Sistem evaluasi “stack ranking” di Meta membandingkan karyawan satu sama lain dan dapat menempatkan sebagian orang ke kategori performa rendah, yang menurut kritik memicu kompetisi internal dan berpotensi berujung PHK... Kontroversi memuncak setelah mantan insinyur Jeremy Bernier menyebut sistem tersebut “absolute c...

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: What is Meta’s controversial stack‑ranking culture, why did a recently laid‑off engineer say being fired felt like a relief and describe the. Article summary: Meta’s controversial “stack‑ranking” culture is a performance system critics say forces employees into internal competition by comparatively ranking workers and pushing some into lower buckets, which can then feed layoff. Topic tags: general, general web. Reference image context from search candidates: Reference image 1: visual subject "# Meta reached out for interview, then fired 8,000 techies: 'AI layoff culture has gotten unbelievably toxic'. Meta reached out for interview, then fired 8,000 techies: 'AI layoff" source context "Meta reached out for interview, then fired 8,000 employees: 'AI layoff culture has gotten unbelievably toxic' - Business" Reference i
Meta kembali menjadi sorotan setelah sistem evaluasi karyawan yang dikenal sebagai “stack ranking” memicu kritik tajam di tengah gelombang PHK besar. Kontroversi ini makin ramai dibicarakan setelah seorang mantan insinyur mengatakan bahwa kehilangan pekerjaannya justru terasa seperti kelegaan.
Komentarnya viral di media sosial dan membuka kembali diskusi lama tentang budaya kerja kompetitif di perusahaan teknologi besar.
Stack ranking adalah metode manajemen kinerja di mana karyawan dinilai relatif terhadap rekan satu tim, bukan hanya berdasarkan target kerja individu. Manajer biasanya membagi pekerja ke beberapa tingkat performa—dari yang terbaik hingga yang paling rendah—dan hasilnya bisa memengaruhi promosi, bonus, atau bahkan keamanan pekerjaan.
Kritik utama terhadap sistem ini adalah adanya distribusi tetap antara “pemenang” dan “yang kalah.” Artinya, meskipun satu tim berkinerja baik secara keseluruhan, tetap ada orang yang harus masuk kategori performa rendah.
Beberapa laporan internal menyebutkan bahwa manajer kadang diminta menempatkan persentase tertentu karyawan dalam kategori terendah. Pada tim besar, jumlahnya bisa mencapai sekitar 15–20%, yang kemudian dapat menjadi dasar pemotongan karyawan berbasis performa.
Pendukung sistem ini berargumen bahwa metode tersebut membantu perusahaan menjaga standar tinggi dan mengidentifikasi pekerja yang tidak memenuhi ekspektasi. Namun para kritikus menilai pendekatan itu bisa merusak kolaborasi dan menciptakan politik kantor.
Perhatian publik meningkat setelah Jeremy Bernier, mantan insinyur Meta, menulis postingan tentang pengalaman PHK-nya yang kemudian viral di internet.
Dalam tulisannya, Bernier mengatakan bahwa keluar dari Meta terasa seperti kembali ke “modern civilisation” dan menyebut budaya stack ranking perusahaan sebagai “absolute cancer.” Menurutnya, sistem tersebut membuat karyawan lebih fokus bersaing satu sama lain daripada membangun produk yang baik.
Ia juga menggambarkan suasana kerja seperti permainan berisiko tinggi, di mana setiap orang khawatir dengan peringkat mereka. Beberapa diskusi online bahkan menyamakan budaya tersebut dengan serial “Squid Game,” karena tekanan kompetisi yang terus-menerus.
Pandangan Bernier memang bersifat pengalaman pribadi, tetapi komentarnya mendapat perhatian luas karena kritik serupa terhadap sistem ranking di perusahaan teknologi sudah lama beredar.
Perdebatan ini terjadi saat Meta menjalani fase restrukturisasi besar. Berbagai laporan menyebut perusahaan sedang memangkas sekitar 8.000 pekerjaan sebagai bagian dari upaya merampingkan organisasi dan meningkatkan investasi pada teknologi kecerdasan buatan.
