El Niño telah terbentuk dan menguat. NOAA memperkirakan peluang lebih dari 90% terjadinya El Niño “sangat kuat” pada musim gugur hingga musim dingin Belahan Bumi Utara 2026–2027, tetapi belum mengonfirmasi bahwa fenom...
Jawaban penelitian

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: What is the rapidly strengthening El Niño expected in 2026–2027, how likely is it to become the strongest event in more than 75 years, and h. Article summary: El Niño is a warming of the central and eastern equatorial Pacific that shifts global rainfall and temperature patterns. It is already present and strengthening; NOAA places the chance of a “very strong” event above 90% . Topic tags: general, news, general web, user generated, government. Style: premium digital editorial illustration, source-backed research mood, clean composition, high detail, modern web publication hero. Use reference image context only for broad subject, composition, and topical grounding; do not copy the exact image. Avoid: logos, brand marks, copyrighted characters, real person likenesses, fake screenshots, UI text, readable text, watermar
El Niño adalah fenomena ketika suhu permukaan laut di bagian tengah dan timur wilayah ekuator Pasifik berada di atas rata-rata. Perubahan ini dapat menggeser pola hujan dan suhu di berbagai belahan dunia.
Menurut Pusat Prediksi Iklim Amerika Serikat, atau NOAA, El Niño sudah terbentuk dan sedang menguat. Peluang terjadinya El Niño “sangat kuat” diperkirakan lebih dari 90% pada musim gugur dan musim dingin Belahan Bumi Utara 2026–2027. Fenomena ini diperkirakan dapat bertahan hingga musim semi 2027.
Namun, ada perbedaan penting antara peluang terjadinya El Niño sangat kuat dan kepastian bahwa fenomena ini akan memecahkan rekor. Bloomberg menyebut El Niño kali ini berpotensi menjadi yang terkuat dalam 76 tahun, sementara prakiraan resmi NOAA belum menyatakan bahwa rekor tersebut pasti akan tercapai.
El Niño tidak menghasilkan pola cuaca yang sama di semua tempat. Satu wilayah bisa mengalami kekeringan dan suhu panas, sementara wilayah lain menghadapi hujan berlebihan yang menunda panen atau merusak hasil setelah dipetik.
Risikonya menjadi lebih besar untuk komoditas yang produksinya terkonsentrasi di sejumlah kecil negara. Gangguan cuaca di beberapa sentra utama saja sudah dapat membuat pasokan global lebih rapuh.
Petani juga menghadapi biaya pupuk, bahan bakar, dan energi yang tinggi. Dalam situasi seperti ini, mereka memiliki ruang yang lebih sempit untuk mempertahankan irigasi, pemupukan, penanaman ulang, atau menanggung kerugian akibat gagal panen. Pabrik pengolahan dan sektor transportasi pun dapat mengalami kenaikan biaya. Meski demikian, sumber yang tersedia belum cukup untuk menghitung secara terpisah dampak biaya pupuk dan energi terhadap masing-masing komoditas.
Pantai Gading dan Ghana merupakan dua pemasok kakao terpenting dunia. Karena itu, perubahan cuaca di Afrika Barat dapat berdampak besar terhadap keseimbangan pasokan global.
Data historis yang dikutip Reuters menunjukkan bahwa setiap episode El Niño kuat dalam 55 tahun terakhir disertai penurunan produksi kakao. Temuan ini merupakan sinyal peringatan, bukan bukti bahwa setiap episode El Niño akan menyebabkan penurunan dalam skala yang sama.
Badan pengatur kakao Ghana memperkirakan produksi musim 2026–2027 berada di kisaran 450.000–550.000 ton, turun dari proyeksi 750.000 ton untuk musim 2025–2026. El Niño disebut sebagai salah satu penyebab, bersama penyakit swollen shoot dan perkebunan kakao yang menua.
Pantai Gading telah menjual sekitar 1 juta ton kakao melalui kontrak ekspor untuk musim utama 2026–2027. Namun, penjualan mulai diperlambat karena kekhawatiran bahwa El Niño dapat mengurangi produksi.
Langkah ini menunjukkan bahwa pelaku pasar dan pemasok sudah memperhitungkan risiko pasokan. Meski demikian, hasil panen akhir tetap akan bergantung pada curah hujan dan kondisi perkebunan yang sebenarnya.
StoneX, sebagaimana dikutip dalam sejumlah laporan, memperkirakan surplus kakao global musim 2026–2027 dapat turun menjadi sekitar 25.000 ton, dari proyeksi 422.000 ton pada musim berjalan. Analisis lain memperkirakan surplus sekitar 98.000 ton. Perbedaan ini menunjukkan bahwa proyeksi pasar masih memiliki rentang ketidakpastian yang besar.
Kesamaan dari berbagai proyeksi tersebut adalah bahwa cuaca buruk di Afrika Barat dapat mengurangi surplus kakao dan memberikan tekanan naik pada harga. Namun, harga juga dipengaruhi oleh volume penggilingan, persediaan, pembiayaan ekspor, permintaan, dan faktor pasar lainnya. Seluruh perubahan harga tidak dapat disandarkan hanya pada El Niño.
Kopi dapat terdampak melalui beberapa jalur. Hujan yang tidak menentu telah dikaitkan dengan tertundanya panen di Brasil. Di sisi lain, panas dan kekeringan yang berkaitan dengan El Niño dapat meningkatkan risiko terhadap hasil panen dan mutu biji kopi di Brasil, Vietnam, dan Indonesia, terutama pasokan jenis robusta.
