Beruntung, unit-unit yang tidak terdampak bisa kembali dihidupkan. Pada 14 April 2026, hanya beberapa hari pasca-serangan, SATORP bernapas lagi, meski dengan paru-paru setengah. Kilang itu kini beroperasi pada kapasitas sangat terbatas, sekitar 230.000 barel per hari—jauh dari kapasitas aslinya yang mencapai 460.000 barel per hari.
CEO TotalEnergies, Patrick Pouyanné, menyajikan kenyataan pahit di hadapan Majelis Nasional Prancis pada 17 Juni lalu: SATORP tidak akan benar-benar pulih sebelum awal 2027.
Perbaikan bukan soal mengelas logam yang retak. Ini tentang rantai pasok yang tercekik, evakuasi pekerja ahli, dan kesulitan teknis luar biasa di tengah zona konflik yang masih membara. Kini, kilang beroperasi di sekitar 70% kapasitasnya, dan peningkatan output ke sedikit di atas 300.000 barel per hari masih dalam proses. Namun, untuk mengganti komponen khusus dan menyelesaikan rekayasa kompleks pada rangkaian yang rusak, waktu yang dibutuhkan ternyata semasif itu: pemulihan penuh baru tuntas tahun depan.
Melihat SATORP sebagai insiden tunggal adalah kesalahan besar. Serangan ini adalah satu luka kecil di tubuh yang jauh lebih parah. Krisis energi Teluk dimulai pada 28 Februari 2026, saat AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran, yang dibalas dengan blokade efektif Selat Hormuz.
Ini bukan soal tidak bisa memproduksi, ini soal tidak bisa mengirim. Penutupan selat itu ibarat menyumbat arteri utama eksportir minyak Teluk. Badan Informasi Energi AS (EIA) memperkirakan pada 7 April bahwa Arab Saudi, Irak, Kuwait, UEA, Qatar, dan Bahrain secara kolektif terpaksa menghentikan produksi 7,5 juta barel per hari karena kapal tak bisa berlayar dan tangki penyimpanan penuh.
Neraca Produksi Arab Saudi Jeblok. Di luar kelumpuhan ekspor, kerusakan infrastruktur langsung menambah kepedihan. Produksi minyak mentah Saudi anjlok dari level pra-perang sekitar 9-10 juta barel per hari menjadi sekitar 7 juta barel per hari pada April 2026. Bahkan, pada 9 April, Riyadh mengakui serangan Iran telah melumpuhkan gabungan kapasitas pemrosesan dan jalur pipa sebesar 1,3 juta barel per hari.
Daftar targetnya jauh lebih panjang dari sekadar SATORP: Kilang Ras Tanura, kilang Riyadh, fasilitas SAMREF di Yanbu, dan stasiun pompa di Jalur Pipa Petroline (Timur-Barat) juga hancur. Jalur pipa ini, yang menjadi 'jalan tikus' vital melewati Selat Hormuz menuju Laut Merah, sempat kehilangan kapasitas 700.000 barel per hari sebelum akhirnya pulih total ke kapasitas 7 juta barel per hari pada 12 April.
Namun, jalur pipa alternatif bukanlah penyelamat. Rute-rute ini hanya mencakup kurang dari 40% aliran normal Selat Hormuz. Artinya, meskipun Petroline sudah pulih, volume besar minyak Teluk tetap terdampar dan tidak bisa kemana-mana. Dunia kini harus terbiasa dengan SATORP yang 'pincang', dan sektor energi Arab Saudi yang tengah merawat luka struktural yang dalam, bukan sekadar pemadaman sementara.
Comments
0 comments