Portofolio hingga 1 GW itu akan bertumpu pada tiga teknologi utama:
Secara komersial, proyek-proyek ini akan ditopang Power Purchase Agreement (PPA) jangka panjang. PPA merupakan kontrak yang mengatur pembelian listrik untuk periode panjang sehingga membantu memberikan kepastian pendapatan bagi pengembang dan kepastian pasokan bagi konsumen besar.
Strukturnya akan diselaraskan dengan perkembangan mekanisme Direct Power Purchase Agreement (DPPA) Vietnam. Kebijakan ini dirancang untuk memungkinkan konsumen listrik besar membeli energi terbarukan secara langsung dari pembangkit swasta. Foxconn dan Brookfield menyatakan proyek akan dikembangkan seiring kemajuan kerangka DPPA tersebut .
Brookfield akan menggunakan Catalytic Transition Fund (CTF) untuk mendukung kemitraan ini . CTF dibentuk untuk memperbesar pembiayaan energi bersih dan proyek transisi energi di negara berkembang serta pasar negara berkembang.
Beberapa fakta penting tentang CTF:
Dengan demikian, proyek Foxconn bukan hanya kerja sama antara perusahaan manufaktur dan investor infrastruktur. Proyek ini juga menjadi contoh bagaimana modal institusional dan pembiayaan transisi diarahkan untuk membangun kapasitas energi bersih di negara yang kebutuhan listriknya tumbuh cepat.
Kemitraan dengan Foxconn melanjutkan langkah Brookfield di sektor energi terbarukan Asia Tenggara. Pada November 2025, melalui CTF, Brookfield menyelesaikan dua investasi penting di kawasan tersebut.
Pertama, Brookfield mengakuisisi Alba Renewables, pengembang energi bersih berbasis Singapura dengan portofolio sekitar 1,8 GW proyek angin, surya, dan penyimpanan baterai. Sebagian besar proyek tersebut berada di Filipina dan Thailand .
Kedua, Brookfield mengambil alih proyek pembangkit listrik tenaga angin berkapasitas 100 MW yang sudah beroperasi dan memiliki kontrak jangka panjang di Vietnam bagian tengah .
Dua transaksi itu memberi Brookfield pijakan pengembangan dan operasi di beberapa pasar energi utama ASEAN, sekaligus menjadi fondasi bagi ekspansi platform dekarbonisasinya di kawasan.
Pabrik Foxconn di Vietnam tidak lagi hanya memproduksi perangkat elektronik tradisional. Di fasilitas Bac Ninh yang dioperasikan anak usaha Fushan Technology (Vietnam), kapasitas produksi yang dilaporkan mencakup:
Total kapasitas tahunan di seluruh lini disebut mencapai lebih dari 171 juta barang, meski fasilitas tersebut belum beroperasi pada kapasitas penuh .
Pada April 2026, Fushan Technology mengajukan permohonan izin lingkungan untuk menambahkan lini produksi robot humanoid di pabrik Bac Ninh . Dokumen terkait memperkirakan konsumsi listrik fasilitas itu setelah ekspansi mencapai sekitar 109 juta kilowatt-jam per tahun .
Di luar Bac Ninh, Foxconn juga berkomitmen menanamkan sekitar US$250 juta dalam dua proyek baru untuk memproduksi komponen kendaraan listrik dan perangkat telekomunikasi di Vietnam utara . Hingga 2025, total investasi Foxconn di Vietnam telah melampaui US$4 miliar, dengan jumlah tenaga kerja lebih dari 94.000 orang .
Ekspansi industri Foxconn berlangsung ketika permintaan listrik Vietnam juga meningkat pesat. Permintaan nasional diproyeksikan tumbuh 10,5–13 persen pada 2025, sementara pertumbuhan tahunan sekitar 12–15 persen diperkirakan berlanjut hingga 2030 seiring berkembangnya manufaktur, pusat data, dan elektrifikasi .
Kondisi ini membuat pasokan energi menjadi pertimbangan strategis bagi perusahaan manufaktur berskala besar. Pengembangan listrik terbarukan yang terhubung dengan kontrak jangka panjang dapat membantu Foxconn memenuhi tuntutan keberlanjutan dari pelanggan globalnya, sekaligus menyediakan sumber daya tambahan di tengah tekanan terhadap jaringan listrik Vietnam.
Bagi Brookfield, Foxconn dapat menjadi konsumen jangkar untuk proyek energi bersih berskala besar di Asia Tenggara. Model serupa berpotensi menjadi pola baru pengadaan energi perusahaan di pasar berkembang: bukan hanya membeli sertifikat energi terbarukan, melainkan ikut mendorong pembangunan pembangkit, jaringan penyimpanan, dan kontrak listrik jangka panjang.
