Amerika Utara selama ini merupakan sumber keuntungan terbesar Stellantis, terutama melalui kendaraan ber-margin tinggi seperti SUV dan pickup dari merek Jeep dan Ram. Penurunan penjualan dan pangsa pasar di Amerika Serikat belakangan ini menjadi perhatian besar investor.
Karena itu, rencana pemulihan Filosa menempatkan beberapa prioritas utama:
Model Jeep dan Ram generasi baru diharapkan mampu mendorong pemulihan volume penjualan sekaligus menstabilkan kinerja keuangan Stellantis di kawasan tersebut.
Stellantis memiliki portofolio merek yang sangat besar setelah merger antara Fiat Chrysler dan PSA Group. Banyak analis mempertanyakan apakah perusahaan mampu mendanai pengembangan semua merek tersebut secara efektif.
Di bawah strategi Filosa, Stellantis diperkirakan akan memusatkan investasi pada sejumlah merek inti dengan potensi global paling kuat.
Walau belum ada daftar final yang diumumkan, merek yang paling sering disebut sebagai prioritas antara lain:
Dengan fokus yang lebih sempit, perusahaan dapat mengalokasikan modal dan pengembangan teknologi pada model yang memiliki peluang penjualan terbesar secara global sekaligus mengurangi kompleksitas produk.
Pilar penting lainnya adalah memperdalam kerja sama dengan produsen mobil China. Daripada sepenuhnya mengembangkan platform EV sendiri, Stellantis memilih memanfaatkan mitra yang sudah memiliki keunggulan biaya dan siklus pengembangan lebih cepat.
Dua kemitraan utama adalah dengan Dongfeng dan Leapmotor.
Stellantis dan perusahaan otomotif milik negara China Dongfeng memperluas joint venture lama mereka, Dongfeng Peugeot Citroën Automobile (DPCA). Pabrik di Wuhan direncanakan memproduksi kendaraan listrik baru merek Peugeot dan Jeep mulai tahun 2027.
Kendaraan tersebut tidak hanya ditujukan untuk pasar China, tetapi juga untuk ekspor ke pasar global. Strategi ini memungkinkan Stellantis memanfaatkan skala manufaktur China sekaligus menekan biaya produksi dan pengembangan.
Kemitraan ini merupakan kelanjutan dari hubungan industri yang telah berlangsung lebih dari tiga dekade antara kedua perusahaan.
Selain Dongfeng, Stellantis juga memperdalam kerja sama dengan produsen EV China Leapmotor. Kolaborasi ini kini meluas dari distribusi kendaraan menjadi produksi bersama.
Kedua perusahaan berencana memproduksi mobil listrik di Eropa, termasuk di pabrik Stellantis di Zaragoza, Spanyol.
Kemitraan ini memberi beberapa keuntungan penting bagi Stellantis:
Langkah ini juga menjadi cara Stellantis menghadapi persaingan yang semakin ketat dari produsen mobil listrik China yang agresif di pasar global.
Regulasi emisi di Uni Eropa mendorong percepatan adopsi kendaraan listrik. Namun banyak produsen mobil Eropa masih kesulitan menghasilkan EV murah secara menguntungkan.
Dengan memproduksi model berbasis teknologi Leapmotor di Spanyol serta berbagi komponen lintas merek, Stellantis berharap dapat menurunkan biaya sekaligus meningkatkan volume produksi EV di Eropa.
Strategi ini juga dapat membantu menghidupkan kembali pabrik yang kurang dimanfaatkan dan memperkuat posisi Stellantis di segmen EV kecil hingga menengah.
Beberapa indikator awal menunjukkan kemungkinan perbaikan operasional. Pada awal 2026, Stellantis melaporkan pengiriman kendaraan global naik sekitar 12% dibanding tahun sebelumnya, mencapai sekitar 1,4 juta unit. Peningkatan tersebut terutama didorong oleh pasar Amerika Utara dan Eropa.
Meski begitu, investor masih menunggu bukti bahwa strategi baru ini mampu menjaga pertumbuhan dan meningkatkan profitabilitas dalam jangka panjang.
Keberhasilan rencana Filosa sangat bergantung pada eksekusi dan kondisi eksternal. Beberapa risiko utama meliputi:
Jika strategi ini berhasil, Stellantis bisa berubah menjadi perusahaan yang lebih ramping dan fokus secara regional. Jika gagal, perusahaan berisiko semakin tertinggal dalam perlombaan global kendaraan listrik.
Rencana turnaround Antonio Filosa mencoba memposisikan ulang Stellantis berdasarkan kekuatan utamanya. Amerika Utara diharapkan kembali menjadi mesin profit lewat model Jeep dan Ram baru, Eropa difokuskan pada produksi EV terjangkau, sementara China menjadi basis manufaktur sekaligus mitra teknologi.
Pendekatan ini menunjukkan perubahan strategi yang cukup pragmatis: alih-alih bersaing langsung sepenuhnya dengan produsen EV China, Stellantis justru memilih bekerja sama dengan mereka untuk bergerak lebih cepat dan menekan biaya.
Comments
0 comments