Sejumlah negara baru-baru ini memperkenalkan atau mengusulkan pembatasan luas terhadap teknologi yang digunakan anak-anak:
Pendekatan tersebut berangkat dari kekhawatiran bahwa teknologi dapat mengganggu konsentrasi, kemampuan membaca dan berhitung, serta kesehatan mental siswa. Namun, pengalaman Australia juga menunjukkan tantangan praktis: larangan tidak otomatis menghentikan akses anak terhadap platform digital.
Biro Pendidikan Hong Kong merilis Blueprint for Digital Education Development in Primary and Secondary Schools pada Juni 2026. Dokumen ini disertai dua panduan penting :
Beberapa unsur utama strategi Hong Kong meliputi:
| Aspek | Pendekatan Hong Kong | Pendekatan Australia, Norwegia, Swedia, dan Inggris |
|---|---|---|
| AI di kelas | Diintegrasikan ke kurikulum melalui kerangka literasi AI; penggunaan dengan pengawasan dianjurkan dan tidak dilarang secara menyeluruh | Norwegia hampir melarang AI generatif bagi siswa usia dini; sejumlah negara juga melarang ponsel di sekolah |
| Media sosial | Tidak ada larangan nasional bagi anak di bawah 16 tahun; pendidikan menekankan penggunaan yang bertanggung jawab dan nilai etika | Australia menerapkan larangan bagi anak di bawah 16 tahun dengan denda hingga A$49,5 juta; Norwegia dan Inggris mempertimbangkan pembatasan serupa |
| Ponsel | Tidak ada larangan di seluruh wilayah; pengaturannya diserahkan kepada kebijakan sekolah dan konsep kampus pintar | Swedia menyiapkan larangan nasional mulai 2026; Norwegia telah melarang ponsel sejak 2024; Inggris mendorong sekolah bebas ponsel secara default |
| Filosofi utama | Membekali siswa dengan keterampilan sekaligus penilaian etis; pelatihan guru menjadi fondasi | Membatasi akses untuk mengurangi risiko dan memprioritaskan kemampuan dasar seperti membaca, menulis, dan matematika |
| Pagar pengaman | Panduan AI generatif, pengawasan guru, persetujuan sebelum penggunaan, dan pendidikan berbasis nilai | Undang-undang, denda, verifikasi usia, serta larangan langsung |
Strategi Hong Kong berangkat dari anggapan bahwa larangan menyeluruh bisa sulit ditegakkan. Pengalaman Australia—ketika banyak remaja tetap dapat mengakses media sosial setelah larangan berlaku—menjadi salah satu contoh tantangan tersebut .
Dalam jangka panjang, Hong Kong menilai ketahanan siswa di dunia digital tidak cukup dibangun dengan menjauhkan mereka dari teknologi. Siswa juga perlu belajar memeriksa informasi, memahami cara kerja AI, mengenali risiko privasi dan keamanan, serta menyadari kapan keputusan manusia harus mengalahkan rekomendasi mesin.
Namun, pendekatan ini bukan berarti memberi siswa akses tanpa batas. Prinsipnya adalah menggunakan teknologi dengan tujuan yang jelas, pengawasan yang memadai, dan tanggung jawab etis.
Norwegia memberikan sudut pandang berbeda. Pemerintah negara itu menyebut larangan ponsel di sekolah pada 2024 berkaitan dengan penurunan sekitar 60% kunjungan ke layanan psikologi spesialis . Sementara itu, larangan AI bagi siswa di bawah 13 tahun merespons penurunan hasil tes nasional—indikator prestasi akademik yang belum tentu mencerminkan seluruh keterampilan yang dibutuhkan untuk masa depan .
Ray Cheung Chak-chung, anggota Curriculum Development Council, mengatakan cetak biru baru Hong Kong bertujuan menyeragamkan pengajaran yang sebelumnya terfragmentasi antar-sekolah dan memperkuat kemampuan berpikir kritis siswa agar mereka tidak terlalu bergantung pada AI .
Risiko terbesar pendekatan Hong Kong adalah kesenjangan antara kebijakan dan penerapan di ruang kelas. Tanpa pelaksanaan yang konsisten, siswa tetap dapat menghadapi dampak negatif dari penggunaan media sosial dan AI di luar sekolah. Literasi digital dan pendidikan berbasis nilai dapat membantu, tetapi keduanya tidak selalu cukup untuk menghadapi desain platform yang mendorong penggunaan berlebihan atau konten yang berisiko.
Karena itu, penerapan “ajarkan, bukan larang” membutuhkan beberapa syarat: guru yang terlatih, aturan penggunaan yang mudah dipahami, peninjauan manusia dalam penilaian, perlindungan data, serta pemantauan rutin terhadap kesejahteraan siswa.
Belum ada bukti bahwa Hong Kong sedang mempertimbangkan larangan media sosial secara menyeluruh bagi anak di bawah 16 tahun atau larangan ponsel di semua sekolah. Arah kebijakannya secara jelas lebih menekankan penguatan kompetensi digital daripada pembatasan melalui undang-undang.
Jika data kesejahteraan siswa berubah secara signifikan, penekanan pada “kepedulian kemanusiaan” dan nilai etika dalam kerangka tersebut memberi ruang bagi Hong Kong untuk memperketat aturan di tingkat sekolah. Namun, berdasarkan kebijakan yang tersedia saat ini, kota itu belum memilih model larangan nasional seperti yang ditempuh atau dipertimbangkan sejumlah negara lain.