Peraih Nobel Ekonomi 2024, Daron Acemoglu, lewat buku terbarunya 'What Happened to Liberal Democracy?' (terbit 11 Agustus 2026), menegaskan bahwa krisis demokrasi liberal bukan disebabkan oleh musuh dari luar, melaink... Acemoglu memperkenalkan istilah 'soft straitjacket' atau 'korset lunak': sebuah proses halus nam...
Jawaban penelitian

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: What is the central thesis of Daron Acemoglu's new book on liberal democracy's crisis, what "soft straitjacket" does he describe, how does h. Article summary: In **"What Happened to Liberal Democracy? Remaking a Politics of Shared Prosperity"** (published August 11, 2026), Daron Acemoglu argues that the crisis of liberal democracy is a self-inflicted wound: the system abandone. Topic tags: general, education, news, general web, user generated. Style: premium digital editorial illustration, source-backed research mood, clean composition, high detail, modern web publication hero. Use reference image context only for broad subject, composition, and topical grounding; do not copy the exact image. Avoid: logos, brand marks, copyrighted characters, real person likenesses, fake screenshots, UI text, readable text, watermark
Peraih Nobel Ekonomi Daron Acemoglu telah menulis apa yang mungkin menjadi entri paling ambisius dalam genre 'liberalisme dalam krisis' yang sudah sangat ramai. Buku barunya, What Happened to Liberal Democracy? Remaking a Politics of Shared Prosperity (terbit 11 Agustus 2026, oleh Penguin Random House, 416 halaman), berargumen bahwa ancaman terbesar terhadap demokrasi liberal bukanlah populisme, otoritarianisme, atau media sosial — melainkan kegagalan internal dari sistem itu sendiri . Di mana banyak pihak menyalahkan kekuatan eksternal, Acemoglu membuat argumen yang jauh lebih menusuk: liberalisme sedang sekarat terutama karena luka yang ditimbulkannya sendiri
.
Klaim sentral Acemoglu adalah bahwa demokrasi liberal berkembang pesat justru ketika ia berhasil memenuhi janji-janji utamanya: keuntungan ekonomi yang dirasakan luas (shared prosperity), tata kelola demokrasi yang inklusif, dan kebebasan untuk mengejar pengetahuan . Sistem ini mulai goyah ketika ia berhenti melakukannya. Buku ini menelusuri bagaimana liberalisme — sebuah filosofi yang dibangun untuk menantang kekuasaan — tidak pernah sepenuhnya beradaptasi setelah menjadi ideologi mapan (establishment) di abad ke-20, dan tidak memiliki ketahanan untuk menghadapi guncangan globalisasi dan teknologi digital
.
Acemoglu menggambarkan sebuah mekanisme yang ia sebut 'korset lunak' atau soft straitjacket —bukan penindasan terbuka, melainkan penyempitan pilihan politik dan ekonomi secara bertahap yang didorong oleh para elit. Hal ini membatasi perdebatan demokratis dan secara sistematis mengesampingkan kepentingan kelas pekerja . Mekanisme ini terwujud dalam tiga kegagalan utama:
Korset lunak ini mencekik daya tanggap demokratis yang dulunya memberikan legitimasi bagi liberalisme, membuatnya rentan terhadap serangan balik populis .
Acemoglu menarik paralel yang langsung dan mencolok antara disfungsi dalam pengembangan AI dan krisis demokrasi liberal yang lebih luas. Di kedua ranah, menurutnya, eskalasi yang digerakkan oleh elit (elite-driven escalation) telah menggantikan kemajuan deliberatif yang bermanfaat secara luas .
Perdebatan AI, katanya, 'memiliki kecenderungan untuk meningkatkan segalanya,' didorong oleh kesenjangan yang sama antara elit yang terdidik dan kredensial dengan semua orang lainnya . Alih-alih membentuk AI secara demokratis untuk membantu pekerja dan melayani kebutuhan publik, teknologi ini justru digunakan untuk 'memberdayakan perusahaan dan pemerintah melawan pekerja dan warga negara'
. Polarisasi dan hilangnya kepercayaan dalam tata kelola AI mencerminkan dinamika yang identik dalam kehidupan politik
.
Acemoglu secara konsisten menjadi kritikus terhadap lintasan AI saat ini. Ia memperkirakan bahwa hanya sekitar 5% tugas yang akan terotomatisasi secara menguntungkan dalam waktu dekat, yang paling-paling menghasilkan peningkatan PDB sebesar 1–1,5%, dan bahwa sekitar 0,55% dari total faktor produktivitas adalah yang benar-benar akan diberikan AI selama dekade berikutnya — sebagian kecil dari proyeksi euforia Wall Street . Masalah sebenarnya, menurutnya, bukanlah AI itu sendiri, melainkan wacana yang 'tidak berpikir' dan konsentrasi kekuasaan yang dimungkinkannya
.
Alternatif yang diajukan Acemoglu adalah 'liberalisme kelas pekerja' atau working-class liberalism —sebuah kerangka kerja yang digambarkan dalam materi promosi sebagai proyek 'ala Roosevelt' . Elemen intinya adalah:
Acemoglu membingkai ini bukan sebagai kembali ke demokrasi sosial pertengahan abad ke-20, melainkan sebagai filosofi politik baru yang merebut kembali janji asli liberalisme — kebebasan yang luas dan kemakmuran bersama — untuk dunia pasca-industri yang terganggu secara teknologi . Ia berpendapat bahwa 'memperbaiki demokrasi liberal bukanlah jawabannya' dan diperlukan perubahan fundamental (remaking)
.
Studio Global AI
Halaman ini berisi jawaban yang didukung sumber yang dapat Anda lanjutkan di dalam Studio Global.
Peraih Nobel Ekonomi 2024, Daron Acemoglu, lewat buku terbarunya 'What Happened to Liberal Democracy?' (terbit 11 Agustus 2026), menegaskan bahwa krisis demokrasi liberal bukan disebabkan oleh musuh dari luar, melaink...
Peraih Nobel Ekonomi 2024, Daron Acemoglu, lewat buku terbarunya 'What Happened to Liberal Democracy?' (terbit 11 Agustus 2026), menegaskan bahwa krisis demokrasi liberal bukan disebabkan oleh musuh dari luar, melaink... Acemoglu memperkenalkan istilah 'soft straitjacket' atau 'korset lunak': sebuah proses halus namun sistemik di mana para elit mempersempit pilihan politik dan ekonomi, sehingga mengesampingkan aspirasi kelas pekerja d...
Ia juga menarik paralel yang mengejutkan antara krisis demokrasi dan kegagalan tata kelola AI: di kedua ranah, eskalasi yang didorong oleh para elit telah menggantikan kemajuan yang deliberatif dan bermanfaat bagi ban...