Rupiah Indonesia menyentuh titik terendah sepanjang masa di Rp18.000 per dolar AS pada Juni 2026, kehilangan lebih dari 7% tahun ini, sementara won Korea Selatan merosot ke level terlemah 17 tahun di dekat 1.516 per d... Bagi Indonesia, melonjaknya harga minyak dunia menggerus surplus perdagangan negara tepat saat c...

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: What is causing the Indonesian rupiah and South Korean won to hit multi-year lows, and how are authorities responding?. Article summary: ## Indonesian Rupiah. Topic tags: general, general web, user generated. Reference image context from search candidates: Reference image 1: visual subject "The Indonesian rupiah hit a record low while the South Korean won slid to levels not seen since 2009, forcing both central banks into aggressive intervention mode. As of June 4, 20" source context "Korea and Indonesia ramp up currency defense amid high energy costs and Fed rate bets" Reference image 2: visual subject "Stay signed in to save the points you've earned. Click on the points to redeem your rewards at Nexus before they expire. # Indonesia rupiah opens at all-time low, South Korean won" source context "Indonesia rupiah op
Pasar mata uang Asia kini menyalakan lampu peringatan yang melampaui sekadar penguatan dolar biasa. Di Indonesia, rupiah telah menembus batas psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), menjadikannya mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan dengan kerugian tahunan lebih dari 7% . Beberapa ribu kilometer di utara, won Korea Selatan telah ambruk ke level terlemahnya dalam 17 tahun, menyentuh sekitar 1.516 per dolar pada Maret 2026, ketika kombinasi kekuatan struktural dan siklus membanjiri para pembuat kebijakan
.
Penurunan ini bukan sekadar kisah tentang greenback yang perkasa. Ini adalah gambaran dari rusaknya hubungan fundamental antara guncangan global dan mata uang negara berkembang. Bagi Jakarta dan Seoul, perangkat pertahanan tradisional terbukti tidak lagi memadai.
Kejatuhan rupiah ke titik terendah sepanjang masa di Rp18.000 pada 4 Juni 2026, berakar pada kerentanan yang menyakitkan: Indonesia adalah importir minyak bersih, dan dunia sedang dicekik oleh guncangan pasokan energi . Perang yang sedang berlangsung di Iran telah melumpuhkan pasokan global, mendorong harga minyak melambung. Hingga awal Juni, minyak mentah Brent diperdagangkan di sekitar $97 per barel, melambungkan biaya impor energi Indonesia secara dramatis
.
Guncangan harga minyak ini hampir sepenuhnya menghapus surplus perdagangan negara. Data awal Juni menunjukkan surplus hampir menguap pada April 2026 karena biaya impor minyak dan gas meroket . Pukulan terhadap neraca berjalan ini telah menghancurkan kepercayaan investor, terutama karena memperparah kekhawatiran yang sudah mengendap tentang disiplin fiskal pemerintah dan arah kebijakan ekonomi
. Sejak Presiden Prabowo Subianto menjabat pada Oktober 2024, rupiah telah terdepresiasi lebih dari 14%
.
Krisis ini juga menelanjangi batas kapasitas intervensi Bank Indonesia (BI). Antara Desember 2025 dan April 2026, cadangan devisa bank sentral merosot $10,27 miliar menjadi $146,20 miliar, seiring pembuat kebijakan membakar dolar untuk memperlambat penurunan mata uang . Pada kuartal pertama 2026, cadangan berada di titik terendah sejak Juli 2024
.
Menghadapi kekalahan historis, BI meninggalkan langkah gradual. Bank sentral mengerek suku bunga 50 basis poin pada rapat kebijakan reguler Mei, lalu mengejutkan pasar dengan kenaikan tambahan di luar jadwal sebesar 25 basis poin, mengangkat suku bunga acuan menjadi 5,5% untuk menarik modal dan membela mata uang . Secara bersamaan, otoritas telah memperketat regulasi valuta asing untuk ketiga kalinya dalam dua bulan demi mengekang permintaan dolar spekulatif
. Buku pedoman stabilisasi pasar negara berkembang lama dikerahkan secara agresif, tetapi skala tekanan eksternal yang besar berarti rupiah terus menjelajahi titik nadir baru
.
Won Korea Selatan berada di bawah tekanan yang berbeda tetapi sama ganasnya. Pada Maret 2026, mata uang ini terjun ke level terlemah dalam 17 tahun, mendekati 1.516 per dolar, sebelum menetap di sekitar 1.514 pada Mei . Tidak seperti rupiah, won tidak runtuh karena defisit perdagangan. Korea Selatan menjalankan surplus perdagangan yang substansial. Kerusakan terjadi pada neraca modal.
