Tekanan paling langsung datang dari pasar stablecoin. Kapitalisasi gabungan stablecoin mencapai sekitar US$320–322 miliar pada pertengahan Mei 2026, lalu turun sekitar US$17 miliar menjadi sekitar US$303–305 miliar menurut data DeFiLlama dan CoinGecko . Pada kuartal II, pasar stablecoin menyusut 1,6% ke sekitar US$305,1 miliar—kontraksi kuartalan pertama sejak kuartal III 2023 .
Stablecoin penting bagi Bitcoin karena berfungsi sebagai jalur masuk utama likuiditas kripto. Dalam fase koreksi sebelumnya, investor sering memindahkan dana dari aset berisiko ke stablecoin untuk menunggu peluang masuk kembali. Kali ini, penurunan kapitalisasi stablecoin dinilai lebih mencerminkan keluarnya dana dari ekosistem kripto menuju mata uang fiat, bukan sekadar dana yang menunggu di pinggir lapangan . Jika tren ini berlanjut, permintaan baru untuk Bitcoin dapat ikut melemah.
Penurunan tersebut terjadi di sejumlah penerbit besar. USDT milik Tether turun dari sekitar US$189 miliar pada awal Mei menjadi sekitar US$183 miliar pada awal Agustus . USDC milik Circle turun 4,8% menjadi US$73,5 miliar, sedangkan USDS milik Sky turun 16,4% menjadi sekitar US$10 miliar . Pemberlakuan GENIUS Act pada Juli 2025, yang melarang penerbit membayar bunga atas payment stablecoin, juga disebut sebagai salah satu faktor yang mungkin berkontribusi terhadap arus keluar .
Dari sisi teknikal, Bitcoin telah bergerak dalam pola yang menyerupai bear pennant di grafik harian sejak penurunan tajam pada Juni . Pola ini biasanya terbentuk ketika harga berkonsolidasi di antara garis tren yang menyempit setelah aksi jual besar. Karena merupakan pola kelanjutan, pergerakan berikutnya secara historis lebih sering mengikuti arah tren sebelumnya—meski hasilnya tidak selalu demikian.
Bitcoin kini berada dekat titik puncak pola di sekitar US$65.000 dan masih di bawah exponential moving average atau EMA 50 hari, 100 hari, dan 200 hari. Penutupan tegas di bawah area support yang menanjak pada US$62.000–US$63.000 dapat mengonfirmasi penembusan bearish. Perhitungan target berdasarkan tinggi penurunan sebelumnya mengarah ke sekitar US$44.750 .
Sejumlah analis juga melihat pola head-and-shoulders pada grafik tiga hari. Jika garis lehernya ditembus, target yang diperkirakan berada di sekitar US$41.266 . Dengan demikian, kisaran US$40.000–US$48.000 menjadi salah satu area permintaan utama yang banyak disebut dalam analisis saat ini .
Namun, bear pennant bukanlah ramalan pasti. Salah satu kajian menemukan bahwa hanya 43% pola bear pennant yang benar-benar menembus ke bawah; dari pola yang menembus ke bawah tersebut, hanya 32% yang mencapai target pergerakan penuh . Artinya, pola teknikal tetap bersifat probabilistik. Sinyalnya menjadi lebih mengkhawatirkan karena muncul bersamaan dengan penurunan likuiditas stablecoin dan latar makro yang kurang mendukung.
Secara historis, Agustus termasuk bulan terburuk bagi Bitcoin. Berdasarkan data selama 15 tahun, imbal hasil median Bitcoin pada Agustus berada di sekitar minus 7% hingga minus 7,87%. Bitcoin juga tercatat selalu menutup Agustus di zona merah sejak 2022 .
Salah satu proyeksi memperkirakan Bitcoin dapat terlebih dahulu turun menuju US$58.000–US$62.000 pada awal Agustus, sebelum berpotensi pulih ke US$80.000–US$92.000 setelah koreksi selesai . Skenario pemulihan tersebut masih terbuka, tetapi membutuhkan perubahan momentum yang belum terlihat jelas.
Pasar berjangka juga telah memperhitungkan peluang sekitar 60% untuk pemangkasan suku bunga pada September. Ekspektasi yang sudah tertanam ini dapat mengurangi ruang bagi kejutan dovish—sinyal kebijakan yang lebih longgar—untuk mendorong reli Bitcoin dalam waktu dekat .
The Fed mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,5%–3,75% dalam rapat Federal Open Market Committee atau FOMC pada 28–29 Juli 2026 . Risalah rapat tersebut dijadwalkan terbit pada 19 Agustus .
Rapat FOMC berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 15–16 September dan akan disertai dot plot serta Summary of Economic Projections. Setelah itu, rapat dijadwalkan pada 27–28 Oktober dan 8–9 Desember . Jeda sekitar enam pekan tanpa rapat kebijakan utama membuat aset berisiko, termasuk Bitcoin, lebih bergantung pada data inflasi, arus ETF, dan pernyataan pejabat The Fed untuk memperoleh dorongan baru.
Pidato Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole dapat menjadi pemicu volatilitas jika memberikan petunjuk tentang perubahan kebijakan. Namun, pidato tersebut bukan pengganti keputusan suku bunga resmi .
Tiga faktor utama kini bergerak ke arah yang sama: penebusan stablecoin mengurangi likuiditas kripto, harga Bitcoin berada di bawah EMA utama dalam pola bear pennant, dan kalender The Fed tidak menawarkan katalis besar dalam waktu dekat. Berdasarkan kombinasi tersebut, Bitcoin berisiko menguji US$58.000–US$62.000 dalam beberapa pekan mendatang. Jika support itu jebol, target teknikal berikutnya dapat mengarah ke US$44.000–US$48.000 .
Skenario bullish menuju US$80.000 atau lebih tetap mungkin, tetapi untuk saat ini membutuhkan katalis yang belum memiliki dasar kuat, seperti perubahan dovish mendadak dari The Fed, data inflasi yang lebih rendah, arus masuk ETF yang kembali konsisten, atau kemajuan regulasi melalui CLARITY Act . Data pasar prediksi yang dirangkum CoinGecko bahkan menempatkan peluang Bitcoin mencapai US$72.000 pada pertengahan Agustus hanya sebesar 0,4% .
Catatan penting: Target harga berbasis pola bear pennant dan head-and-shoulders bersifat probabilistik, bukan kepastian. Kejutan dovish pada rapat FOMC September, pembalikan arus ETF, atau terobosan regulasi dapat membatalkan skenario bearish. Namun, berdasarkan informasi yang tersedia pada awal Agustus 2026, bobot bukti masih lebih condong ke risiko penurunan.