Meski demikian, JPMorgan mengidentifikasi adanya kekurangan dana signifikan sekitar $1,4 triliun yang kemungkinan harus dipenuhi melalui kredit privat dan bahkan pendanaan dari pemerintah . Untuk tahun 2026 saja, bank tersebut memproyeksikan rekor penerbitan obligasi korporasi AS senilai $1,81 triliun, melampaui rekor sebelumnya $1,76 triliun pada tahun 2020
.
Skala pergeseran ini sudah mulai terukur. Morgan Stanley memperkirakan penerbitan utang global terkait AI mencapai hampir $236 miliar hanya dalam lima bulan pertama tahun 2026—melonjak empat kali lipat dibandingkan periode yang sama di tahun 2025 . Untuk setahun penuh, bank tersebut memproyeksikan total penerbitan utang terkait AI akan mencapai sekitar $570 miliar, lebih dari dua kali lipat total yang dihimpun pada tahun 2025
.
Pada Oktober 2025, utang terkait AI bahkan telah melampaui bank-bank AS sebagai segmen terbesar di pasar obligasi peringkat investasi, mewakili 14% dari indeks J.P. Morgan US Liquid . Bagi investor biasa yang memiliki reksa dana indeks dan reksa dana berbasis target di dalam rekening pensiun, pembangunan AI ini bukan lagi sekadar cerita pasar saham—ia menjelma menjadi posisi terbesar dalam portofolio obligasi mereka
.
Di tengah pusaran utang ini, ada satu pertanyaan penting yang menggantung: apakah pendapatannya akan pernah datang? Analis JPMorgan telah membuat model tingkat pengembalian yang dibutuhkan dan menyimpulkan bahwa industri AI harus menghasilkan sekitar $650 miliar pendapatan tahunan secara permanen hanya untuk mencapai tingkat pengembalian internal (IRR) yang moderat sebesar 10% .
Bank itu menerjemahkan angka tersebut ke dalam istilah yang lebih mudah dipahami konsumen: setara dengan 0,58% dari PDB global, atau kira-kira sekitar $35 per bulan (sekitar Rp 570.000) dari setiap pengguna iPhone yang aktif, atau $180 per bulan (sekitar Rp 2,9 juta) dari setiap pelanggan Netflix, setiap tahun, selamanya .
Ini bukanlah vonis bahwa investasi AI akan gagal. Ini adalah ambang batas yang harus dilampaui. Tim manajemen aset JPMorgan sendiri berpendapat bahwa menggunakan pasar obligasi untuk mendanai capex AI jangka panjang adalah keputusan yang rasional, bukan sinyal tekanan keuangan, karena memungkinkan perusahaan menyelaraskan aset jangka panjang dengan kewajiban jangka panjang .
Namun, angka-angkanya kini berbicara sendiri. Modal telah dikomitmenkan. Obligasi sedang dijual. Dan target pendapatan bukan lagi sekadar latihan teoretis—ia adalah tolok ukur yang akan digunakan untuk menilai setiap langganan AI, lisensi perusahaan, dan dolar iklan hingga akhir dekade ini.
Comments
0 comments