Untuk laba bersih, Tencent membukukan kenaikan 21% secara IFRS menjadi RMB 58,1 miliar. Laba bersih yang disesuaikan (non-IFRS) juga naik 11% ke RMB 67,9 miliar . Margin laba kotor bahkan melebar satu poin persentase menjadi 57% yang sangat sehat
. Singkatnya, bisnis inti mereka masih sangat kuat. Namun, cerita sesungguhnya ada di balik angka-angka ini, tepatnya di pos pengeluaran.
Pengungkapan paling krusial dalam laporan ini adalah skala belanja AI Tencent. Belanja modal (capital expenditure/capex) perusahaan melonjak dramatis menjadi RMB 31,9 miliar di kuartal pertama. Angka ini tidak hanya naik 16% dari tahun lalu, tetapi juga meroket 63% dibanding kuartal sebelumnya . Sementara itu, biaya riset dan pengembangan (R&D) mencapai RMB 22,5 miliar, naik 19%
.
Duit sebesar itu digunakan untuk mendanai portofolio produk baru, termasuk model bahasa besar (LLM) terbaru mereka, Hy3 preview, asisten AI Yuanbao, serta berbagai alat perusahaan seperti CodeBuddy, WorkBuddy, dan QClaw .
Yang lebih penting lagi, manajemen secara terbuka menyatakan bahwa belanja ini akan terus berlanjut dan bahkan meningkat. Presiden Tencent, Martin Lau, memberikan panduan bahwa perusahaan akan melipatgandakan belanja modal AI mereka menjadi lebih dari RMB 36 miliar untuk sepanjang tahun 2026, naik dari sekitar RMB 18 miliar di tahun 2025 . James Mitchell, Chief Strategy Officer Tencent, bahkan meminta investor bersiap untuk "peningkatan substansial" belanja modal, terutama di paruh kedua tahun ini seiring chip ASIC buatan China mulai beroperasi
.
Di sinilah letak "biaya" sesungguhnya dari ambisi ini. Tencent membuat pengungkapan yang sangat jujur: jika biaya dan beban yang terkait dengan produk AI baru—seperti Hunyuan, Yuanbao, CodeBuddy, WorkBuddy, dan QClaw—dihilangkan dari perhitungan, pertumbuhan laba operasional non-IFRS mereka seharusnya mencapai 17%, bukan 9% seperti yang dilaporkan .
Artinya, ada selisih 8 poin persentase pertumbuhan yang "hilang" karena investasi AI. Depresiasi peralatan terkait AI dan biaya operasional yang meningkat kini menjadi beban nyata yang terlihat jelas menggerus margin laba perusahaan . Sederhananya, seperti yang dicatat oleh banyak analis, "penggelontoran" produk AI saat ini masih jauh lebih cepat daripada kemampuan mereka menghasilkan uang
.
Tencent tentu tidak bisa melakukan pesta belanja ini tanpa sumber dana yang kuat. Di sinilah peran bisnis game mereka, yang merupakan mesin laba terbesar perusahaan. Di kuartal ini, pendapatan game domestik naik 6% menjadi RMB 45,4 miliar, sementara game internasional tumbuh 13% ke RMB 18,8 miliar . Pertumbuhan ini sebenarnya lebih baik dari yang terlihat, karena sebagian pendapatan game domestik yang biasanya diakui di kuartal pertama akan masuk ke kuartal kedua
.
Namun, nada bicara manajemen dan analis cukup jelas: peran game dan iklan di tahun 2026 bukan lagi sebagai motor utama pertumbuhan jangka pendek, melainkan sebagai "sapi perah" yang menghasilkan arus kas operasional untuk mendanai
peralihan strategis ke AI . Pendapatan iklan sendiri tumbuh 20%, sebagian berkat penggunaan tools AI
. Ini adalah perubahan narasi yang signifikan: game dan iklan kini menjadi penjamin finansial taruhan terbesar Tencent.
Meski belanja modal AI mengambil porsi yang semakin besar dari arus kas bebas, Tencent tetap mengembalikan uang kepada pemegang saham. Sepanjang kuartal pertama, perusahaan membeli kembali sekitar 12,7 juta sahamnya sendiri dengan nilai mencapai HKD 7,6 miliar (sekitar Rp 15,8 triliun) . Tren ini melanjutkan pola dari tahun-tahun sebelumnya, di mana mereka menghabiskan HKD 112 miliar untuk buyback di tahun 2024, dan berencana membeli kembali saham senilai setidaknya HKD 80 miliar di tahun 2025 sambil menaikkan dividen 32% menjadi HKD 4,50 per saham
.
Aktivitas buyback yang signifikan bahkan berlanjut hingga April, dengan pembelian kembali senilai HKD 1 miliar dalam sehari pada tanggal 8 April, dan HKD 301 juta pada 31 Maret . Langkah ini menjadi sangat strategis mengingat saham Tencent sempat menyentuh level terendah dalam 52 minggu
. Program buyback ini sekarang menjadi alat sinyal yang menunjukkan keyakinan manajemen bahwa pasar sedang meremehkan nilai perusahaan, meskipun margin laba jangka pendek tertekan oleh investasi AI
. Beberapa analis memang menilai skala buyback telah "dikurangi" dibanding laju tahun 2025 untuk membantu mendanai investasi AI, tetapi program ini tetap hadir setiap hari di pasar
.
Strategi Tencent kini jelas menjadi persamaan tiga bagian. Pertama, taruhan besar pada AI, dengan capex dan R&D besar-besaran yang diyakini manajemen pada akhirnya akan menghasilkan pendapatan signifikan . Kedua, mesin uang tunai dari game dan iklan yang menghasilkan laba operasional untuk menutupi investasi dan imbal hasil pemegang saham
. Ketiga, pengembalian modal melalui buyback dan dividen yang terus ditingkatkan untuk mempertahankan valuasi saham selama siklus investasi besar ini
.
Risikonya, tentu saja, terletak pada ketidakpastian kapan AI akan mulai menghasilkan uang. Banyak analis menyoroti bahwa penggelontoran produk masih jauh di depan pendapatan . Jika produk seperti Yuanbao dan WorkBuddy gagal memberikan hasil yang berarti di tahun 2026 dan 2027, tekanan pada margin dari belanja modal yang tinggi akan terus berlanjut tanpa disertai akselerasi pendapatan yang diharapkan investor.
Untuk saat ini, pesan Tencent jelas: bisnis inti kami cukup sehat untuk menanggung biayanya, dan peluang AI cukup besar untuk menjustifikasi harganya.
Comments
0 comments