Kapal tanker Idemitsu Maru menjadi kapal pengangkut minyak terkait Jepang pertama yang berhasil melintasi Selat Hormuz sejak perang Iran pecah pada Februari 2026, membawa sekitar 2 juta barel minyak mentah Saudi. Perjalanan tersebut terjadi setelah Jepang melakukan pembicaraan diplomatik dengan Iran untuk memperoleh...

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: What is the significance of the Idemitsu Maru becoming the first Japan‑linked oil tanker to pass through the Strait of Hormuz since the Iran. Article summary: The Idemitsu Maru’s transit matters because it was the first Japan-linked crude tanker to clear the Strait of Hormuz since the war began, so it served as a practical test of whether at least some commercial traffic could. Topic tags: general, general web, government. Reference image context from search candidates: Reference image 1: visual subject "Japan's Idemitsu Maru has been allowed to transit the Strait of Hormuz. Image: X Screengrab" source context "Japan's Idemitsu Maru allowed through Hormuz, history in tow - Asia Times" Reference image 2: visual subject "##### The Economic Times daily newspaper is available online now. # Japan-linked tanker crosses Str
Perjalanan kapal tanker Idemitsu Maru melalui Selat Hormuz menjadi momen penting dalam krisis pelayaran yang dipicu oleh perang Iran. Meski hanya satu kapal, keberhasilan transit ini menjadi bukti pertama bahwa sebagian pengiriman minyak mungkin mulai kembali melewati salah satu jalur energi paling vital di dunia.
Data pelacakan kapal menunjukkan bahwa Idemitsu Maru—sebuah very large crude carrier (VLCC) berbendera Panama yang dikelola oleh anak perusahaan perusahaan penyulingan Jepang Idemitsu Kosan—melintasi Selat Hormuz sambil membawa sekitar 2 juta barel minyak mentah dari Arab Saudi.
Perjalanan ini penting karena menjadi kapal tanker terkait Jepang pertama yang melewati selat tersebut sejak konflik yang melibatkan Iran meningkat tajam pada akhir Februari 2026 dan mengganggu pengiriman energi di kawasan Teluk.
Bagi Jepang, peristiwa ini memiliki arti strategis. Sebelum konflik terjadi, sekitar 95% impor minyak mentah Jepang berasal dari Timur Tengah, dan sebagian besar dikirim melalui Selat Hormuz.
Karena ketergantungan tersebut, satu perjalanan kapal saja dapat menjadi indikator apakah jalur energi global ini mulai berfungsi kembali.
Transit kapal tanker ini bukan sekadar perjalanan komersial biasa. Laporan pasar energi menyebutkan bahwa pemerintah Jepang terlibat langsung dalam upaya diplomatik untuk memastikan kapal dapat melintas dengan aman.
Menurut laporan Argus Media, Jepang memperoleh izin bagi kapal tersebut setelah pembicaraan antara Tokyo dan Teheran.
Laporan lain juga menyebut bahwa otoritas Iran memberikan persetujuan resmi sebelum kapal berangkat.
Hal ini menunjukkan bahwa Selat Hormuz belum kembali beroperasi dengan prinsip kebebasan navigasi seperti biasanya. Saat ini, beberapa kapal kemungkinan harus memperoleh koordinasi politik atau izin khusus dari pihak Iran untuk dapat melintas dengan aman.
Dengan kata lain, perjalanan Idemitsu Maru lebih merupakan pengecualian hasil negosiasi dibanding tanda bahwa jalur pelayaran sudah sepenuhnya normal.
Keberhasilan pelayaran kapal ini memberi sinyal hati‑hati bahwa Selat Hormuz mungkin mulai dibuka kembali secara bertahap—namun kondisi masih jauh dari normal.
Pada puncak gangguan, organisasi maritim internasional melaporkan bahwa hampir 2.000 kapal dan sekitar 20.000 pelaut terjebak karena tidak dapat melintasi selat dengan aman.
Volume lalu lintas kapal juga anjlok drastis. Dari kondisi normal sekitar 100 kapal atau lebih per hari, hanya segelintir kapal yang berani mencoba melintas selama periode pembatasan.
