based on the available evidence.. Topic tags: general, general web, user generated. Reference image context from search candidates: Reference image 1: visual subject "# The Closure of the Strait of Hormuz by Iran: Considerations over the Law of the Sea and Law of Naval Warfare. The illegal armed attack against Iran by Israel and the US on Februa" source context "The Closure of the Strait of Hormuz by Iran: Considerations over the Law of the Sea and Law of Naval Warfare - Opinio Ju" Reference image 2: visual subject "# The Closure of the Strait of Hormuz by Iran: Considerations over the Law of the Sea and Law of Naval Warfare. The
Sejak akhir Februari 2026, Selat Hormuz berubah dari jalur transit minyak terpenting di dunia menjadi jalan tol yang dijaga ketat militer. Apa yang bermula sebagai blokade masa perang telah berkembang menjadi sistem pungutan resmi yang disahkan negara, memaksa kapal-kapal raksasa untuk membayar hingga Rp32 miliar per lintasan dalam bentuk mata uang kripto atau yuan Tiongkok. Krisis ini melumpuhkan arus energi normal, menyulut perang diplomatik, dan menjadi tantangan langsung terhadap prinsip kebebasan bernavigasi yang dijunjung sejak Perang Dunia II.
Teheran mengklaim hanya memungut biaya untuk jasa esensial dan perlindungan lingkungan. Washington menyebutnya pemerasan. Pakar hukum internasional melabelinya pembajakan. Konsekuensinya kini terasa dalam lonjakan harga, ancaman sanksi, dan aliansi yang retak dengan Oman.
Iran secara cermat menyusun narasi hukum untuk menghindari jerat Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS) 1982, yang menjamin hak "lintas transit" melalui selat yang digunakan untuk navigasi internasional, serta secara eksplisit melarang negara merintangi atau menangguhkan lintasan tersebut .
Kementerian Luar Negeri Iran sangat berhati-hati dengan pilihan katanya, bersikeras bahwa mereka tidak memberlakukan pungutan berdaulat, melainkan memungut biaya untuk "jasa navigasi," termasuk pemanduan, pengaturan lalu lintas, dan keamanan . Juru bicara kementerian, Esmaeil Baghaei, berdalih bahwa memastikan transit yang aman dan mencegah kecelakaan membutuhkan biaya, dan masuk akal jika pihak yang menikmati lalu lintas tersebut turut menanggung biayanya
.
Pilar lain pembelaan Iran bertumpu pada alasan lingkungan. Arman Khorsand, pejabat senior di Departemen Lingkungan Hidup Iran, berpendapat bahwa memungut biaya atas risiko ekologis memiliki dasar yang jelas dalam hukum maritim internasional. Ia menyusun kerangka biaya ini sebagai kompensasi atas kerusakan lingkungan tak terelakkan yang ditimbulkan oleh lalu lintas maritim berat di Teluk Persia .
Iran juga merujuk pada ketentuan UNCLOS yang mengizinkan negara pesisir untuk mengatur lintasan di laut teritorialnya—hingga 12 mil laut dari garis pantai—selama mengizinkan "lintas damai" . Karena Selat Hormuz sempit, dengan jalur pelayaran melintasi perairan teritorial Iran dan Oman, Teheran berargumen memiliki yurisdiksi.
Namun, penafsiran ini ditolak secara luas. Jaume Saura, profesor hukum internasional di Universitas Barcelona, mengategorikan rezim biaya ini sebagai "pembajakan modern yang bertentangan dengan hukum internasional," dengan tegas menyatakan bahwa tidak boleh ada pungutan yang dikenakan semata-mata untuk tindakan melintas, dan kebebasan bernavigasi tidak boleh diganggu . GCC dan badan pelayaran internasional juga mengutuk langkah tersebut sebagai ilegal
.
Iran bergerak cepat untuk melembagakan kontrol de facto-nya. Pada Mei 2026, Iran secara resmi mendirikan Otoritas Selat Persia (PGSA) untuk menyetujui transit dan mengumpulkan pembayaran . Lloyd's List melaporkan bahwa otoritas ini memperkenalkan kerangka kerja baru yang mewajibkan kapal memperoleh otorisasi transit dan membayar tol sebelum berlayar, dengan operator menyerahkan catatan rinci tentang kepemilikan, asuransi, awak, kargo, dan rute
.
Ini adalah kali pertama dalam sejarah, sebuah negara bangsa memungut biaya transit di titik rawan maritim kritis menggunakan mata uang kripto. Pembayaran diterima secara eksklusif dalam Bitcoin, USDT (stablecoin), atau yuan Tiongkok . Sistem ini dikelola melalui perantara yang terhubung dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Perusahaan analitik blockchain, Chainalysis dan TRM Labs, secara independen mendokumentasikan skema operasional ini, menjadikannya contoh pertama yang diketahui tentang negara yang mewajibkan pembayaran kripto untuk lintasan di jalur air strategis. Pendekatan ini memungkinkan Iran menghindari sanksi Barat dengan sepenuhnya memintas dolar AS, menciptakan pilihan kepatuhan biner bagi perusahaan pelayaran: membayar dan menghadapi sanksi AS, atau menolak dan menanggung risiko ditahan .
Respons Washington berlapis dan agresif.
