Di tengah tekanan ini, muncullah Sawit EcoTherm: cairan pendingin rendaman (immersion cooling) berbasis minyak sawit yang dikembangkan oleh Malaysian Palm Oil Board (MPOB). Teknologi ini menjanjikan pendinginan server tanpa menghabiskan setetes pun air. Namun, di balik pemberitaan yang heboh, kenyataannya teknologi ini belum dikomersialkan, dan para pegiat lingkungan menyuarakan kekhawatiran tajam tentang dampak skalanya terhadap hutan dan lahan gambut Malaysia.
Sawit EcoTherm adalah cairan dielektrik (tidak menghantarkan listrik) yang diformulasikan dari fraksi minyak sawit oleh Divisi Teknologi Oleokimia Termaju MPOB . Cairan ini dirancang untuk sistem pendinginan rendaman fase tunggal (single-phase immersion cooling): server langsung direndam dalam cairan yang menyerap panas dalam sistem sirkulasi tertutup. Tidak ada menara pendingin evaporatif, tidak ada kipas, dan yang terpenting — tidak ada konsumsi air sama sekali .
Cairan ini memiliki kekuatan dielektrik yang tinggi, titik nyala (flash point) yang tinggi, bebas dari bahan kimia PFAS, dan mengandung hingga 95% bahan baku hayati . Petugas riset senior MPOB, Dr. Noor Khairin Mohd, kepada Bernama mengatakan bahwa teknologi ini menawarkan "solusi pendinginan bebas air" yang juga bisa mengurangi konsumsi energi hingga 30–50% .
Perkiraan memang bervariasi, tapi semuanya mengarah pada satu kesimpulan: permintaan yang sangat besar dan terus meningkat.
Angka-angka ini sudah memicu tindakan regulasi. Pada akhir tahun 2025, pemerintah negara bagian Johor mengumumkan akan menghentikan persetujuan untuk pusat data Tier 1 dan Tier 2, yang masing-masing bisa menghabiskan hingga 50 juta liter air per hari . Tarif air khusus sebesar RM5,33/m³ untuk pusat data mulai berlaku pada Agustus 2025 .
Sawit EcoTherm telah dikembangkan dan diuji di lingkungan konsep atau operasional, tetapi belum tersedia secara komersial . Dr. Noor Khairin menyatakan bahwa MPOB sedang "menyempurnakan" cairan ini, dan pengaturan lisensi dengan produsen dalam negeri dikabarkan sedang diupayakan . Belum ada jadwal publik yang diumumkan untuk produksi komersial penuh atau adopsi oleh operator pusat data.
Meskipun Sawit EcoTherm menawarkan solusi teknis untuk masalah kelangkaan air, para ahli lingkungan memperingatkan bahwa jika diproduksi secara massal, masalahnya bisa bergeser dari air ke lahan .
Deforestasi dan hilangnya keanekaragaman hayati — Jika permintaan cairan pendingin melebihi pasokan dari perkebunan yang sudah ada, perkebunan baru bisa meluas ke hutan hujan tropis dan lahan gambut. Di Kalimantan, lebih dari 5,4 juta hektar tutupan hutan hilang dalam dua dekade terakhir, dan perluasan perkebunan sawit diidentifikasi sebagai penyebab utamanya . Sebuah investigasi Mongabay pada tahun 2026 melaporkan bahwa sebuah perusahaan sawit membuka lahan lebih dari 3.000 hektar hutan di dalam cagar biosfer UNESCO di Kalimantan, Indonesia, yang mengancam habitat orangutan .
Tekanan penggunaan lahan — Perluasan perkebunan untuk bahan baku cairan pendingin akan bersaing dengan lahan yang sudah digunakan untuk produksi pangan, kosmetik, dan bahan bakar nabati, sehingga menambah tekanan pada sumber daya lahan dan air . Luas perkebunan sawit di Indonesia sendiri sudah mencapai 16,8 juta hektar .
Akuntabilitas rantai pasok — Manfaat lingkungan bersih dari Sawit EcoTherm sangat bergantung pada apakah bahan baku minyak sawit dapat disertifikasi sebagai produk yang berkelanjutan dan dapat dilacak. Tanpa sertifikasi yang kuat, solusi ini hanya akan mengalihkan beban lingkungan dari konsumsi air menjadi deforestasi dan emisi karbon .
Sawit EcoTherm adalah inovasi teknis yang menjanjikan untuk mengatasi krisis air yang nyata. Namun, kredibilitas ekologisnya bergantung pada sumber daya yang berkelanjutan dan ketat — sebuah syarat yang menurut para ahli sulit dijamin jika produksi dilakukan dalam skala besar. Di tengah percepatan pembangunan pusat data di Malaysia, pertanyaannya bukan hanya apakah minyak sawit bisa mendinginkan server, tetapi juga apakah solusi ini berisiko menimbulkan masalah baru yang lebih besar.
