Beberapa laporan bahkan menunjukkan bahwa hanya tiga perusahaan chip Asia—TSMC, Samsung, dan SK Hynix—yang memainkan peran sangat besar dalam membawa saham EM ke rekor baru.
Konsentrasi ini membuat performa indeks terlihat lebih kuat daripada kondisi ekonomi sebenarnya di banyak negara berkembang.
Sementara saham semikonduktor melonjak, sejumlah sektor lain di emerging markets menghadapi tantangan seperti:
Akibatnya, reli ini sering disebut sebagai “narrow rally”—kenaikan pasar yang dipimpin oleh sedikit perusahaan besar, bukan oleh kekuatan ekonomi yang merata.
Pada saat yang sama, lingkungan makro global menjadi lebih sulit.
Konflik yang melibatkan Iran dan gangguan di sekitar Selat Hormuz, salah satu jalur pengiriman energi paling penting di dunia, telah mendorong harga minyak global kembali di atas US$100 per barel.
Dampaknya terhadap negara emerging market tidak sama.
Negara pengekspor minyak dapat memperoleh keuntungan karena:
Sebaliknya, negara pengimpor minyak menghadapi tekanan ekonomi yang lebih besar akibat biaya impor energi yang naik.
Contohnya, laporan pasar menunjukkan bahwa saham di India melemah karena kekhawatiran terhadap harga minyak dan konflik Timur Tengah, sementara pasar Asia yang didominasi perusahaan semikonduktor tetap menguat.
Harga energi yang tinggi juga mendorong inflasi.
Ketika minyak naik, biaya transportasi, listrik, dan produksi pangan biasanya ikut meningkat. Di banyak negara berkembang, hal ini dapat mendorong inflasi melampaui target bank sentral.
Jika inflasi tetap tinggi, bank sentral mungkin harus:
Kondisi ini dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi domestik, terutama di sektor yang sensitif terhadap suku bunga seperti properti dan konsumsi.
Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi global juga memberi tekanan tambahan. Ketika suku bunga di negara maju meningkat, investor sering memindahkan dana dari emerging markets ke aset yang dianggap lebih aman.
Guncangan harga minyak bahkan telah memperlebar spread obligasi pemerintah di beberapa negara berkembang—tanda bahwa biaya pinjaman mereka meningkat.
Meski pasar saham terlihat kuat, prospek ekonomi emerging markets sebenarnya cukup beragam.
Dana Moneter Internasional (IMF) telah menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi negara berkembang pada 2026 menjadi sekitar 3,9%, dengan alasan kenaikan harga energi dan ketidakpastian geopolitik.
Artinya, reli saham yang dipimpin oleh sektor AI bisa saja tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi ekonomi riil di banyak negara berkembang.
Beberapa faktor akan menentukan apakah reli ini bisa bertahan.
Risiko konsentrasi — Kinerja indeks EM sangat bergantung pada beberapa saham semikonduktor. Jika permintaan AI melambat, dampaknya bisa besar pada indeks.
Risiko energi dan geopolitik — Konflik berkepanjangan di Timur Tengah atau gangguan lebih lanjut di Selat Hormuz dapat mendorong harga minyak lebih tinggi.
Risiko kebijakan moneter — Inflasi yang tetap tinggi bisa memaksa bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Risiko mata uang dan pendanaan — Kenaikan yield global dapat memperkuat dolar AS dan meningkatkan biaya pembiayaan bagi negara berkembang.
Reli saham emerging markets pada 2026 lebih mencerminkan boom investasi global pada AI daripada perbaikan ekonomi yang luas di negara berkembang.
Selama permintaan chip AI tetap kuat, perusahaan semikonduktor Asia kemungkinan masih menjadi pendorong utama pasar. Namun keberlanjutan reli ini akan sangat bergantung pada apakah pendapatan perusahaan chip terus memenuhi ekspektasi—dan apakah tekanan dari minyak, inflasi, serta suku bunga global dapat dikendalikan.
Comments
0 comments