Sistem rudal jarak menengah Typhon milik Angkatan Darat AS dapat menembakkan rudal Tomahawk dan SM‑6 dengan jangkauan hingga sekitar 1.600–1.800 km, cukup untuk menjangkau sebagian wilayah China dari Jepang.[27][31] Washington dan Tokyo melihat penempatan ini sebagai cara memperkuat daya tangkal terhadap kekuatan mi...

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: What is the controversy over the United States’ planned deployment of the Typhon mid‑range missile system to Japan, why has China strongly c. Article summary: The controversy is that a U.S. plan to deploy the Typhon mid-range missile system to Japan would place a mobile, ground-launched strike capability much closer to China, extending U.S.-Japan conventional deterrence but al. Topic tags: general, general web, user generated. Reference image context from search candidates: Reference image 1: visual subject "# The Chinese foreign ministry on May 6, 2026, condemned Japan over Tokyo’s first overseas launch of “offensive” missiles in eight decades. #asia #china #japan #diplomacy #military" source context "49K views · 671 reactions | The Chinese foreign ministry on May 6, 2026, condemned Japan over Tokyo’s first overseas
Penempatan sistem rudal jarak menengah Typhon oleh Amerika Serikat di Jepang menjadi titik panas baru dalam dinamika keamanan Asia Timur. Bagi Washington dan Tokyo, sistem ini memperkuat kemampuan pencegahan terhadap China. Namun bagi Beijing, langkah tersebut dianggap sebagai ancaman serius terhadap stabilitas regional dan dapat memicu perlombaan senjata di kawasan Indo‑Pasifik.
Kontroversi ini mencerminkan rivalitas strategis yang lebih luas. Amerika Serikat bersama sekutunya memperkuat kemampuan militer di sepanjang apa yang disebut "first island chain"—rangkaian wilayah dari Jepang hingga Filipina—sementara China memandang langkah tersebut sebagai upaya membatasi pengaruh militernya.
Typhon, yang secara resmi disebut Mid‑Range Capability (MRC) milik Angkatan Darat AS, adalah platform peluncur rudal berbasis darat yang dirancang untuk mengisi celah antara rudal presisi jarak pendek dan senjata hipersonik jarak sangat jauh.
Beberapa kemampuan utamanya meliputi:
Kombinasi tersebut memberi pasukan darat kemampuan serangan presisi jarak jauh terhadap target di darat maupun laut—peran yang sebelumnya lebih sering dilakukan oleh kapal perang.
Pada tahun 2025, Angkatan Darat AS menampilkan sistem Typhon di Jepang selama latihan militer gabungan Resolute Dragon antara Amerika Serikat dan Jepang.
Bagi kedua negara, langkah ini memiliki beberapa tujuan strategis:
Wilayah Jepang—terutama bagian selatan—berada dekat dengan jalur laut strategis di Laut China Timur dan dekat dengan Selat Taiwan, dua area yang sering menjadi fokus ketegangan geopolitik.
Pemerintah China bereaksi keras terhadap langkah tersebut. Pejabat Beijing menyatakan penempatan Typhon menjadi “ancaman substansial terhadap keamanan strategis regional” dan mendesak AS serta Jepang untuk menarik sistem tersebut.
Beijing memiliki beberapa kekhawatiran utama:
China juga menyampaikan keberatan serupa ketika sistem Typhon ditempatkan di Filipina untuk latihan militer, dengan peringatan bahwa langkah seperti itu dapat memperburuk konfrontasi geopolitik dan memicu perlombaan senjata regional.
Keberadaan Typhon di Jepang—bahkan jika hanya sementara—dapat memengaruhi keseimbangan militer di Indo‑Pasifik.
Potensi efek stabilisasi:
Potensi efek destabilisasi:
Situasi ini sering digambarkan sebagai dilema keamanan: langkah yang dimaksudkan untuk meningkatkan pencegahan justru bisa meningkatkan rasa ancaman di pihak lain.
Kontroversi Typhon juga erat terkait dengan ketegangan mengenai Taiwan. Beijing mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya, sementara Amerika Serikat mendukung kemampuan pertahanan pulau tersebut.
Jepang berada di jalur laut dan udara penting yang kemungkinan besar akan memainkan peran penting jika terjadi krisis di Selat Taiwan. Sistem seperti Typhon dapat memberi AS dan sekutunya kemampuan untuk menyerang kapal, pangkalan, atau pusat logistik yang mendukung operasi militer di wilayah itu.
Dari sudut pandang Beijing, penempatan Typhon adalah bagian dari pola yang lebih luas, termasuk:
Karena faktor‑faktor ini saling terkait, pejabat China sering melihatnya sebagai satu tantangan strategis yang sama.
Pada akhirnya, kontroversi Typhon mencerminkan perbedaan narasi keamanan yang mendasar:
Selama rivalitas militer di Indo‑Pasifik terus meningkat—terutama terkait Taiwan—penempatan sistem seperti Typhon kemungkinan akan tetap menjadi sumber ketegangan diplomatik dan strategis.
Studio Global AI
Use this topic as a starting point for a fresh source-backed answer, then compare citations before you share it.
Sistem rudal jarak menengah Typhon milik Angkatan Darat AS dapat menembakkan rudal Tomahawk dan SM‑6 dengan jangkauan hingga sekitar 1.600–1.800 km, cukup untuk menjangkau sebagian wilayah China dari Jepang.[27][31]
Sistem rudal jarak menengah Typhon milik Angkatan Darat AS dapat menembakkan rudal Tomahawk dan SM‑6 dengan jangkauan hingga sekitar 1.600–1.800 km, cukup untuk menjangkau sebagian wilayah China dari Jepang.[27][31] Washington dan Tokyo melihat penempatan ini sebagai cara memperkuat daya tangkal terhadap kekuatan militer China, sementara Beijing menilai langkah itu mengancam stabilitas kawasan dan berpotensi memicu perlombaan sen...
Isu ini juga berkaitan erat dengan ketegangan seputar Taiwan karena sistem serangan jarak jauh yang ditempatkan di dekat “rantai pulau pertama” dapat memengaruhi perencanaan militer dalam kemungkinan krisis Taiwan.