Dengan pendekatan ini, Airbus mencoba menekan biaya overhead tanpa menghambat upaya peningkatan produksi pesawat.
Pemicu utamanya adalah masalah rantai pasok global yang masih berlangsung, terutama kekurangan mesin dan komponen penting lainnya.
Masalah tersebut paling terasa pada keluarga pesawat A320neo, model paling laris Airbus. Produksi pesawat ini tersendat karena keterlambatan pasokan mesin, khususnya mesin geared turbofan dari Pratt & Whitney. Akibatnya, sejumlah pesawat sudah selesai dirakit tetapi belum bisa dikirim karena masih menunggu mesin.
Dampaknya terlihat pada kinerja awal tahun. Pada kuartal pertama 2026, Airbus hanya mengirimkan 114 pesawat komersial, turun dari 136 pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan juga turun 7% menjadi €12,7 miliar, sementara EBIT yang disesuaikan merosot menjadi sekitar €300 juta.
Selain itu, Airbus mencatat arus kas bebas negatif sekitar €2,5 miliar sebelum pembiayaan pelanggan pada Q1. Kondisi ini sebagian besar disebabkan oleh penumpukan inventaris pesawat yang belum dapat dikirim karena komponen yang terlambat.
Pemotongan pengeluaran baru ini bukan pengganti program efisiensi Airbus sebelumnya yang bernama LEAD.
Program LEAD diluncurkan untuk meningkatkan disiplin biaya dan produktivitas di seluruh organisasi. Kebijakan pengurangan 10% ini pada dasarnya menjadi lapisan tambahan pengendalian biaya di atas program tersebut, karena peningkatan produksi yang diharapkan sebelumnya ternyata berjalan lebih lambat akibat masalah rantai pasok.
Bahkan sebelum kebijakan terbaru ini, Airbus sudah mulai mengurangi perjalanan internal dan acara perusahaan sebagai bagian dari strategi efisiensi yang lebih luas.
Walaupun awal tahun berjalan cukup berat, Airbus belum mengubah proyeksi kinerja tahun penuh 2026. Perusahaan masih menargetkan kira‑kira:
Mempertahankan target tersebut menunjukkan bahwa Airbus berharap rantai pasok akan membaik pada paruh kedua tahun ini. Pengetatan biaya dilakukan agar perusahaan tetap bisa menjaga profitabilitas dan arus kas, bahkan jika pengiriman pesawat masih tidak stabil dalam jangka pendek.
Langkah Airbus mencerminkan kondisi yang sedang terjadi di seluruh industri penerbangan: permintaan pesawat sangat tinggi, tetapi kapasitas produksi masih tertahan oleh masalah rantai pasok.
Produsen pesawat memiliki backlog pesanan yang sangat besar. Namun kekurangan mesin, komponen, tenaga kerja terampil, dan bahan baku membuat produksi tidak bisa meningkat secepat yang diinginkan.
Akibatnya, perusahaan seperti Airbus semakin mengandalkan disiplin biaya dan efisiensi operasional untuk menjaga kinerja keuangan sambil menunggu rantai pasok global kembali stabil.
Bagi maskapai, situasi ini berarti jadwal pengiriman pesawat masih bisa berubah‑ubah. Bagi pemasok, tekanan untuk meningkatkan produksi semakin besar. Sementara bagi investor, kinerja Airbus pada 2026 kemungkinan besar akan ditentukan bukan oleh permintaan pasar—yang masih kuat—melainkan oleh seberapa cepat rantai pasok bisa mengejar kebutuhan produksi.
Comments
0 comments