Dalam rapat kabinet yang membahas insiden tersebut, Lee mengaitkan kritiknya dengan situasi hukum Netanyahu di tingkat internasional.
Ia menanyakan kepada para pejabat apakah Mahkamah Pidana Internasional telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu dan meminta pemerintah meninjau apakah Korea Selatan harus menegakkannya jika Netanyahu memasuki wilayah negara itu.
Latar belakangnya adalah keputusan penting pada November 2024, ketika ICC mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan terkait konflik Gaza.
Para hakim ICC menyatakan ada alasan yang masuk akal untuk percaya bahwa kedua pemimpin tersebut bertanggung jawab secara pidana atas sejumlah dugaan kejahatan, termasuk penggunaan kelaparan sebagai metode perang dan serangan terhadap warga sipil.
Namun penting dicatat: surat perintah penangkapan bukanlah vonis bersalah. Itu hanya berarti pengadilan menilai ada cukup bukti untuk melanjutkan proses hukum. Karena itu, istilah “penjahat perang” dalam konteks ini lebih merupakan pernyataan politik daripada keputusan pengadilan yang sudah final.
Menurut laporan dari pertemuan pemerintah, Lee meminta pejabat terkait untuk meninjau beberapa pertanyaan penting:
Sejauh ini belum ada keputusan resmi untuk benar‑benar menangkap Netanyahu jika ia datang ke Korea Selatan. Diskusi tersebut masih berada pada tahap kajian hukum dan diplomatik.
Dalam praktik diplomasi Korea Selatan, menyebut pemimpin negara lain secara langsung sebagai “penjahat perang” adalah langkah yang sangat jarang terjadi.
Seoul biasanya berusaha menjaga hubungan yang stabil dengan banyak mitra internasional, termasuk Israel, yang memiliki kerja sama dengan Korea Selatan dalam teknologi, pertahanan, dan perdagangan.
Karena itu, pernyataan Lee dianggap sebagai eskalasi retorika diplomatik yang signifikan, yang berpotensi memicu protes diplomatik dari Israel dan memperburuk hubungan bilateral.
Isu ini tidak hanya memengaruhi hubungan Korea Selatan dengan Israel. Selama ini Seoul berusaha menjaga keseimbangan diplomatik di Timur Tengah.
Di satu sisi, Korea Selatan bekerja sama dengan Israel dalam sektor teknologi dan inovasi. Di sisi lain, negara ini juga memiliki hubungan ekonomi penting dengan negara‑negara Arab yang menjadi pemasok energi utama dan mitra bisnis besar bagi perusahaan Korea.
Sikap keras Lee bisa memiliki dua dampak berbeda:
Untuk saat ini, pemerintah Korea Selatan hanya memulai peninjauan terkait kemungkinan penegakan surat perintah ICC. Belum ada kebijakan resmi yang menyatakan bahwa Netanyahu akan ditangkap jika ia memasuki negara tersebut.
Meski begitu, komentar Lee sudah cukup untuk memicu perdebatan internasional. Insiden satu kapal bantuan di Laut Mediterania kini berkembang menjadi diskusi yang lebih luas tentang akuntabilitas perang, hukum internasional, dan arah diplomasi global Korea Selatan.
Comments
0 comments