Para pengembang menargetkan tugas yang sering dilakukan astronaut, seperti perawatan peralatan, penanganan kargo, serta kegiatan konstruksi di orbit.
Di Bumi, robot humanoid biasanya membutuhkan kaki untuk berjalan di lantai, menaiki tangga, atau melewati medan yang tidak rata. Di lingkungan mikrogravitasi, tantangan itu hampir tidak ada.
Sebaliknya, tantangan utamanya adalah mengontrol gerakan agar robot tidak hanyut menjauh dari area kerja.
Robot dengan banyak lengan dapat mengatasi hal ini dengan cara menambatkan dirinya pada struktur di sekitarnya. Misalnya, dua lengan dapat memegang rangka atau pegangan stasiun, sementara dua lengan lainnya digunakan untuk mengoperasikan alat atau memindahkan komponen. Pendekatan ini mirip dengan sistem manipulator yang sudah digunakan dalam robot servis satelit dan perawatan wahana di orbit.
Karena itu, banyak konsep robot luar angkasa lebih menekankan lengan manipulator, mekanisme cengkeraman, dan sistem kontrol presisi daripada kemampuan berjalan seperti manusia.
Saat ini HELIOS masih berada pada tahap awal pengembangan. Informasi detail mengenai spesifikasi teknis—seperti ukuran, berat, kapasitas angkat, atau jumlah total derajat kebebasan gerakan—belum dipublikasikan secara lengkap dalam laporan yang tersedia.
Yang jelas, robot ini dirancang sebagai demonstrator teknologi untuk mengeksplorasi cara baru robot bergerak dan bekerja di lingkungan mikrogravitasi. Proyek tersebut merupakan bagian dari riset yang berfokus pada asisten robotik bagi operasi orbital di masa depan.
HELIOS muncul di saat berbagai lembaga antariksa dan startup teknologi berlomba mengembangkan robot pekerja untuk orbit.
Beberapa proyek yang menunjukkan tren ini antara lain:
Robonaut 2 milik NASA
Robot ini diluncurkan ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) pada 2011 menggunakan pesawat ulang‑alik Discovery. Robonaut 2 menjadi robot humanoid pertama yang berada di luar angkasa, dirancang untuk membantu astronaut serta menguji bagaimana robot dengan ketangkasan tinggi bekerja di orbit.
Program robot astronaut PM01 dari China
Perusahaan robotika Engine AI mengumumkan rencana mengirim robot humanoid PM01 ke luar angkasa sebagai bagian dari program eksplorasi “robot astronaut”. Proyek ini menyoroti minat yang semakin besar pada robot otonom untuk menangani tugas berisiko tinggi di misi antariksa.
Robot bebas terbang “Joy” dari Icarus Robotics
Startup Icarus Robotics sedang mengembangkan robot bernama Joy yang dijadwalkan diuji di ISS pada awal 2027. Misi ini akan mengevaluasi kemampuan navigasi otonom dan operasi robot di lingkungan stasiun luar angkasa yang nyata.
Berbagai proyek tersebut menunjukkan perubahan besar di industri antariksa: robot semakin diproyeksikan menangani inspeksi, perbaikan, perakitan, dan logistik di orbit, sehingga mengurangi risiko bagi astronaut manusia.
HELIOS menunjukkan bagaimana para insinyur mulai merancang robot khusus untuk kondisi luar angkasa, bukan sekadar mengadaptasi desain yang dibuat untuk Bumi.
Dengan meninggalkan kaki dan berfokus pada ketangkasan multi‑lengan serta kemampuan menambatkan diri, struktur robot ini lebih sesuai dengan hukum fisika di lingkungan mikrogravitasi.
Jika pengembangannya terus berlanjut melewati tahap prototipe, robot seperti HELIOS berpotensi membantu astronaut dalam merawat wahana antariksa, merakit struktur besar di orbit, hingga mengelola logistik di stasiun luar angkasa—membuka kemungkinan masa depan di mana manusia dan robot bekerja berdampingan di ruang angkasa.
Comments
0 comments