Pada 23 Juli 2026, Science dan Retraction Watch melaporkan bahwa seorang gadis 6 tahun (nama samaran 'Mei') meninggal pada Maret 2025 setelah menerima terapi penyuntingan gen pertama di dunia yang ditargetkan ke otak,... Gadis tersebut menerima infus tulang belakang berisi triliunan partikel virus yang membawa mesin...
Jawaban penelitian

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: What is the investigation involving Shanghai Jiao Tong University neuroscientist Qiu Zilong, who reportedly administered experimental gene-e. Article summary: On July 23, 2026, **Science** and **Retraction Watch** published a joint investigation revealing that a six-year-old girl (pseudonym "Mei") died in March 2025 after receiving experimental gene-editing therapy administere. Topic tags: general, general web. Style: premium digital editorial illustration, source-backed research mood, clean composition, high detail, modern web publication hero. Use reference image context only for broad subject, composition, and topical grounding; do not copy the exact image. Avoid: logos, brand marks, copyrighted characters, real person likenesses, fake screenshots, UI text, readable text, watermarks, charts with fake numbers, clic
Pada 23 Juli 2026, investigasi gabungan oleh Science dan Retraction Watch mengungkapkan kisah yang sangat mengganggu: seorang gadis kecil berusia enam tahun, yang hanya dikenal dengan nama samaran "Mei", meninggal pada Maret 2025 setelah menerima terapi penyuntingan gen eksperimental — dan kematiannya tidak pernah diumumkan ke publik . Terapi ini diberikan oleh ilmuwan saraf Qiu Zilong di Shanghai Jiao Tong University School of Medicine. Berikut adalah rincian lengkap kasus ini dan dampaknya.
Terapi ini digambarkan sebagai terapi "base editing" pertama di dunia yang ditargetkan ke otak, yang menyasar mutasi gen CHD3 yang terkait dengan sindrom Snijders-Blok-Campeau, sebuah kondisi langka yang menyebabkan keterlambatan perkembangan . Pada Maret 2025, gadis tersebut menerima infus tulang belakang berisi triliunan partikel virus yang membawa mesin penyuntingan gen di Rumah Sakit Xinhua, rumah sakit afiliasi universitas di Shanghai
. Ia meninggal dalam waktu seminggu setelah perawatan, dilaporkan karena reaksi imun parah yang terkait dengan terapi tersebut
.
Kematian gadis itu tidak pernah dilaporkan ke publik. Tim peneliti menerbitkan makalah di Nature pada Februari 2025 yang mengklaim keberhasilan penyuntingan gen dalam uji klinis, tanpa mengungkapkan kematian pasien . Makalah tersebut menjelaskan pekerjaan praklinis untuk pengobatan penyuntingan gen bagi sindrom Snijders Blok-Campeau tetapi menghilangkan penyebutan hasil yang fatal
. Nature sejak itu telah menambahkan catatan editor ke makalah tersebut dan memulai investigasinya sendiri, meskipun catatan tersebut secara eksplisit bukan merupakan pencabutan (retraction)
.
Orang tua gadis itu mengumpulkan sekitar $860.000 (sekitar Rp 13,4 miliar) untuk mendanai pengobatan tersebut . Menurut investigasi, keluarga tersebut membayar pengembangan terapi dan administrasi klinisnya, dan dilaporkan tidak sepenuhnya diberi tahu tentang risiko yang terlibat
.
Hingga laporan terbaru, ketiga investigasi masih terbuka dan belum terselesaikan. Belum ada temuan resmi mengenai pelanggaran yang diumumkan .
Kasus ini langsung dibandingkan dengan skandal bayi hasil rekayasa genetika He Jiankui pada tahun 2018 dan telah memunculkan pertanyaan serius tentang pengawasan regulasi, persetujuan berdasarkan informasi (informed consent), dan akuntabilitas etika di sektor penelitian biomedis Tiongkok . Investigasi ini juga menyoroti persaingan global yang ketat untuk mengubah "base editors" — bentuk alat penyuntingan gen CRISPR yang lebih presisi — menjadi terapi klinis untuk penyakit langka, serta risiko yang dapat muncul ketika ambisi ilmiah melampaui perlindungan etika
.
Studio Global AI
Halaman ini berisi jawaban yang didukung sumber yang dapat Anda lanjutkan di dalam Studio Global.
Pada 23 Juli 2026, Science dan Retraction Watch melaporkan bahwa seorang gadis 6 tahun (nama samaran 'Mei') meninggal pada Maret 2025 setelah menerima terapi penyuntingan gen pertama di dunia yang ditargetkan ke otak,...
Pada 23 Juli 2026, Science dan Retraction Watch melaporkan bahwa seorang gadis 6 tahun (nama samaran 'Mei') meninggal pada Maret 2025 setelah menerima terapi penyuntingan gen pertama di dunia yang ditargetkan ke otak,... Gadis tersebut menerima infus tulang belakang berisi triliunan partikel virus yang membawa mesin penyuntingan gen di Rumah Sakit Xinhua, Shanghai.
Tiga investigasi paralel kini berlangsung: oleh Shanghai Jiao Tong University School of Medicine, oleh jurnal Nature, dan oleh otoritas regulasi Tiongkok.