Para profesional muda China seperti Alice Zheng, mantan pemeriksa pinjaman bank di Shenzhen, memilih keluar dari pekerjaan korporat yang melelahkan untuk pindah ke kota kecil seperti Mengzi, Yunnan, di mana sewa apart... Fenomena 'lying flat' atau 'tang ping' didorong oleh kombinasi budaya kerja '996' yang melelahka...

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: What is driving young Chinese white-collar workers like former bank loan reviewer Alice Zheng to quit stressful corporate jobs in megacities. Article summary: Young Chinese white-collar workers are leaving megacity corporate jobs for smaller, cheaper towns due to a combination of burnout from intense work culture, the deflationary economics that make a low-expense lifestyle su. Topic tags: general, government, news, general web, user generated. Style: premium digital editorial illustration, source-backed research mood, clean composition, high detail, modern web publication hero. Use reference image context only for broad subject, composition, and topical grounding; do not copy the exact image. Avoid: logos, brand marks, copyrighted characters, real person likenesses, fake screenshots, UI text, readable text, watermar
Para pekerja kantoran muda China semakin banyak yang meninggalkan pekerjaan korporat di kota-kota metropolitan untuk pindah ke kota-kota kecil yang lebih murah. Kekuatan pendorongnya adalah kombinasi dari kelelahan akibat budaya kerja yang intens, kondisi ekonomi deflasi yang membuat gaya hidup berbiaya rendah menjadi berkelanjutan, dan pasar kerja perkotaan yang memburuk, dimana kerja keras tidak lagi menjamin imbalan. Berikut interaksi faktor-faktor kuncinya.
Kisah Alice Zheng adalah representasinya. Setelah lima tahun bekerja sebagai pemeriksa pinjaman bank di Shenzhen, dia berhenti pada tahun 2021 karena jam kerja panjang, hierarki perusahaan yang kaku, serta kelelahan fisik dan emosional. Dia kini tinggal di Mengzi, Yunnan, dan Jiujiang, hidup dari tabungan dan sesekali mengajar bahasa Inggris lepas. Ia adalah bagian dari tren "lying flat" (tang ping), sebuah penolakan terhadap persaingan berlebihan dan konsumerisme yang telah berkembang sejak 2021 .
Penolakan terhadap eskalasi karir kini meluas. Sebuah survei tahun 2025 oleh Zhaopin dan Universitas Peking menemukan bahwa 68% profesional perkotaan berusia 22–30 tahun secara aktif menghindari perusahaan yang mengiklankan lingkungan kerja 'berketahanan tinggi' atau 'cepat' . Pekerja muda kini mencari "jam kerja inti yang fleksibel" dan "tanpa DM di akhir pekan" sebagai ganti promosi
. Hampir 60% pekerja berusia 30 tahun ke bawah menolak posisi manajerial sama sekali
.
Kondisi ekonomi China membuat perhitungan untuk berhenti bekerja menjadi masuk akal:
Pasar kerja perkotaan tidak hanya penuh tekanan, tetapi juga menyusut:
Kombinasi kekuatan ini saling memperkuat:
Tren ini cukup besar sehingga media domestik kini memberitakannya sebagai gelombang yang digerakkan sendiri. Sebagai tanda kekhawatiran pemerintah, Kementerian Keamanan Negara China telah menyalahkan 'kekuatan asing' karena mendorong anak muda untuk menjauh dari pekerjaan, yang mengindikasikan bahwa eksodus 'lying flat' dipandang sebagai tantangan nyata bagi model pertumbuhan negara .
Studio Global AI
Use this topic as a starting point for a fresh source-backed answer, then compare citations before you share it.
Para profesional muda China seperti Alice Zheng, mantan pemeriksa pinjaman bank di Shenzhen, memilih keluar dari pekerjaan korporat yang melelahkan untuk pindah ke kota kecil seperti Mengzi, Yunnan, di mana sewa apart...
Para profesional muda China seperti Alice Zheng, mantan pemeriksa pinjaman bank di Shenzhen, memilih keluar dari pekerjaan korporat yang melelahkan untuk pindah ke kota kecil seperti Mengzi, Yunnan, di mana sewa apart... Fenomena 'lying flat' atau 'tang ping' didorong oleh kombinasi budaya kerja '996' yang melelahkan, inflasi rendah yang menjaga daya beli tabungan, dan pasar kerja perkotaan yang menyusut dimana upah tidak sebanding de...
Pemerintah China melalui Kementerian Keamanan Negara telah menyalahkan 'kekuatan asing' sebagai dalang di balik tren 'lying flat', menandakan kekhawatiran rezim terhadap dampaknya pada model pertumbuhan ekonomi negara.