Pendorong paling kasat mata adalah kemunculan apa yang disebut "semut seohak"—legiun investor ritel Korea yang telah membanjiri modal dalam jumlah besar ke ekuitas luar negeri, terutama di Amerika Serikat . Arus keluar modal struktural ini menciptakan permintaan dolar yang persisten dan tak kenal ampun, melemahkan won tanpa memandang neraca perdagangan. Bank of Korea dan Korea Capital Market Institute telah mengidentifikasi pergeseran ini sebagai faktor struktural inti, yang sebagian didorong oleh populasi menua yang mencari imbal hasil lebih tinggi di luar negeri di tengah prospek pertumbuhan domestik yang melambat
.
Eksodus ritel ini diperkuat oleh rekor pelarian investor portofolio asing. Antara 3 Maret hingga akhir Maret 2026, investor asing menjual bersih 30,3 triliun won ($20,06 miliar) saham di pasar Kospi acuan, aksi jual yang disebut sebagai akselerator utama kejatuhan mata uang . Kekalahan ini mencerminkan pola pikir hindar risiko (risk-off) yang lebih luas terkait perang Timur Tengah dan pergeseran dari saham semikonduktor kapitalisasi besar Korea
.
Menambah kerentanan mata uang adalah ekspansi jumlah uang beredar domestik yang cepat, yang tumbuh pada laju tercepat dalam bertahun-tahun. Beberapa analis berpendapat bahwa kebijakan fiskal ekspansif telah menciptakan kelebihan likuiditas, dengan banyak likuiditas itu dikonversi menjadi dolar dan diinvestasikan kembali di Amerika Serikat ketimbang di ekonomi domestik Korea . Bank of Korea berada dalam posisi sulit di mana menaikkan suku bunga untuk membela mata uang dapat semakin mencekik ekonomi yang tumbuh pada estimasi IMF sebesar 0,9% pada 2025
.
Respons Seoul sejauh ini sangat bergantung pada retorika alih-alih aksi suku bunga drastis. Gubernur Bank of Korea Rhee Chang-yong berulang kali menyebut won "tidak selaras" (misaligned) dengan fundamental ekonomi Korea yang kuat, menandakan determinasi untuk mendukung stabilitas valas dan memperingatkan bank sentral akan memblokir investasi ke AS yang mengancam stabilitas . Departemen Keuangan AS bahkan turut angkat bicara menyatakan pelemahan tambahan won pada paruh kedua 2025 "tidak konsisten dengan fundamental ekonomi kuat Korea Selatan"
.
Pada akhir Desember 2025, otoritas mengerahkan intervensi verbal agresif untuk merekayasa pemantulan sementara . Pemerintah juga telah mengumumkan insentif pajak yang dirancang untuk memikat modal kembali ke dalam negeri, menawarkan keringanan atas keuntungan modal dari penjualan saham asing—asalkan hasilnya diinvestasikan kembali ke ekuitas domestik setidaknya selama satu tahun
. Sejauh ini, langkah-langkah ini hanya memberikan kelegaan sesaat melawan gelombang struktural arus keluar.
Studio Global AI
Use this topic as a starting point for a fresh source-backed answer, then compare citations before you share it.
Rupiah Indonesia menyentuh titik terendah sepanjang masa di Rp18.000 per dolar AS pada Juni 2026, kehilangan lebih dari 7% tahun ini, sementara won Korea Selatan merosot ke level terlemah 17 tahun di dekat 1.516 per d...
Rupiah Indonesia menyentuh titik terendah sepanjang masa di Rp18.000 per dolar AS pada Juni 2026, kehilangan lebih dari 7% tahun ini, sementara won Korea Selatan merosot ke level terlemah 17 tahun di dekat 1.516 per d... Bagi Indonesia, melonjaknya harga minyak dunia menggerus surplus perdagangan negara tepat saat cadangan devisa menyusut, memaksa kenaikan suku bunga agresif dan aturan valas yang lebih ketat yang belum mampu menghenti...
Bagi Korea, serbuan investor ritel ke bursa saham AS bertabrakan dengan rekor aksi jual asing dan ketidakstabilan Timur Tengah, menantang upaya Bank of Korea untuk 'berbicara' memulihkan nilai tukar.