Jika El Niño semakin kuat, wilayah perkebunan kopi Vietnam juga berpotensi menghadapi kekeringan berkepanjangan. Namun, data yang tersedia belum cukup untuk memastikan besarnya kerusakan di setiap negara atau menghasilkan angka yang dapat diandalkan mengenai kenaikan harga kopi.
Kesimpulan yang paling hati-hati adalah bahwa El Niño sedang meningkatkan premi risiko cuaca—tambahan risiko yang diperhitungkan pasar—bukan memastikan bahwa produksi atau harga kopi akan naik dengan persentase tertentu.
India dan Thailand berpotensi menghadapi kondisi yang lebih kering. Jika hal itu terjadi, produktivitas tebu dapat menurun dan harga gula dunia mendapat dukungan. Sebaliknya, hujan yang lebih banyak di Brasil dapat membantu pertumbuhan tebu pada fase tertentu.
Namun, hujan berlebihan juga dapat menghambat panen dan proses penggilingan tebu.
Perbedaan kondisi antarwilayah membuat dampak El Niño terhadap gula lebih sulit diprediksi dibandingkan kakao. Brasil mungkin dapat mengimbangi sebagian kekurangan pasokan dari Asia, tetapi hasil akhirnya akan bergantung pada waktu turunnya hujan, kecepatan panen, kapasitas pengolahan, serta keputusan apakah tebu akan digunakan untuk memproduksi gula atau etanol.
Sumber yang tersedia belum memberikan bukti cukup untuk memperkirakan secara pasti besarnya penurunan produksi gula di India, Thailand, maupun Brasil.
Risiko El Niño tidak berhenti di tingkat perkebunan. Dampaknya dapat merambat ke berbagai bagian rantai pasok:
Skenarionya bukan berarti semua wilayah produksi akan gagal panen pada waktu yang sama. Risiko yang lebih realistis adalah beberapa guncangan lokal terjadi berdekatan di sentra pasokan yang terkonsentrasi, ketika petani dan perusahaan sudah memiliki kemampuan finansial yang terbatas untuk merespons.
Prakiraan musim hanya bermanfaat jika diterjemahkan menjadi dukungan sebelum kerusakan terjadi. Langkah yang dapat disiapkan meliputi penyediaan benih, pupuk, bahan bakar, kredit, dukungan irigasi, pemantauan hama, asuransi tanaman, serta bantuan pangan yang ditargetkan.
Varietas yang tahan kekeringan dan panas, penggunaan naungan, pengelolaan kelembapan tanah, irigasi jika memungkinkan, serta diversifikasi tanaman dapat mengurangi ketergantungan pada satu pola cuaca.
Untuk kakao dan kopi, mengganti tanaman tahunan membutuhkan waktu lebih panjang dibandingkan memulihkan tanaman pangan musiman. Karena itu, investasi untuk meningkatkan ketahanan perlu dilakukan lebih awal.
Persediaan biji-bijian dan sumber impor yang beragam dapat membantu meredam guncangan di pasar pangan pokok. Eksportir besar seperti Brasil, serta Rusia di pasar gandum, dapat membantu menjaga kestabilan pasokan global selama panen, logistik, dan kebijakan perdagangan mereka tetap dapat diandalkan.
Namun, penyangga seperti itu tidak sepenuhnya dapat menggantikan kekurangan pada tanaman tahunan seperti kakao dan kopi, yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dipulihkan atau diganti.
Data terbaru menunjukkan bahwa El Niño 2026–2027 merupakan risiko cuaca yang serius. NOAA memperkirakan peluang lebih dari 90% terjadinya El Niño sangat kuat, sementara sejumlah laporan media menyebut fenomena ini berpotensi masuk kelompok terkuat yang pernah tercatat.
Dalam data yang tersedia, kakao—terutama di Ghana dan Pantai Gading—memiliki bukti paling jelas mengenai risiko pengetatan pasokan. Kopi dan gula juga rentan, tetapi dampaknya tidak akan seragam antarnegara dan belum dapat diterjemahkan menjadi prakiraan harga atau produksi yang presisi.
Variabel penentu tetap curah hujan aktual di setiap wilayah, bukan hanya suhu permukaan laut di Pasifik. El Niño meningkatkan peluang munculnya pola cuaca tertentu, tetapi tidak secara otomatis menentukan hasil panen, harga komoditas, atau tercapainya rekor iklim.
Studio Global AI
Halaman ini berisi jawaban yang didukung sumber yang dapat Anda lanjutkan di dalam Studio Global.
El Niño telah terbentuk dan menguat. NOAA memperkirakan peluang lebih dari 90% terjadinya El Niño “sangat kuat” pada musim gugur hingga musim dingin Belahan Bumi Utara 2026–2027, tetapi belum mengonfirmasi bahwa fenom...
El Niño telah terbentuk dan menguat. NOAA memperkirakan peluang lebih dari 90% terjadinya El Niño “sangat kuat” pada musim gugur hingga musim dingin Belahan Bumi Utara 2026–2027, tetapi belum mengonfirmasi bahwa fenom... Kakao menjadi komoditas yang paling rentan dalam data yang tersedia: Ghana memperkirakan produksi musim 2026–2027 turun menjadi 450.000–550.000 ton dari proyeksi 750.000 ton, sementara surplus kakao global diperkiraka...
Kopi dan gula juga menghadapi risiko cuaca, tetapi dampaknya akan bergantung pada curah hujan di setiap wilayah.