Garis Merah Presiden: Presiden Donald Trump menyatakan AS tidak akan mengizinkan Iran memberlakukan tol, memperingatkan di platform Truth Social, "Lebih baik mereka tidak melakukannya, dan jika iya, lebih baik berhenti sekarang!" Ia menekankan status selat sebagai jalur air internasional berdasarkan hukum internasional .
Pencegah Finansial: Kantor Pengawasan Aset Asing AS (OFAC) dengan cepat mengeluarkan peringatan resmi yang memperingatkan perusahaan pelayaran global bahwa pembayaran apa pun kepada Iran untuk lintasan aman dapat memicu sanksi AS . Menteri Keuangan Scott Bessent memperkuat ancaman ini, menyebut PGSA "sebuah lelucon" dan bersumpah Departemen Keuangan akan "secara agresif" menargetkan siapa pun yang memfasilitasi tol tersebut
.
Eskalasi Militer: Amerika Serikat meluncurkan kampanye udara terhadap target Iran di sepanjang selat, memberlakukan blokade laut terhadap Iran, dan memulai operasi pengawalan untuk melindungi kapal yang menolak membayar biaya tersebut . Postur militer ini tetap menjadi komponen inti kebijakan AS, yang bertujuan untuk menegakkan kebebasan bernavigasi dengan kekuatan jika diperlukan.
Efek gabungan serangan militer dan rezim tol ini sangat menghancurkan. Lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz telah "sebagian besar diblokir" sejak akhir Februari 2026 . Laporan menunjukkan lalu lintas telah jatuh hingga kurang dari 4 persen dari tingkat normal, praktis menghentikan jalur arteri utama untuk sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia
.
Penutupan efektif ini telah memicu guncangan energi di seluruh dunia. Harga minyak dan LNG melonjak tajam karena rute pasokan alternatif—yang sudah tegang—tidak dapat mengkompensasi volume yang hilang dari Hormuz. Krisis BBM global telah menjadi ciri ekonomi yang menonjol dari konflik AS-Iran yang lebih luas .
Oman, yang berbagi kedaulatan atas selat dengan Iran, terjebak dalam himpitan diplomatik yang menyakitkan. Duta Besar Iran untuk Prancis mengonfirmasi Teheran dan Muscat sedang mendiskusikan sistem tol bersama permanen, sebuah visi yang akan memberi Oman kepentingan finansial dalam pengaturan tersebut .
Tetapi tekanan dari Washington sangat kuat. Menteri Keuangan Bessent mengatakan duta besar Oman secara pribadi meyakinkannya bahwa kesultanan itu "tidak memiliki rencana untuk memberlakukan tol" . Namun pada 4 Juni 2026, Oman secara terbuka menolak tuntutan AS untuk memutuskan hubungan dengan Iran, bersikeras bahwa diskusinya dengan Teheran sesuai dengan hukum internasional dan hanya akan dilanjutkan setelah berkonsultasi dengan Organisasi Maritim Internasional (IMO)
. Monarki Oman, yang secara historis menjadi mediator netral, kini menghadapi pilihan sulit antara keuntungan finansial besar dan risiko putusnya hubungan dengan sekutu Barat-nya
.
Dengan memaksakan pembayaran dalam yuan dan kripto, Iran menjalankan strategi yang disengaja untuk melemahkan dominasi dolar di pasar energi global. Sistem tol PGSA menyediakan cetak biru untuk penghindaran sanksi, membuktikan bahwa sebuah negara dapat memonetisasi titik rawan strategis sambil melewati sistem keuangan yang dipimpin AS .
Analis hukum dan geopolitik memperingatkan bahwa jika rezim tol Iran bertahan, hal itu dapat menciptakan preseden berbahaya. Negara-negara pesisir lain dapat mengikutinya, secara sepihak memonetisasi titik rawan strategis seperti Selat Malaka atau Bab el-Mandeb. Ini akan secara sistematis menghancurkan kerangka kerja UNCLOS tentang lintas transit bebas yang telah menopang perdagangan global selama puluhan tahun, menggantikan kepastian hukum dengan tambal sulam sistem pungutan koersif .
Studio Global AI
Use this topic as a starting point for a fresh source-backed answer, then compare citations before you share it.
Iran memungut biaya selangit hingga $2 juta per kapal—hanya bisa dibayar dengan Bitcoin, USDT, atau yuan Tiongkok—untuk melintasi Selat Hormuz, melumpuhkan jalur air yang memasok seperlima minyak dan gas alam cair dunia.
Iran memungut biaya selangit hingga $2 juta per kapal—hanya bisa dibayar dengan Bitcoin, USDT, atau yuan Tiongkok—untuk melintasi Selat Hormuz, melumpuhkan jalur air yang memasok seperlima minyak dan gas alam cair dunia. Amerika Serikat mengecam keras pungutan ilegal ini, mengancam sanksi bagi perusahaan pelayaran yang membayar, dan menggelar operasi pengawalan militer setelah Iran meresmikan pungutan melalui Otoritas Selat Persia.
Dengan dalih biaya jasa navigasi dan lingkungan, rezim tol kripto ini dianggap sebagai preseden berbahaya yang mengancam kebebasan bernavigasi global dan berpotensi ditiru oleh negara negara pesisir lainnya.