Di tengah tekanan ini, muncullah Sawit EcoTherm: cairan pendingin rendaman (immersion cooling) berbasis minyak sawit yang dikembangkan oleh Malaysian Palm Oil Board (MPOB). Teknologi ini menjanjikan pendinginan server tanpa menghabiskan setetes pun air. Namun, di balik pemberitaan yang heboh, kenyataannya teknologi ini belum dikomersialkan, dan para pegiat lingkungan menyuarakan kekhawatiran tajam tentang dampak skalanya terhadap hutan dan lahan gambut Malaysia.
Sawit EcoTherm adalah cairan dielektrik (tidak menghantarkan listrik) yang diformulasikan dari fraksi minyak sawit oleh Divisi Teknologi Oleokimia Termaju MPOB . Cairan ini dirancang untuk sistem pendinginan rendaman fase tunggal (single-phase immersion cooling): server langsung direndam dalam cairan yang menyerap panas dalam sistem sirkulasi tertutup. Tidak ada menara pendingin evaporatif, tidak ada kipas, dan yang terpenting — tidak ada konsumsi air sama sekali .
Cairan ini memiliki kekuatan dielektrik yang tinggi, titik nyala (flash point) yang tinggi, bebas dari bahan kimia PFAS, dan mengandung hingga 95% bahan baku hayati . Petugas riset senior MPOB, Dr. Noor Khairin Mohd, kepada Bernama mengatakan bahwa teknologi ini menawarkan "solusi pendinginan bebas air" yang juga bisa mengurangi konsumsi energi hingga 30–50% .
Perkiraan memang bervariasi, tapi semuanya mengarah pada satu kesimpulan: permintaan yang sangat besar dan terus meningkat.
Angka-angka ini sudah memicu tindakan regulasi. Pada akhir tahun 2025, pemerintah negara bagian Johor mengumumkan akan menghentikan persetujuan untuk pusat data Tier 1 dan Tier 2, yang masing-masing bisa menghabiskan hingga 50 juta liter air per hari . Tarif air khusus sebesar RM5,33/m³ untuk pusat data mulai berlaku pada Agustus 2025 .
Sawit EcoTherm telah dikembangkan dan diuji di lingkungan konsep atau operasional, tetapi belum tersedia secara komersial . Dr. Noor Khairin menyatakan bahwa MPOB sedang "menyempurnakan" cairan ini, dan pengaturan lisensi dengan produsen dalam negeri dikabarkan sedang diupayakan . Belum ada jadwal publik yang diumumkan untuk produksi komersial penuh atau adopsi oleh operator pusat data.
Meskipun Sawit EcoTherm menawarkan solusi teknis untuk masalah kelangkaan air, para ahli lingkungan memperingatkan bahwa jika diproduksi secara massal, masalahnya bisa bergeser dari air ke lahan .
Deforestasi dan hilangnya keanekaragaman hayati — Jika permintaan cairan pendingin melebihi pasokan dari perkebunan yang sudah ada, perkebunan baru bisa meluas ke hutan hujan tropis dan lahan gambut. Di Kalimantan, lebih dari 5,4 juta hektar tutupan hutan hilang dalam dua dekade terakhir, dan perluasan perkebunan sawit diidentifikasi sebagai penyebab utamanya . Sebuah investigasi Mongabay pada tahun 2026 melaporkan bahwa sebuah perusahaan sawit membuka lahan lebih dari 3.000 hektar hutan di dalam cagar biosfer UNESCO di Kalimantan, Indonesia, yang mengancam habitat orangutan .
Tekanan penggunaan lahan — Perluasan perkebunan untuk bahan baku cairan pendingin akan bersaing dengan lahan yang sudah digunakan untuk produksi pangan, kosmetik, dan bahan bakar nabati, sehingga menambah tekanan pada sumber daya lahan dan air . Luas perkebunan sawit di Indonesia sendiri sudah mencapai 16,8 juta hektar .
Akuntabilitas rantai pasok — Manfaat lingkungan bersih dari Sawit EcoTherm sangat bergantung pada apakah bahan baku minyak sawit dapat disertifikasi sebagai produk yang berkelanjutan dan dapat dilacak. Tanpa sertifikasi yang kuat, solusi ini hanya akan mengalihkan beban lingkungan dari konsumsi air menjadi deforestasi dan emisi karbon .
Sawit EcoTherm adalah inovasi teknis yang menjanjikan untuk mengatasi krisis air yang nyata. Namun, kredibilitas ekologisnya bergantung pada sumber daya yang berkelanjutan dan ketat — sebuah syarat yang menurut para ahli sulit dijamin jika produksi dilakukan dalam skala besar. Di tengah percepatan pembangunan pusat data di Malaysia, pertanyaannya bukan hanya apakah minyak sawit bisa mendinginkan server, tetapi juga apakah solusi ini berisiko menimbulkan masalah baru yang lebih besar.