Analis kripto Benjamin Cowen menggambarkan kondisi saat ini sebagai fase “slow bleed”—situasi ketika harga perlahan melemah atau bergerak sideways dalam waktu lama, bukan jatuh tajam secara tiba‑tiba.
Dalam kerangka analisis Cowen, indikator paling penting saat ini adalah moving average 50 minggu.
Secara historis, garis ini sering berfungsi sebagai support utama selama bull market. Menurut Cowen, Bitcoin perlu mencatat penutupan mingguan yang konsisten di atas level tersebut untuk membatalkan skenario bearish.
Jika tidak berhasil, pasar bisa tetap lemah dalam waktu lama sambil menunggu kondisi makro—seperti likuiditas global—membaik.
Dalam beberapa skenario yang ia paparkan, dasar bear market bahkan bisa terbentuk lebih lambat pada tahun 2026, mengikuti pola koreksi setelah siklus sebelumnya.
Walaupun harga terlihat lemah, data dari pasar derivatif justru memberikan gambaran yang berbeda: trader tampaknya sudah sangat berhati‑hati.
Menurut laporan K33 Research, beberapa indikator menunjukkan bahwa leverage dan spekulasi bullish telah banyak berkurang dari pasar.
Contohnya:
Kondisi ini menunjukkan banyak trader memilih mengurangi risiko atau menutup posisi, bukan membuka taruhan agresif pada kenaikan harga.
Selain itu, indikator seperti CME futures basis juga turun ke level yang relatif rendah secara historis, menandakan minat spekulatif yang sedang lesu.
Menurut Vetle Lunde dari K33 Research, situasi ini berbeda dari banyak crash sebelumnya. Pada siklus terdahulu, penurunan besar biasanya didahului oleh posisi long berleverage yang terlalu padat, yang kemudian memicu likuidasi berantai.
Dalam siklus kali ini, data derivatif justru mencerminkan apa yang ia sebut sebagai “sentimen yang sangat pesimis.”
Beberapa indikator on‑chain juga menunjukkan bahwa pasar sedang mengalami tekanan khas fase akhir siklus.
K33 mencatat bahwa realized profit di jaringan Bitcoin telah turun tajam, menandakan semakin sedikit investor yang menjual dengan keuntungan.
Hal ini menunjukkan aktivitas pengambilan profit mulai mendingin.
Pada saat yang sama, proporsi supply yang dimiliki pemegang jangka panjang yang masih berada dalam kondisi profit juga menurun dibandingkan tahap awal siklus.
Pola seperti ini biasanya muncul ketika pasar mulai menyerap kerugian dan sentimen investor memburuk.
Meski demikian, indikator‑indikator ini tidak otomatis berarti pasar sudah mencapai dasar. Namun secara historis, kondisi semacam ini lebih sering terlihat di fase akhir bear market dibandingkan saat puncak spekulatif.
K33 berpendapat bahwa struktur penurunan kali ini berbeda dari crash kripto sebelumnya.
Bear market besar pada tahun 2014, 2018, dan 2022 sebagian besar dipercepat oleh leverage tinggi dan likuidasi paksa di pasar derivatif.
Artinya:
Di sisi lain, posisi pasar yang terlalu defensif dapat menciptakan kondisi untuk rebound tajam jika Bitcoin berhasil menembus kembali level teknikal penting.
Sebagian besar analis sepakat bahwa arah besar Bitcoin berikutnya akan bergantung pada apakah harga dapat merebut kembali indikator tren jangka panjang.
Level yang paling sering disebut antara lain:
Jika Bitcoin tetap berada di bawah level‑level tersebut, pasar bisa terus bergerak sideways atau perlahan turun selama berbulan‑bulan.
Namun jika BTC berhasil kembali bertahan di atasnya secara konsisten, posisi bearish yang saat ini mendominasi bisa terpaksa ditutup—yang berpotensi memicu reli pemulihan yang kuat.
Bear market Bitcoin saat ini menampilkan dua sinyal yang saling bertentangan.
Di satu sisi, struktur harga masih lemah setelah penolakan di moving average 200 hari. Beberapa analis bahkan memperkirakan pasar bisa tetap lesu hingga 2026 jika level tren utama tidak berhasil direbut kembali.
Di sisi lain, data derivatif dan sentimen menunjukkan tingkat pesimisme yang sangat tinggi—kondisi yang dalam beberapa siklus sebelumnya justru muncul mendekati dasar pasar.
Kontradiksi inilah yang kemungkinan akan menentukan dinamika pasar Bitcoin dalam beberapa bulan ke depan.
Comments
0 comments