Portofolio hingga 1 GW itu akan bertumpu pada tiga teknologi utama:
Secara komersial, proyek-proyek ini akan ditopang Power Purchase Agreement (PPA) jangka panjang. PPA merupakan kontrak yang mengatur pembelian listrik untuk periode panjang sehingga membantu memberikan kepastian pendapatan bagi pengembang dan kepastian pasokan bagi konsumen besar.
Strukturnya akan diselaraskan dengan perkembangan mekanisme Direct Power Purchase Agreement (DPPA) Vietnam. Kebijakan ini dirancang untuk memungkinkan konsumen listrik besar membeli energi terbarukan secara langsung dari pembangkit swasta. Foxconn dan Brookfield menyatakan proyek akan dikembangkan seiring kemajuan kerangka DPPA tersebut .
Brookfield akan menggunakan Catalytic Transition Fund (CTF) untuk mendukung kemitraan ini . CTF dibentuk untuk memperbesar pembiayaan energi bersih dan proyek transisi energi di negara berkembang serta pasar negara berkembang.
Beberapa fakta penting tentang CTF:
Dengan demikian, proyek Foxconn bukan hanya kerja sama antara perusahaan manufaktur dan investor infrastruktur. Proyek ini juga menjadi contoh bagaimana modal institusional dan pembiayaan transisi diarahkan untuk membangun kapasitas energi bersih di negara yang kebutuhan listriknya tumbuh cepat.
Kemitraan dengan Foxconn melanjutkan langkah Brookfield di sektor energi terbarukan Asia Tenggara. Pada November 2025, melalui CTF, Brookfield menyelesaikan dua investasi penting di kawasan tersebut.
Pertama, Brookfield mengakuisisi Alba Renewables, pengembang energi bersih berbasis Singapura dengan portofolio sekitar 1,8 GW proyek angin, surya, dan penyimpanan baterai. Sebagian besar proyek tersebut berada di Filipina dan Thailand .
Kedua, Brookfield mengambil alih proyek pembangkit listrik tenaga angin berkapasitas 100 MW yang sudah beroperasi dan memiliki kontrak jangka panjang di Vietnam bagian tengah .
Dua transaksi itu memberi Brookfield pijakan pengembangan dan operasi di beberapa pasar energi utama ASEAN, sekaligus menjadi fondasi bagi ekspansi platform dekarbonisasinya di kawasan.
Pabrik Foxconn di Vietnam tidak lagi hanya memproduksi perangkat elektronik tradisional. Di fasilitas Bac Ninh yang dioperasikan anak usaha Fushan Technology (Vietnam), kapasitas produksi yang dilaporkan mencakup:
Total kapasitas tahunan di seluruh lini disebut mencapai lebih dari 171 juta barang, meski fasilitas tersebut belum beroperasi pada kapasitas penuh .
Pada April 2026, Fushan Technology mengajukan permohonan izin lingkungan untuk menambahkan lini produksi robot humanoid di pabrik Bac Ninh . Dokumen terkait memperkirakan konsumsi listrik fasilitas itu setelah ekspansi mencapai sekitar 109 juta kilowatt-jam per tahun .
Di luar Bac Ninh, Foxconn juga berkomitmen menanamkan sekitar US$250 juta dalam dua proyek baru untuk memproduksi komponen kendaraan listrik dan perangkat telekomunikasi di Vietnam utara . Hingga 2025, total investasi Foxconn di Vietnam telah melampaui US$4 miliar, dengan jumlah tenaga kerja lebih dari 94.000 orang .
Ekspansi industri Foxconn berlangsung ketika permintaan listrik Vietnam juga meningkat pesat. Permintaan nasional diproyeksikan tumbuh 10,5–13 persen pada 2025, sementara pertumbuhan tahunan sekitar 12–15 persen diperkirakan berlanjut hingga 2030 seiring berkembangnya manufaktur, pusat data, dan elektrifikasi .
Kondisi ini membuat pasokan energi menjadi pertimbangan strategis bagi perusahaan manufaktur berskala besar. Pengembangan listrik terbarukan yang terhubung dengan kontrak jangka panjang dapat membantu Foxconn memenuhi tuntutan keberlanjutan dari pelanggan globalnya, sekaligus menyediakan sumber daya tambahan di tengah tekanan terhadap jaringan listrik Vietnam.
Bagi Brookfield, Foxconn dapat menjadi konsumen jangkar untuk proyek energi bersih berskala besar di Asia Tenggara. Model serupa berpotensi menjadi pola baru pengadaan energi perusahaan di pasar berkembang: bukan hanya membeli sertifikat energi terbarukan, melainkan ikut mendorong pembangunan pembangkit, jaringan penyimpanan, dan kontrak listrik jangka panjang.