Masalah ini pertama kali mencuat setelah seorang peneliti keamanan menghubungi Coffeezilla dan penguinz0, dua kreator YouTube yang kebetulan juga memesan ponsel T1.
Peneliti tersebut menunjukkan kerentanan sistem dengan memperlihatkan data pribadi mereka sendiri—seperti alamat rumah dan email—yang bisa diakses secara online. Coffeezilla kemudian mengatakan bahwa informasi miliknya dan pelanggan lain dapat dilihat melalui celah tersebut.
Setelah memastikan masalahnya nyata, kedua kreator tersebut membahasnya dalam video dan di media sosial, yang membuat isu ini cepat menyebar dan menarik perhatian publik.
Jumlah pasti pelanggan yang terdampak belum dikonfirmasi secara resmi.
Namun beberapa laporan memperkirakan:
Karena celah tersebut memungkinkan penelusuran data pesanan, jumlah sebenarnya pelanggan yang datanya terekspos masih belum pasti, tetapi kemungkinan mencapai ribuan orang.
Kebocoran data ini muncul di tengah sejumlah persoalan lain yang sudah lebih dulu menimpa peluncuran Trump Mobile.
Beberapa di antaranya termasuk:
Penundaan peluncuran – T1 diumumkan pada 2025, namun pengiriman mengalami beberapa kali penundaan sebelum jadwalnya menjadi lebih jelas.
Spesifikasi berubah‑ubah – Detail perangkat keras yang tercantum di halaman produk dilaporkan beberapa kali berubah selama pengembangan, menimbulkan kebingungan tentang spesifikasi final perangkat.
Masalah pemesanan dan dukungan – Pelanggan dan wartawan mengatakan perusahaan memberikan respons terbatas terhadap pertanyaan terkait sistem preorder maupun dugaan kebocoran data.
Jumlah preorder yang dipertanyakan – Data yang terlihat melalui celah keamanan menunjukkan sekitar 30.000 pesanan, jauh lebih rendah dibanding klaim viral di internet yang menyebut angka jauh lebih besar.
Sejak awal, ponsel T1 dipromosikan sebagai perangkat “Made in the USA”, diposisikan sebagai alternatif patriotik dibanding merek smartphone besar.
Namun klaim tersebut segera dipertanyakan oleh para analis. Mereka menyoroti bahwa:
Perwakilan perusahaan kemudian mengatakan bahwa perangkat tersebut dirakit di Amerika Serikat, tetapi detail mengenai sumber komponen dan proses produksinya tidak dijelaskan secara rinci dalam laporan publik.
Kontroversi lain muncul ketika analis membandingkan spesifikasi T1 dengan T‑Mobile REVVL 7 Pro 5G, smartphone yang dilaporkan diproduksi oleh perusahaan China, Wingtech.
Pengamat menemukan kemiripan kuat pada spesifikasi perangkat keras dan desainnya. Hal ini memicu spekulasi bahwa T1 mungkin merupakan ponsel Android yang sudah ada sebelumnya lalu di‑rebrand atau dimodifikasi.
Model kerja seperti ini—disebut ODM (original design manufacturer)—sebenarnya cukup umum di industri smartphone. Namun kemiripan tersebut tetap memicu kritik karena T1 sebelumnya dipromosikan sebagai perangkat yang benar‑benar dibuat di Amerika.
Dugaan kebocoran data Trump Mobile menjadi berita besar karena beberapa alasan:
Comments
0 comments