Dalam konteks tersebut, keberhasilan satu kapal tanker melintasi selat menunjukkan bahwa lalu lintas terbatas—terutama kapal yang mendapat izin politik—mungkin mulai bergerak kembali. Namun, bahkan jika pembatasan mulai dilonggarkan, butuh waktu lama untuk mengurai antrean kapal yang menunggu di kawasan Teluk.
Selain itu, kekhawatiran asuransi, risiko keamanan, dan ketidakpastian aturan transit dari Iran membuat banyak perusahaan pelayaran masih sangat berhati‑hati.
Gangguan di Selat Hormuz langsung berdampak pada pasar energi global.
Serangan militer, aksi balasan, dan meningkatnya ketegangan regional telah menyebabkan penutupan sementara beberapa fasilitas minyak dan gas serta mengganggu jalur pelayaran di Teluk.
Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu koridor transportasi minyak paling penting di dunia. Jika aliran minyak di jalur ini terganggu, pasokan global dapat langsung menyempit dan harga minyak mentah cenderung naik.
Bahkan pembatasan sebagian saja dapat memicu volatilitas besar di pasar energi, karena harga minyak ditentukan secara global. Gangguan di Timur Tengah dapat memengaruhi harga minyak di seluruh dunia, terlepas dari negara mana yang akhirnya menggunakan minyak tersebut.
Amerika Serikat sebenarnya mengimpor lebih sedikit minyak dari Teluk Persia dibandingkan banyak negara Asia. Namun, konsumen di AS tetap merasakan dampaknya.
Hal ini karena harga bensin sangat bergantung pada harga minyak mentah global. Ketika ketegangan geopolitik mendorong harga minyak naik, biaya yang harus dibayar kilang minyak meningkat, dan harga bahan bakar di SPBU biasanya ikut naik.
Administrasi Informasi Energi AS (U.S. Energy Information Administration/EIA) menyatakan bahwa kenaikan harga minyak mentah secara langsung mendorong kenaikan harga bensin dan diesel, terutama ketika pasokan global sedang ketat.
Para analis juga mengaitkan lonjakan biaya bahan bakar selama konflik ini dengan gangguan pasokan Timur Tengah dan ketidakpastian pengiriman melalui Selat Hormuz.
Perjalanan Idemitsu Maru lebih dari sekadar pengiriman minyak biasa. Ia menunjukkan bahwa diplomasi masih dapat membuka jalur perdagangan penting bahkan di tengah konflik geopolitik.
Namun krisis yang lebih luas belum berakhir. Banyak kapal masih tertunda, perusahaan asuransi pelayaran tetap berhati‑hati, dan pasar energi global masih bereaksi terhadap risiko pasokan dari kawasan tersebut.
Untuk saat ini, pelayaran tanker ini bisa dilihat sebagai percobaan awal—sebuah tanda bahwa perdagangan mungkin mulai bergerak lagi, tetapi kemungkinan besar akan terjadi secara bertahap dan melalui negosiasi satu kapal demi satu kapal.
Studio Global AI
Use this topic as a starting point for a fresh source-backed answer, then compare citations before you share it.
Kapal tanker Idemitsu Maru menjadi kapal pengangkut minyak terkait Jepang pertama yang berhasil melintasi Selat Hormuz sejak perang Iran pecah pada Februari 2026, membawa sekitar 2 juta barel minyak mentah Saudi.
Kapal tanker Idemitsu Maru menjadi kapal pengangkut minyak terkait Jepang pertama yang berhasil melintasi Selat Hormuz sejak perang Iran pecah pada Februari 2026, membawa sekitar 2 juta barel minyak mentah Saudi. Perjalanan tersebut terjadi setelah Jepang melakukan pembicaraan diplomatik dengan Iran untuk memperoleh izin transit, menandakan bahwa lalu lintas kapal saat ini masih bergantung pada persetujuan politik.
Meskipun menjadi sinyal awal bahwa jalur ini mungkin mulai terbuka kembali, ribuan kapal masih terdampak, dan gangguan di Hormuz terus memengaruhi pasokan minyak global serta mendorong kenaikan harga bahan bakar.