Sebelumnya, Meta juga melakukan PHK berbasis performa yang menargetkan pekerja dengan peringkat terendah—sekitar 5% dari total tenaga kerja pada salah satu putaran sebelumnya.
Sejak 2022, perusahaan yang dipimpin Mark Zuckerberg itu telah menghilangkan puluhan ribu posisi dalam beberapa gelombang PHK, seiring strategi untuk meningkatkan efisiensi dan mengalihkan sumber daya ke proyek baru seperti AI.
Berbagai laporan dari karyawan menggambarkan kondisi internal yang tegang menjelang pemotongan pekerjaan.
Beberapa pekerja menyebut suasana kantor penuh kecemasan, kelelahan, dan ketidakpastian, bahkan bagi mereka yang memiliki penilaian kinerja cukup baik.
Ada juga diskusi internal yang menyebut masa menjelang PHK sebagai “28 days of hell,” menggambarkan tekanan mental saat menunggu keputusan siapa yang akan kehilangan pekerjaan.
Selain itu, dorongan besar Meta terhadap AI juga membawa tekanan baru. Insinyur dilaporkan diminta cepat mengadopsi alat AI dan menghasilkan output lebih cepat dari sebelumnya.
Stack ranking sebenarnya bukan konsep baru. Variasi sistem ini pernah digunakan oleh perusahaan besar seperti Microsoft dan General Electric.
Namun di perusahaan teknologi modern yang sangat bergantung pada kolaborasi, banyak yang menilai sistem ini punya efek samping serius. Kritik yang sering muncul antara lain:
Beberapa karyawan yang terkena PHK sebelumnya bahkan mengatakan mereka terkejut karena sebelumnya menerima penilaian kinerja positif.
Meta sendiri membantah tuduhan bahwa penilaian kinerja dimanipulasi untuk membenarkan PHK, dan menyatakan bahwa rating tidak diturunkan secara sengaja untuk mempermudah pemotongan karyawan.
Kontroversi di Meta juga mencerminkan perubahan besar di industri teknologi. Setelah bertahun‑tahun perekrutan agresif dan fasilitas kerja yang sangat kompetitif, banyak perusahaan kini memperketat standar performa sekaligus mengurangi jumlah karyawan.
Ketika investasi bergeser ke infrastruktur dan riset AI, sejumlah pekerja teknologi mulai merasa peran tradisional mereka menjadi kurang aman.
Diskusi di forum seperti Blind dan media sosial menunjukkan meningkatnya frustrasi terkait tekanan kerja dan PHK di seluruh sektor teknologi.
Pada akhirnya, kontroversi stack ranking di Meta memunculkan pertanyaan yang lebih besar: bagaimana perusahaan teknologi raksasa bisa menjaga standar performa tinggi tanpa merusak budaya kerja dan kolaborasi tim.
Studio Global AI
Use this topic as a starting point for a fresh source-backed answer, then compare citations before you share it.
Sistem evaluasi “stack ranking” di Meta membandingkan karyawan satu sama lain dan dapat menempatkan sebagian orang ke kategori performa rendah, yang menurut kritik memicu kompetisi internal dan berpotensi berujung PHK...
Sistem evaluasi “stack ranking” di Meta membandingkan karyawan satu sama lain dan dapat menempatkan sebagian orang ke kategori performa rendah, yang menurut kritik memicu kompetisi internal dan berpotensi berujung PHK... Kontroversi memuncak setelah mantan insinyur Jeremy Bernier menyebut sistem tersebut “absolute cancer” dan mengatakan di PHK terasa seperti kembali ke “peradaban modern.”[3][7]
Perdebatan muncul ketika Meta dilaporkan memangkas sekitar 8.000 pekerjaan sambil mengalihkan lebih banyak sumber daya ke pengembangan AI, menciptakan suasana kerja yang disebut karyawan penuh kecemasan dan ketidakpas...